Thursday, 7 November 2013

Tikde

Detik yang lalu
Kau, yang kutunggu tanpa jemu
Masih mematung di depan pintu
Seolah menungguku untuk membenarkan letak leher kemejamu
Terlalu

Detik kali ini
Kau pergi tiada permisi
Padahal belum sempat kubenarkan letak leher kemejamu dengan teliti
Kau beranjak, aku masih di sini
Kasihan sekali

Detik yang akan datang
Kau tak juga kelihatan
Akankah kau masih ingin memintaku membenarkan letak leher kemejamu, sayang?
Kau hilang, aku menunggumu pulang
Betapa malang

Ternyata, rindu sepihak lebih menyeramkan
Ketimbang menggigil di tengah malam sendirian


Semarang, 21 Oktober 2013
00:23 AM



Penulis:
Resla Aknaita Chak

Share:

Wednesday, 31 July 2013

[Cerpen] Potret Rasa


Gadis itu masih disana. Menatap lurus di hamparan jauh, bening, dan biru. Indah, tak terkira indahnya. Inilah yang selalu kutunggu, pagi-siang-sore-malam.

                “Cekrik!”

                Aku mulai memotretnya.

                Ia object abadi yang selalu kunanti. Tak peduli dari pagi higga pagi lagi.

                “Kinar!” seorang laki-laki dari arah jam dua dari tempatku berdiri sekarang memangilnya. Kulihat Kinar tersenyum pada lelaki itu lalu melambaikan tangannya. Mereka semakin dekat, kemudian saling berbincang. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi ini pasti akan lama. Ah, sial.

                “Peng-gang-gu,”

                Kataku pelan menuju ke tempatku duduk tadi, menatap mereka yang sedang asyik berbincang. Kutengguk sisa tengguk kopiku sambil melihat-lihat hasil jepretanku hari ini.

                “Hanya dapat satu foto Kinar, dan…” aku mengernyitkan dahi, menatap bingung pada beberapa hasil jepretanku yang lainnya, “mana mungkin bisa?”


* * *

Masih sangat pagi. Di tempat yang sama, kopi yang sama, kamera yang sama, dan menunggu object yang sama. Kinar.

Kinar. Sinarmu tak pernah kehilangan bingar. Hingar diantara yang paling hingar. Aku beruntung bisa menemukanmu ditengah-tengah sinar. Kamu terang. Sangat terang.

Aku tersenyum sendiri. Sampai akhirnya senyumku harus terhenti oleh tepukan mengagetkan dipundakku.

Aku menoleh. Kaget.

“Apa yang kamu cari dari aku?” katanya pelan.

“M….ma…mau duduk? Biar kupesankan minum.” Aku gugup. Bodoh sekali.

“Apa yang kamu cari dari aku?” tanpa menggubris pertanyaanku ia mengulangi peranyaannya.

“Sebuah peremanan,” jawabku kacau.

Ia mengernyitkan dahi.

“Aku Abi,” aku sudah lebih pede, kali ini plus dengan senyum terlebarku.

Aku mengulurkan tangan.

“Kinar,” singkat.

“Duduk?”

“Boleh,”

“Mau kopi?”

“Boleh,”

Ya Tuhan…. Ia terlalu singkat dan aku terlalu gugup.

“Silakan. Aku yang traktir,” dengan senyum termanisku aku meletakkan secangkir cappuccino dihadapannya.

“Thanks,” kali ini ia tersenyum, “Enak” lanjutnya setelah menyeruput seper-empat isi cangkir tersebut.

“Disini menu yang paling disukai sama pengunjung itu kopinya. Kopi apa saja. Makanya aku sering kesini,”

Ia hanya anggut-manggut.

Kembali hening.

Aku sibuk melihat-lihat hasil jepretanku kemarin untuk menghilangkan rasa grogi.

“Sudah berapa banyak?”

“Hm?” aku mengangkat wajah.

“Fotoku…”

“Oh…”

Matilah aku.

“Berapa?”

“Mau lihat?”

“Boleh..” katanya girang.

“Kamu penggemarku, ya?”

Aku diam.

“Hahahaha, becanda tauk, Bi.”

Ia menyeruput kopinya, kali ini lebih banyak, mungkin sisa seper-empat gelas.

“Fotonya bagus. Kamu fotografer?” lanjutnya.

Aku menggeleng.

“Amatir?”

Aku menggeleng lebih keras.

“Profesional, dong?”

Aku menggeleng lebih keras lagi. Kepalaku sakit.

“Tenang saja, Abi. Santai saja. Aku suka, kok, hasil foto kamu.”

“Kapan-kapan mau aku foto? Tapi nggak candid.”

“Tentu saja.”

Ia tersenyum. Aku menyeruput kopiku.

* * *

“Hai, Abi! Gimana?” katanya riang sambil berputar dihadapanku, memamerkan pakaiannya.

“Cantik,” kataku mantap, “Sangat cantik,” lanjutku dalam hati.

“Berangkat sekarang, Nar?” suara sedikit berat itu mengagetkanku, familiar. Oh, dia…. Ha? Dia? Kok bisa ada dirumah Kinar?

“Iya. Nih kenalin temen aku, namanya Abi. Abi ini Binar.”

“Hai,” kami berjabat angan. So sweet.

Bye, Binar.”

Di perjalanan, Kinar asyik dengan gadgetnya sedangkat aku asyik menyetir.

“Kring…!”

“Halo…?”

“Iya, lagi sama Abi. Sama Abi doing, kok. Berdua.”

“Iyaiya, bye..”

Kinar menutup telfonnya.

“Siapa, Nar?”

“Binar. Emang suka protective.

“Ohhh… pacar kamu, ya? Udah deket banget sama keluarga kamu kayaknya. Tuh, tadi, pagi-pagi udah dirumah kamu.”

“Hahaha. Bukan. Kakak aku. Sebenarnya, sih, kembar. Makanya nama kita juga hampir sama.”

“Saudara kembar?”

“Iya. Dia kakaknya, aku adiknya.”

“Oh…”

Lega.

“oh, iya. Dapat salam tadi dari Binar.”

Aku tersenyum.

* * *

Kembali ke pantai ini. Dengan secangkir kopi dan aktifitas monoton tentang Kinar. Aku kembali melihat-lihat hasil jepretanku dengan Kinar sebagai objectnya.

“Kinar… cantik, ceria, sederhana. Ini yang bikin aku jatuh cinta,” Kataku tersenyum.

“Abi? Jadi, kamu suka sama Kinar?”

“Bi..Binar… bukan…” aku gugup. Tak menyadari kalau sedari tadi Binar ada disekitarku.

“Kamu sudah gila?”

“Bukan… Bukan seperti itu,”

“Lalu apa?”

“Aku hanya senang menjadikannya object foto. Itu saja,”

“Aku masih muda dan aku belum tuli,”

“Tapi tuli bukan berdasarkan umur, Nar,”

“Jadi, menurutmu aku salah dengar?”

“Mungkin aku yang salah bicara,”

“Hati kamu yang salah,”

“Hati tak pernah salah,”

“Kamu mencintai Kinar,”

“Tidak,”

“Bohong,”

“Iya,”

Kami berdua terdiam.

“Abigail, sadar…”

Aku terdiam.

“Kamu dan KInar, sama-sama perempuan,”

Aku menunduk. Ada gumpalan air yang memaksa ingin keluar. Getir.

Aku mundur dua langkah. Menatap kea rah lelaki tegap didepanku.

“Apa aku salah?” aku menangis. Pertanyaan bodoh.

“Abi….” Ia mendekat.

“Stop,”

“Abi, dengerin aku…”

“Bukan aku yang pengen, Nar. Bukan. Aku udah nyoba buat nolak. Tapi penolakanku sia-sia. Ada sekelumit rindu yang muncul jika aku ak melihatnya. Ada secercah duka jika aku tak melihat senyumnya. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya.,” pipiku basah.

“Abi, mungkin ini buka cinta. Mungkin sejenis…kagum?”

“Kamu sendiri ragu, kan?”

“Aku bukan ragu, hanya bingung,”

Heh, sekarang kamu yang seperti kebakaran jenggot,” aku tersenyum kecut. Kecut sekali. Pikiranku sedang tak jernih. Marah kepada Binar, marah kepada diriku sendiri.

“Kamu nggak perlu nenangin aku,” lanjutku.

Aku melankah. Ketika hendak membereskan kamera dimejaku, Binar memelukku. Aku diam.

“Aku bisa yakinin ke kamu kalau itu Cuma −sekedar – rasa kagum,”

Heh, nggak perlu,” aku kembali menampakkan senyum kecutku dibalik pelukannya.

“Kasih aku waktu,”

“Lepasin,”

Ia melepaskan pelukannya. Aku membereskan kameraku, kemudian berlalu.

*  * *

“Abiiiiii, kamu kemana, sih?”

“Aku bikin salah, ya, Bi?”

“Abigail cantik, maafin Kinar, ya, kalau Kinar ada salah,”

Ih, nggak asyik semua, nih. Abi diem. Binary juga diem,”

Sudah empat hari aku tak keluar rumah. Berpuluh-puluh pesan dan telfon dari Kinar tak kugubris. Aku merasa bersalah. Tak seharusnya aku seperti ini.

“Kinar nyariin kamu. Katanya, kangen sama sahabat barunya,” dari BInar.

Aku tak acuh.

“Bigail, ada yang nyari kamu, tuh,”

“Siapa, Ma?”

“Cowok. Katanya namanya BInar. Pacar kamu, ya?”

“Bilangin aku tidur, atau ke pasar, atau kemana deh, Ma,”

“Eeeehhh…. Nggak boleh begitu. Setiap masalah itu harus dibicarakan baik-baik. Demi utuhnya suatu hubungan,”

“Mama ini apaan sih,”

“Dibilangin orang tua kok begitu. Sudah sana temuin,”

“Iyaiya…”

Tidak ada semangat untuk menuju ke ruang tamu. A-se-li!

“Abi…”

“Ngapain kesini?”

“Masih ingat omongan aku di pantai terakhir kali?”

“Yang mana?”

“Empat hari lalu,”

Aku berusaha mengingat.

“Aku bisa buktiin ke kamu kalau rasa kamu ke Kinar Cuma −sekedar− rasa kagum,” ia menjawab pertanyaannya sendiri.

“Oh…..”

“Dengerin aku,” katanya pelan.

“Rasa kagum,” ia menunjuk dadaku, “sama rasa cinta,” ia menunjuk dadanya, “itu beda tipis,”

Dahiku mengernyit.

“Ruang kagum dihati kamu sudah ditempati oleh Kinar. Tapi ruang lebih dalamnya lagi, ruang cinta, sudah ditempati oleh Binar,” lanjutnya.

“Ge-Er!”

Aku beranjak. Tapi ia menahanku.

“Eh, tunggu, aku belum selesai,” ia menarik tanganku.

“Kalau disini,” ia kembali menunjuk dadanya, “Ruang kagum sama ruang cintanya ditempati oleh orang yang sama, Abigail,”

Aku diam. Ia juga diam.

Nggak lucu!”

Kali ini aku benar-benar beranjak.

                                  * * *

“Abiiiiiiiii, banguuuunnnnnn!”

Suara Kinar.

“Kinar…. Pagi-pagi kok sudah disini, sih,

“Kamu, sih. Sms, telfon, dicuekin semua. Sombong,”

“Maaf, deh…

Nih, titipan dari Binar,”

“Ha?”

“Spesial buat Abigail penghuni hatinya, gitu katanya,”

Pelan-pelan kubuka kotak itu. Sepelan mungkin, aku tak ingin merusaknya. Ia sudah susah payah membuat semua ini sempurna.

Kotak dari kayu yang tak terlalu besar, lebih cantik dengan warna asli kayu yang masih coklat, ada beberapa ukiran kecil yang dibuat sendiri tapi sangat rapi. Hmmm, aku yakin ia punya bakat sebagai pengukir kayu, meski sedikit.

“Wow!” aku terpekik tertahan.

Kagum. Terpana. Terpikat. Beberapa kumpulan kertas kecil. Setiap lembarnya terdapat foto dengan beberapa catatan rapi. Amat sangat rapi. Pasti Binar telah menyiapkan ini sejak lama.

Lagi-lagi aku mengernyitkan dahi.

“Darimana dia dapat semua ini? Fotoku…. Semuanya candid,”

“tuh, ada kaset CD-nya,” celetuk Kinar.

Aku mengambilnya, dan memutarnya, membiarkan alunan lagu itu menemani tanganku yang mengambil setiap lembar yang membuat pagiku kagum.

Sambil membaca setiap kata-kata cantiknya, samar-samar terdengar alunan lagu manis, sepaket dengan kado dari Binar.

“Your hazel green tint eyes watching every move I make,
And thet feeling of doubt, it’s erased,
I’ll never feel alone again with you by my side,
You’re the one, and in you I confide…

And we have gone through good and bad times,
But your unconditional love was always on my mind,
You've been there from the start for me,
And your love's always been true as can be
I give my heart to you,
I give my heart, cause nothing can compare in this world to you..

And we have gone through good and bad times,
But your unconditional love was always on my mind,
You've been there from the start for me,
And your love's always been true as can be
I give my heart to you,
I give my heart, cause nothing can compare in this world to you..

I give my heart to you,
I give my heart, cause nothing can compare in this world to you…”

                “Binar….” mataku berkaca-kaca.


Penulis: Resla Aknaita Chak.
Semarang, 01 Agustus 2013

*petikan lagu Avenged Sevenfold - Warmness on The Soul.
Share:

Tuesday, 30 April 2013

[Puisi Akrostik] "RESLA AKNAITA CHAK" by: Chalriz


Rasanya bak secangkir kopi yang disesap
Erat semakin hangat dalam dekap
Saat mata indahmu sendu menatap
Lesung pipitmu pun ikut tersingkap
Aduhai …. Aku terperangkap

Aroma wangimu semerbak mendekat
Kepayang aku lupa akhirat
Nafas pun memburu semakin tercekat
Aliran darah rasanya bergerak cepat
Irama jantung berdegup dahsyat
Terperangkap akan panah amor yang melesat
Aduhai….Aku terjerat

Caramu  melenggang, semampai gemulai
Hampiri aku yang semakin terkulai
Akankah kau datang membelai?
Karena hari ini kita resmi sebagai mempelai.

"RESLA AKNAITA CHAK"
Penulis: Chalriz
Share:

[Puisi Akrostik] "IA, BERNAMA PEREMPUAN" by: Resla Aknaita Chak

Perempuan...
Elokmu melebihi indahnya senja
Rambutmu simbol mahkota

Embun saat pagi
Menyejukkan hati
Pelipur lara dikala sedih

Untuk kesekian kalinya
Asmara kembali tumbuh
Nari-menari selaras lagu

Biar. Biar saja begitu
Usah ragu

Kala cinta telah terbelenggu
Airmata mana lagi yang mampu mengganggu?

Nyanyi-menyanyi semerdu empedu
Walau hatimu bukan untukku
Arah hatimu tak tertuju padaku
Namun...
Imajiku akan selalu tentangmu
Tumbuh atau luruh
Akankah aku jadi pelabuhan terakhirmu, oh perempuanku?

"PEREMPUAN BUKAN WANITA"
Semarang,. 25 April 2013
Penulis: Resla Aknaita Chak

Share:

[Puisi Akrostik] "IBU" by: Resla Aknaita Chak

Ribuan detik kuhabisi
Isak dan tawa tak terhitung lagi
Nyanyian termerdu hingga tersendu silih berganti menemani
Inikah yang dinamakan sejati?

Sosok pahlawan nyata
Untuk hidupku ia korbankan segalanya
Lalu balasan apa yang ia minta?
Ah, ia tak butuh belas ataupun balas
Setitikpun tidak
Tanpa pamrih
Riwayatmu akan tetap terpatri
Ibu...


"RINI SULASTRI"
Semarang, 25 April 2013
Penulis: Resla Aknaita Chak
Share:

Ragu yang Merindu

Kita bertemu dalam sendu
Saling menunggu
Hingga rindu perlahan melebur jadi ragu
Masih saja aku menangis tanpa sedu

Airmataku kering dalam hingar
Lukaku beku dalam bingar
Hingga rasa manisku luruh jadi hambar
Masih saja kau enggan mengejar?

Apa kau tahu?
Barisan do'a yang kupanjat terselip namamu
Serpihan harap diam-diam masih menggebu
Masih saja kau pura-pura tuna rungu?

Kisah kita tampak menarik
Setiap sudutnya terlihat apik
Tapi nyatanya terbalik
Didalamnya ada luka yang mencabik-cabik

Kau ku ibaratkan pelangi
Datang selepas hujan, sebentar, kemudian pergi
Namun aku masih berdiri disini
Menanti hujan hingga pelangi datang lagi

Rinduku terbang tinggi
Menyulam awan yang selalu sendiri
Menemaninya dalam sepi
Hingga melebur, tumpah menjadi hujan ini

Sayapku patah
Hatiku goyah
Jiwaku lelah
Ragaku ingin rebah
Terkadang ingin pasrah
Tapi tenang, sayang...
Aku tak pernah menyerah...


Semarang, 29 April 2013
Penulis: Resla Aknaita Chak

Share:

[Puisi Akrostik] "RESLA AKNAITA CHAK" by: Irvan Fauzi

Rembulan menyinari bumi dari kejauhan
Engkau seperti rembulan itu
Selalu menyinari hatiku
Langsung tanpa penghalang
Api di malam hari sudah tak ada gunanya

Apalagi sebatas lilin didalam kegelapan
Karena cahayamu lebih terang dari semuanya
Nyesal, penyesal karena baru bisa menemukanmu
Akhir dari pencarianku tertuju padamu
Indah, keindahan wajahmu sangat terpancar
Tak bisa lepas dari pikiranku selama ini
Aku sangat mencintaimu

Cinta yang tulus dari hati ke hati
Hati yang terpecah telah kau satukan lagi
Abadi cintaku
Karena kau selalu hidup dalam hatiku


"RESLA AKNAITA CHAK"
-Irvan Fauzi-
15:00, 30 April 2013

Share:

Friday, 12 April 2013

[Cerpen Duet] "Kisah Kita Yang Salah"



Tentang ia yang dekat namun terasa jauh. Dan tentang ia yang jauh namun terasa dekat…”

                Dibalik jendela ini aku merenung. Aku tahu ini masih terlalu pagi untuk sebuah lamunan yang sama setiap harinya. Dan suara burung-burung itu terlalu sayang untuk di abaikan. Tapi inilah kenyataannya. Aku membuka mata, membuka gorden dan kemudian duduk di sana. Meski cuaca berganti, rintik dan suara burung bergantian menghampiri, bunga mekar dan daun gugur datang bergantian seakan pasrah akan musim yang mengendalikan mereka, dan buku teman lamunanku- yang berganti setiap aku khatam membacanya. Semuanya berganti. Hanya aku, hanya lamunanku yang tetap sama. Tak pernah berganti sedikitpun.
                Tentang ia yang dekat namun terasa jauh. Dan tentang ia yang jauh namun terasa dekat.
                Aku besok pulang. Kamu nggak ada janji, kan, sama Surya?
                Pesan singkatnya. Dua kali ia mengirimkan pesan yang sama.
                Nggak ada, Wang. Cepat pulang ya…” balasku.
                Awang. Aku mengenalnya enam tahun lalu, saat Masa Orientasi Sekolah di SMA. Saat itu ia membelaku habis-habisan ketika seorang senior memarahiku karena aku terlambat.
                Bukankah di sekolah ini kalau terlambat dalam waktu kurang dari 5 menit masih bisa di tolerir? Sedangkan. Ia melambatkan bicaranya, kemudian membaca papan nama yang ku gantungkan besar-besar di leher, Sedangkan Kidung hanya terlambat 3 menit. Katanya lantang.
                Berani sekali dia, pikirku.
                Bahkan kamu masih harus menoleh ke arahnya untuk sekedar tahu namanya.
                Gila. Ia sudah gila.
                Kalian berdua. Silakan menuju lapangan, dan hormat ke bendera. Sekarang!
                Ah. Sial!
                Tapi setidaknya aku tak menahan malu sendirian karena hukuman.
                Namamu Awang ya? Kenapa berani sekali? Namaku…”
                Aku tahu namamu Kidung. Sambarnya cepat. Kemudian menjabat tanganku. Kami tertawa.
                Aku pura-pura, awalnya. Hingga sekarang aku lupa bahwa aku sedang berpura-pura. Aku tak berniat untuk menyeretnya sedalam ini. Aku hanya ingin meletakkannya sementara di tempat ini. Namun caraku salah. Justru aku yang sekarang tak ingin ia pergi, meski tempat ini telah dimiliki.
                Kring.
                Suara telfon itu membuyarkan lamunanku. Kupencet tombol hijau itu.
                Selamat pagi, Kidung. Satu jam lagi aku nyampe, ya…” suara dari seberang.
                Iya.. jawabku seadanya, singkat. Kemudian menutup telfon dan mulai bersiap diri.
***
Susunya diminum dulu, Nduk.. sapa wanita paruh baya, kemudian meletakkan segelas susu coklat dengan seporsi  roti disebelahnya. Di meja riasku. Oh, Tuhan Biar kerjanya enak. Lanjutnya.
                Ibuk, Kidung bisa ambil sendiri kok
                Kamu daritadi Ibuk lihat itu sibuuuukkk terus. Jadi mungkin ndak sempet ambil susu sama sarapan kamu.
                Sanggup kok, Buk..
                Ibuk buat roti, nanti bawa sedikit buat Surya. Walaupun yang buat bukan kamu tapi yang ini juga ndak kalah enak.
                Ibuk bisa aja. Iya nanti Kidung bawa.
                Udah Ibuk siapin, di meja. Yowes, ndang diminum susunya, dimakan rotinya.
                Iya, Buk..
                Aku menatap ke arahnya. Menangkap bayangannya. Menandang hingga punggungnya menghilang di balik pintu.
***
                Hmmm. Rotinya enak. Tapi enaknya beda. Bukan kamu, kan, yang buat?
                Kan aku nggak bilang aku.
                Hahaha. Iya, Ibuk kan yang buat? Becanda Kidung, sayang…”
                Aku tersenyum.
                Aku selalu suka tawanya. Bukan tawa palsu.tapi tawa dari hati. Begitu juga cintanya. Bukan cinta palsu. Tapi cinta dari hati. Aku bisa merasakannya. Tapi kenapa aku tak demikian? Cintaku bukan hanya untuknya. Ada penyelinap lain.
                Perlahan masuk saat hatiku lengah. Sedikit semi sedikit menyisipkan diri saat hatiku jengah. Mengendap lancang saat hatiku goyah. Tapi entah kenapa aku tak melawan, tak berpegangan. Aku malah mengijinkannya. Awang.
                Ah! aku tersadar sendiri,
                Kamu kenapa, Kidung?
                Nggak apa-apa, kok..
                Yakin?
                Aku hanya tersenyum, kemudian mengangguk mantap.
                Okedeh.
***
04.50 AM
                Hari ini Awang pulang.
                Aku senang.
                Senang sekali.
                Terakhir pertemuanku dengannya sekitar 8 bulan yang lalu. Ia menemaniku ke sebuah perpustakaan daerah, dan aku membelikannya sekaleng kopi instant. Itu saja. Tapi rasa-rasanya lebih berkesan daripada makan di restoran.
                Kami berbicara banyak. Bicara tentang hari itu bukan tentang aku dan dia, tentang aku dan Surya, atau tentang aku dan dia dulu. Karena bagiku dan Awang hubungan ini tak tahu akan sampai mana. Kita hanya menikmati hari ini. Bukan kemarin atau nanti.

16.28 PM
Aku menyeruput cappuccino hangat yang disajikan, tanganku terus membolak balik majalah yang sedari tadi tak kubaca. Aku bahkan tak tau judulnya. Tadi asal ambil saja untuk mengatasi kekikukkan ku. Sementara di depanku cowok berkecamata itu belum menyentuh teh panasnya sama sekali. Aku heran tumben tumbennan dia yang penggemar kopi itu memesan teh. Aku tak berani mengganggunya. Ia terlihat serius menekuni bacaannya.

45 menit berlalu.
Selama itupun tak ada percakapan diantara kami, cangkir putihku telah kosong, menyisakan sedikit warna kecoklatan di dalamnya. Namun cangkir putih di depanku masih penuh dengan warna merah pekat namun sudah tak ada kepulan asap disana. Pemiliknya masih tetap dengan posisi duduknya 45 menit lalu. Ia hanya sesekali membetulkan letak kaca matanya. Akupun mulai kesal.
Wang. ujarku mebuyarkan kesunyian ini.
hmmm. gumamnya tanpa menatapku.
Kamu kenapa sih?
Nggak ada apa apa kok.
Terus kenapa dari tadi kamu cuma diem aja, nggak kayak biasanya
Nggak aku cuma pengen baca aja.. mumpung lagi di kafe buku kayak gini kan.. enak suasananya buat baca
Lah terus ini kamu jauh jauh datang dari kotamu nemuin aku terus udah ketemu cuma diem dieman gini Ndak  ngobrol apapun katanya kangen udah 8 bulan nggak ketemu.. aku mulai bicara dengan nada kesal.
Ia menutup bukunya, meletakkan di atas meja dan kemudian menyeruput teh yang aku yakin sudah tidak ada lagi kehangatan di setiap tegukannya.
Yowis.. kamu sekarang maunya apa barbieku..? Kan kamu sendiri yang minta ketemuan di café buku ini. Aku kira ya kamu mau baca buku
                Berburu  senja  yuk ide itu terlintas begitu saja.
               Boleh ia sumringah.
***
Kami bergerak menuju arah utara kota, tempat dimana melihat sunset terbaik di Kotaku. Sebuah pantai kecil yang pinggirannya sudah di pondasi agar air laut tak mengikis badan jalan.  Sudah tak alami memang, namun ini menjadi tempat favorit anak muda di kotaku menunggu matahari di caplok pekatnya malam. Hanya 20 menit dengan menggunakan vespa milik Awang kami sudah sampai disana. Kami sengaja memilih spot yang agak sepi. Yah kami berdua memang kurang begitu menyukai keramaian.


Begitu turun dari motor Awang langsung memainkan Kamera DSLR-nya.Memotret senja yang hampir ditelan laut dan langit, memotret sebuah kapal motor nelayan yang pulang melaut, bahkan memotretku yang tengah asyik menatap senja. Ia beberapa kali memotretku bak model, aku sampe risih dilihat orang orang sekitar.
Wang. cukup cukup,, nanti memorimu penuh dengan muka mukaku saja
Kalau tak simpen di memori otakku nggak akan pernah penuh kok
Halah,,, uwes uwes ora usah ngegombal, ora pantes blas
Awang  kemudian melepaskan kamera dari pegangan tangannya
Dung, ada yang pengen aku omongin sebenarnya
Ya tinggal ngomong aja toh Wang. Ada apa toh, kok kayaknya serius banget
Dung . Kita sudah menjalani hubungan ini 3 tahun 8 bulan lamanya. Selama ini pun hati kita fine-fine aja.. Tapi kayaknya nggak bisa begini terus terusan. Kamu harus milih antara aku atau Surya
Deg.. aku tak pernah membayangkan ini .. Aku tak pernah siap menerima pertanyaan seperti iniBagiku  Surya dan Awang hadir bukan untuk dipilihAku cinta Surya. Tapi sepotong hatiku pun diisi oleh Awang Awang yang jauh namun begitu care dengan kondisiku, yang selalu mengingatkan jadwal makanku, yang selalu tahu segala masalah masalahku. Atau Surya, pria yang selalu mebuat kupu-kupu menari dalam perutku, yang selalu membuat degup jantungku seperti kuda dalam lomba pacuan saat bersamanya. Ah Tuhan Mengapa mereka harus kau kirimkan disaat bersamaan.
Dung Kenapa kamu malah melamun…”
Eeeeee.
Kriiiiiingggggg
Belum sempat aku menyelesaikan kata kataku  sebuah panggilan masuk di handphoneku. Surya.. Itulah nama yang terpampang di tampilan handphone-ku. Aku tak berani mengangkat, Aku menatap Awang.
Siapa ? Surya ya ? angkat aja. Aku gak apa apa kok
Aku mengangkatnya dengan sedikit keraguan
Ha---lloo,, i--ya Surya ada apa ? aku sedikit terbata bata mengucapkannya.
loh kamu kenapa sayang? Kamu ada dimana sekarang?
Nggak.. nggak apa apa kok.. A.,,aku di rumah sama ibuk
Oh aku Cuma mau ngingetin jangan lupa shalat magrib ya.. Aku lagi di jalan nih baru pulang dari rumah Bude
Kalau gitu hati hati yah.. kamu  jangan nyetir sambil nelpon
Iya iya sayang, Ya udah.. Salam  buat Ibuk.. Assalamualaikum
Walaikumsalam
  Percakapan singkat itu pun berakhir.
Kenapa kamu mesti bohong  ujar Awang.
Nggak, nggak mungkin aku bilang ke dia kalau aku sama kamu.. Aku belum siap wang
Aku baru hendak memasukkan kembali handphone ke dalam tas, ketika Terios Silver berhenti tepat di depan kami. Surya  turun dari mobil dengan membanting pintu. Aku terbelalak kaget. Aku tak menyangka kalau jalan yang dilewati surya adalah jalan tepat kami berada.
Kidung…… apa apaan ini.?? Katanya kamu dirumahterus ini sapa..??.
Kemarahan  jelas terpancar dari wajah Surya dan nada suaranya. Namun aku hanya diam menunduk.
Awang, pacar Kidung Awang memperkenalkan dirinya kepada surya.
Duarrrrrr…… ingin rasanya aku ditelan oleh bumi saat itu juga.,, Kenapa juga Awang harus menambahkan embel embel pacar kidung dibelakangnya. Tapi itu bukan salah Awang, itu salahku.. Ya semua ini salahku.
Tanpa berbasa basi Surya menarikku, membukakan pintu mobil dan menyuruhku masuk. Aku hanya bisa menuruti perintah Surya dan hanya bisa melhat Awang mematung membelakangi senja..Bagi Awang yang selalu mencintai senja , ini akan menjadi salah satu senja terburuk dalam hidupnya, pikirku.. Tak terasa bulir air mataku jatuh.
***

 Empat tahun aku menetapkan hati. Memantapkan Nurani. Menyata-kan sebuah imaji pada satu hati. Entah, sebelah mana letak salahku, atau kekeliruan sikapku yang tak lagi membuatmu nyaman hanya pada satu lelaki…” Tatapannya kosong. Pilu. Sendu.
Sementara itu, diseberang dimana lelaki itu menatap kosong tampak seorang wanita, menunduk. Aku.
Aku dan dosaku membisu. Rasa rasanya semua kesalahan menumpuk jadi satu dikepalaku, hingga membuatku susah mendongak, menengadahkan wajah untuk melihat wajah di depanku. Mata yang tulus, mata yang tak berdosa namun harus menanggung luka. Mata yang selalu menatapku penuh rindu namun kini sendu. Mata yang selalu tampak cinta namun kini merana.
Aku pengen tahu, aku atau dia yang …”
Kamu. Belum sempat ia melanjutkan pertanyaanya aku sudah menyambarnya.
Aku belum selesai. Jawabnya tegas.
Aku pilih kamu, Surya…”
Kidung, disini bukan tentang memilih atau dipilh. Aku bukan sesuatu yang harus kamu pilih, aku adalah sesuatu yang seharusnya kamu pertahanakan.
Surya. Rengekku.
Aku meraih tangannya. Ia tak menolak, hanya.. perlahan menarik tangannya. Itu artinya ia menolak sentuhanku.
Maaf…” Kataku pelan.
Aku melihatnya tersenyum, tapi tak melihat melihat matanya mengguratkan senyum. Getir.
Aku terserah kamu. Tentang kamu sama Awang itu urusan kamu. Tentang kamu sama aku? Itu terserah kamu juga.
Aku  terdiam.
Aku nggak mau maksa. Kalau hati kamu emang nggak buat aku, aku terima. Ikhlas. Kalau kata ibu kamu ; legowo. Bisa bisanya ia masih tersenyum.
Kalau aku masih pengen sama kamu, apa aku egois? akhirnya aku bisa bicara dengan lancar.
Kamu nggak egois, hanya saja  aku butuh waktu untuk itu.

*****

5 tahun Kemudian

                Zaskia ayo salam sama Om Awang”… ujarku sambil setengah membujuknya yang tidak mau turun dari kursinya.
                Zaskia mau calim tapi halus ada kadonya dulu  ujarnya dengan logat khas anak anaknya
                Iya Zaskia.. Ini Om Awang bawain kado kok. Zaskia pasti suka deh..
                Makacih om.. ia kemudian menyalimi Awang dan mendaratkan ciuman di kedua pipi Awang.
                Surya mana ?
                Oh dia lagi ke kamar kecil sebentar
                Tak lama Surya pun datang  dan bergabung bersama mereka.
                Hey Awang.. waduh makin sukses aja kayaknya nihMakasih ya udah datang ke ulang tahun zaskia. Sapa surya.
                Waduh biasa aja Sur, saya gag ada apa-apanya dibandingin kamu..Sekalian ini mau nyerahin ini untuk kalian
                Awang memberikan sebuah undangan berwarna biru. Tertera dengan jelas namanya dan nama seorang wanita disana. Ia akan melangsungkan pernikahan tepat di hari ulang tahunnya minggu depan, yang berarti ulang tahun perkawinanku bersama Surya yang ketiga.



Penulis: Resla & Chalriz
Semarang Kendari, 29 Maret 2013.





 
Share: