Showing posts with label Karya Resla. Show all posts
Showing posts with label Karya Resla. Show all posts

Tuesday, 2 June 2020

Perempuan dan Suara yang Tak Didengar


Saban malam,
seorang perempuan kehilangan dirinya
ia menangis
ia mendengar
ia berbicara
sendiri

Ingatannya menakut-nakuti masa depan
ia makan kekhawatiran setiap hari
pikirannya adalah senapan,
dengan menarik pelatuk, ia ingin hilang
tanpa air mata, rasa sakit, dan pundak.

ia tumbuh dewasa dengan teriakan di pikiran
Lalu hidupnya hanya sebatas, "mungkin besok aku mati."

Tapi ia tak pernah mati,
ingatannya terus hidup
mengkristal
mendendam
perjalanan panjangnya mengusir takut
adalah perjalanan seumur hidup

sampai ia berani
dan orang-orang mendengar suaranya.

Maret 2020
Share:

Tuesday, 5 May 2020

Fenomena Kebebalan Baru: Pemberian Apresiasi pada Permintaan Maaf Pelaku Kekerasan Seksual

Publik seakan lupa tentang seberapa jauh perjalanan korban hingga sampai pada tahap paling berani: speak-up.

Apa yang salah dengan pemahaman perihal benar dan salah dalam kasus kekerasan seksual? Tindakan memperkosa saja sudah sangat salah, tetapi kenapa publik seolah tidak terima dengan kenyataan itu?

Pencarian kesalahan pun dimulai. Publik akan membombardir korban dengan pertanyaan yang memojokkan dan pernyataan yang tidak manusiawi. Publik akan mulai menjadi hakim yang tidak adil. Ya, di tengah banyaknya kasus kekerasan seksual yang menemui titik terang, masih ada penghakiman publik yang siap menjadi tameng sukarela bagi pelaku.

Korban-korban yang berani speak-up ini memberi tuntutan kepada pelaku. Salah satu tuntutan paling populer adalah menuntut permintaan maaf pelaku. Ketika tuntutan itu sampai ke meja makan pelaku, ia hanya memiliki dua pilihan: menyantap atau membuangnya ke tempat sampah. Kemudian, sebagian besar pelaku memilih menyantap tuntutan atas perilaku mesumnya.

Permintaan maaf pun dibuat. Entah melalui video atau hanya bermedia tulisan yang dipublikasikan ke akun media sosial pelaku. Sampai di sini, bukankah seharusnya publik paham bahwa permintaan maaf merupakan bentuk nyata adanya kekerasan seksual yang dilakukan pelaku?

Namun, alih-alih membuat publik paham akan adanya kejahatan yang dilakukan pelaku, justru hal sebaliknya terjadi. Publik mengapresiasi pelaku yang meminta maaf.
“Setiap orang memiliki masa lalu. Semangat! Mulai dari nol.”
“Keren! Gentlemen lo, Bro!”
“Ada orang yang merasa menjadi korban dan ingin membongkar keburukan orang lain. Terus berbenah dan perbaiki hubunganmu dengan pencipta.”
Dan beberapa kalimat ‘salut’ yang dilontarkan ke pelaku.

Apakah itu salah? Tentu.

Permintaan maaf pelaku muncul karena tuntutan dari korban yang telah berani mengungkap kisahnya. Otomatis, semua tindakan dan komentar dari unggahan permintaan maaf pelaku pun tak luput dari pantauan korban dan beberapa jaringan yang membantu korban. Otomatis lagi, komentar-komentar pemberian semangat untuk pelaku juga diketahui korban.

Beberapa kasus kekerasan seksual terjadi di ranah privat, yakni korban dan pelaku memiliki hubungan dekat, entah itu relasi privat atau circle pertemanan yang sama. Itu artinya, dukungan untuk pelaku datang dari orang-orang terdekat yang juga mengenal korban. Hal yang sangat menyakitkan untuk korban.

Silakan menjadi bebal dengan memaklumi perilaku mesum pelaku, tetapi utarakan secara tertutup.

Fenomena ini seolah mengungkap kekhawatiran publik perihal kesehatan mental pelaku. Tak hanya itu, publik juga khawatir jika keluarga pelaku mengetahui hal ini. Padahal ada satu cara ampuh agar kekhawatiran tersebut tidak terjadi, yakni jangan memperkosa! Setiap perbuatan selalu berpasangan dengan konsekuensi, kan?

Kasus kekerasan seksual seolah hanya meng-highlight pelaku sebagai pihak yang dirugikan dan butuh didukung. Publik pun lupa bahwa ada korban yang harus lebih dikhawatirkan kesehatan mentalnya. Belum lagi dengan keluarganya.

Publik juga lupa tentang seberapa jauh perjalanan korban hingga sampai pada tahap paling berani: speak-up. Tetapi lagi-lagi, publik selalu punya cara untuk menyalahkan korban. Korban yang berani speak-up pun disebut sebagai pembongkar keburukan orang lain.

Yup, sepertinya publik tidak cukup puas dengan memberi apresiasi pada pelaku secara terang-terangan. Jurus kedua pun dikeluarkan, victim blaming. Dalam kasus kekerasan seksual, hal ini pasti terjadi. Korban dianggap bersalah atas hal yang menimpa dirinya. Akhirnya, pelakulah yang dianggap menjadi kambing hitam.

Pada akhirnya, permintaan maaf pelaku tidak berguna. Publik tetap percaya pada pelaku dan menganggap korban hanya cari perhatian.

Sudah tidak mendapat dukungan publik, masih harus kehabisan energi karena terus disalahkan. Lalu, kenapa tidak langsung ke jalur hukum saja? Ada banyak alasan kenapa korban enggan melapor. Kasus kekerasan seksual yang sudah lama terjadi akan kehilangan barang bukti. Barang bukti hanya sebatas pengakuan pelaku dan kronologi yang diceritakan korban. Dua hal itu tidak cukup untuk memenjarakan pelaku. Selama Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) belum disahkan, korban akan selalu menemui ketidakadilan.

Akhir dari kasus kekerasan seksual pun akan seragam: permintaan maaf pelaku dan lalu korbanlah yang justru dianggap sebagai pelaku. Publik pun masih belum juga paham bahwa kesehatan mental korban lah yang justru dikhawatirkan. Pun juga tak paham bahwa yang lebih membutuhkan dukungan adalah korban.

Namun memang tak semua publik berperilaku demikian. Ada yang sudah memahami isu kekerasan seksual dan berperspektif korban. Tapi itu tidak cukup. Bukan hanya publik yang berperspektif korban, saya rasa kita semua juga membutuhkan media dan penegak hukum yang berperspektif korban. Tanpa itu semua, kasus kekerasan seksual akan terus ada, bahkan meningkat.

Kasus-kasus yang muncul ke permukaan hanya sebagian kecil dari beberapa kasus yang belum terlihat. Banyak korban yang tidak berani melapor karena alasan tertentu. Jika victim blaming dan pemakluman terhadap tindakan pelaku terus ada, rape culture akan semakin berkuasa. Maka, tidak akan ada ruang aman bagi korban, yang ada hanya pembiaran.



Jakarta 28 Maret 2020
Share:

Monday, 16 December 2019

226 #5

Yang lalu, lalu.
Yang tumbuh, tumbuh.
Tidak ada yang sempurna, tapi kamu dan kasih sayangmu pas buatku.

Menikah bukan transaksi jual-beli apalagi tawar-menawar. Menikah ialah bersedia.
Aku bersedia jadi istrimu, kamu bersedia jadi suamiku.
Aku bersedia mendengar ceritamu di malam hari, kamu bersedia membagi tugas rumah tangga.
Aku bersedia menjadi teman tidurmu, kamu tak marah jika aku lelah.
Menikah bukan perkara bebas bergulat di ranjang. Lebih dari itu, menikah ialah menikmati pergulatan itu.

Lebih dari itu lagi, menikah bukan perkara ranjang semata. Besok masak apa, akhir pekan kemana, sabun habis, pasta gigi habis, keran kamar mandi patah, genteng bocor, menyapu, bertanam, dan perkara-perkara menyenangkan lainnya.

Aku dan kamu bahkan sudah menikah sejak kali pertama saling menyayangi. Tapi kali ini, kita tervalidasi.

11.'19.

Share:

Tuesday, 3 December 2019

Kurama dan Musik-musik yang Melayatnya


Sore.

Minggu, 17 November 2019.

Ia muncul dari kolong mobil. Langkahnya lemah, berjalan sendiri menuju ke mana pun untuk menyusupkan makanan di perutnya. Dari perut kempes dan tulang-tulangnya yang terlihat, aku tahu, sudah tak terhitung berapa kilometer ia sudah berkeliling dan belum juga mendapat makanan. Hmm, kira-kira usianya baru dua bulan. Usia yang seharusnya masih menikmati hangatnya pelukan ibu.

Ia hanya kucing kecil, kata orang.
Bagiku, ia adalah nyawa.



Ia masih sangat kecil untuk berkeliaran dan berlomba dengan kucing dewasa lain demi makanan. Aku ingin memeluknya di rumah.

__________
Malam hari.

Aku senang melihatnya tidur pulas.

"Kurama," celetukku.
"Sepakat. Aku punya panggilan sayang, kurkur," jawab laki-laki di sebelahku —suami.


__________
Pagi, ia jadi alarm.

Pagi yang kurang baik karena Kurama baru saja muntah. Bukan, bukan perkara muntah dan kotor dan ngepel yang menjadikan pagi ini kurang baik. Melainkan, cacing. Kurama cacingan.

Aku? Panik.
Suamiku? Panik tapi malu-malu.

Untung saja aku masih punya obat cacing untuk kucing. Kuberi dia secuil. Yash! Berhasil. Tak ada lagi cacing. Bahkan ia tak lagi muntah.

Tapi,
masalah kesehatannya tak berhenti di situ. Kurama diare!

Bayangan-bayangan distemper yang menyerang tiga kucingku dua tahun lalu muncul. Mereka yang mati di pangkuanku; aku menangis berhari-hari. Seperti seorang ibu kehilangan bayi.

Nggak, nggak.
Kurama harus sehat.

Vet menjadi tujuan kami. Kurama menjalani pemerikaan dan pengecekan feses. "Semuanya normal," kata dokter.

Kurama harus rutin minum obat. Dua obat, diare dan vitamin agar ia lebih doyan makan.

Ya, siang dan malam aku memberinya obat. Tapi, tak ada perubahan. Kurama masih diare dan lemas.

Sampai pada akhirnya, ada perasaan hancur datang. Ada yang tidak beres dengan Kurama. Aku berusaha menghangatkan badannya. Dia semakin lemas. Berdiri pun nggak sanggup.

Aku? Hancur parah. Aku menangis melihatnya kesakitan. Aku merasa tidak berguna karena hanya melihatnya sekarat.

Hampir lima jam ia sekarat. Aku menangis dan membaca doa-doa yang kutahu. Aku juga memberinya musik-musik pengantar tidur.

Sungguh aku merasa tak berguna.
Aku merasa bersalah tak merawatnya dengan baik.
Aku merasa bersalah tak menemukannya lebih awal.

Kurama tak ingin mati di hadapanku, pikirku.
Aku membiarkannya menyendiri, tapi tak tenang. Pukul 1 pagi lebih sedikit, aku tak lagi mendengar Kurama melenguh.

Aku telah kehilangan.

Kurama pergi tanpa kutemani. Ia pergi bersama musik-musik yang melayatnya; Cat meditation, agar ia lebih tenang pergi; Peaceful music for cats, agar ia damai; The sky is the limit, agar ia menemukan jalannya; Sulung, agar ia —dan aku— sama-sama merelakan.




"Kurama milik Tuhan."
Mantra yang kuucapkan berulang.


Maaf, Kurama.
Aku menulis ini karena aku tahu kamu membaca ini.


November 2019

Share:

226 #4

percakapan sebelum tidur,
memelihara kasih yang sewaktu-waktu bisa lebur
ia memupuk,
di pundaknya ada aku dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang,
di pundakku ada kami,
teliti meruwat-merawat,
jika lelah istirahat.

aku punya pundakmu,
kamu punya pundakku.

ia sekarang lelap,
mungkin di mimpinya ada ketakutan.
mungkin hanya putih,
mungkin hanya gelap,
mimpi memang tak pernah punya warna.

tidurlah,
pukul enam kubangunkan kau,
kembalilah pada tembok itu putih,
lukisanmu di bawah jam dinding itu penuh warna,
dan aku yang di sebelahmu ini bisa jadi merah jingga kuning hijau biru nila atau ungu.

10.'19
Share:

226 #3

meramu-memaruh,
nasib baik menyuapi jiwa kita yang sama laparnya,
aku menyauk permintaan tanpa takut tersedak, sedang kau mendulang asa pada bibirmu lalu bibirku,
kita kenyang,
butuh air putih untuk mengisi ulang.
lalu,
kita menanak catatan dari percakapan-percakapan,
yang dimatangkan agar gampang ditelan.

sayang,
keputusan itu seperti nasi.
jika kurang, lapar.
jika penuh, mual.
jika basi, tak berarti.

tapi perutmu dan perutku sudah lama hidup bersama.
urusan nasi tak seberat itu.
urusan porsi tak sepelik itu.
jangan pusing soal angka,
sebab saling memahami tak perlu matematika.

September 2019.


Share:

Wednesday, 21 August 2019

226 #2

saban malam,
kita disaksikan rembulan
menghitung jengkal kedamaian pada ujung mata sendiri
saban pagi yang muda,
kita dirayakan jengkal kedamaian yang telah turun pada ujung bibir sendiri
akan terus kau temui kedamaian itu saban waktu
jika kau dihancurkan kota, pulanglah
jika kau dikhianati janji-janji, pulanglah
jika kau dikejar cerca, pulanglah
jika kau dicurangi strata, pulanglah
akan kita rayakan dengan kedamaian yang ada pada tubuh kita
kita akan sering pesta
dengan masakan rumah dan lagu-lagu indah
hingga nanti dilelapkan masa,
pada masa itu, renyapkan lukamu di kakiku,
sebab jeda juga butuh tenaga.



Agustus 2019
Share:

Friday, 19 July 2019

#peralihan

malam ini, kami mengeja kecamuk di hati hingga sisa-sisa luka mengering dan pulih,
badaimu kutukar dengan kalimat, "selamat tidur, mimpi burukmu segera tamat."
ruamku yang mengendap, habis kau singkap.
kita sama-sama terluka,
sama-sama mencari penawarnya.
pada titik ini,
kau-aku telah pulih,
menjadi jiwa baru yang jernih,
pada akhir sekaligus awal,
kau telah bersumpah menjadi pengayom,
menjadi manggala,
untukku dan trah atas namamu.

"saling sangga, saling sungga. oleh ilah, telah alih."

20 Juni 2019
Share:

Memeluk Kenyataan

kepada yang hatinya pernah murka,
ijinkan jiwamu menjadi penyembuh, hingga waras dan kembali utuh.
yang tak adil di masa lalu,
yang tak sesuai ingin di masa dulu,
yang belum sejalan dengan rencana-rencana,
biarkan tetap ada,
untuk tinggal hingga tanggal.
jangan jatuhkan air matamu sia-sia,
ia berharga, beri ruang pada masa penuh suka cita.
tak ada yang sulit dari merelakan sakit.
jiwamu akan biru jika kenyataan kau peluk berpadu.
kau berharga.
kau berharga.
kau berharga.
peluklah hidupmu mesra.
tak ada yang berhak melepasnya,
kecuali kebebalanmu akan abadinya luka.

Semarang, 24 Mei 2019.
Share:

Thursday, 30 May 2019

[perihal merelakan]

pak, aku ingin pinjam hatimu yang sentosa,
yang cakap mengistirahatkan murka,
yang fasih mengemas lara.
bu, aku ingin pinjam hatimu yang tabah,
yang mahir menyimpan gelisah,
yang ahli memilah marah.
aku ingin genap menjadi kalian,
tapi,
pak,
bu,
belajar tanpa guru itu sulit,
aku selalu gagal meniru,
berkali aku bercermin,
tapi tak pernah seiring.
pak,
bu,
benarkah engkau berdua sentosa dan tabah?
benarkah engkau berdua cakap mengistirahatkan murka dan menyimpan gelisah?
benarkah engkau berdua fasih mengemas lara dan ahli memilah marah?
pak,
bu,
jangan diam,
aku butuh jalan.
genggam atau peluk,
aku sudah berkenan.
tak perlu bicara,
jika menurut engkau berdua kata-kata itu membinasakan.
pak,
bu,
dari balik selimut ini,
aku merayu tuhan,
agar yang kulihat ripah,
tak akan ripuh.
pak,
bu,
tak apa diam,
tak apa enggan menggenggam,
cukup aminkan.

Semarang, 22 Mei 2019
Share:

Sunday, 19 May 2019

203 #50

saling sangga, saling sungga. oleh ilah, akan alih.

telah ditagih rindu-rindu kita,
lunas sudah,
impas telah.
kini kita telanjang,
rebah di antara pengembaraan-pengembaraan lengang,
luputnya sedu,
lucutnya deru,
membawa ku-mu pada persimpangan kusut,
kita masih telanjang,
perlahan dibalut kenang,
ditiupkan nyawa atas keputusan-keputusan,
dalam genang,
kau-aku lahir berulang,
mencipta warna remang,
terang,
benderang,
kau-aku mencipta benang,
dari serat-serat keputusan,
yang prasaja tetapi bermakna,
yang genap sekaligus lengkap,
gemi,
nastiti,
ngati-ati.

Semarang, 20 Mei 2019.
Share:

[senjang]

kutemui kau pada lipatan ujung buku,
yang kuistirahatkan setelah mengalah pada lelah,
di sana, pada kata "beda", aku sengaja memberi jeda,
tersendat aku mencoba mengingat,
ada berapa jenis cinta?
getirnya tanya, getir nyatanya.

sebab katamu,
cinta itu memberi,
sedang kataku,
cinta itu menerima,
katamu,
cinta itu bersedia,
kataku,
cinta itu kesepakatan,
katamu,
cinta itu buta,
kataku,
cinta itu rela,
katamu,
cinta itu rasa,
kataku,
cinta itu makna,
katamu,
cinta itu aku,
kataku,
cinta itu siapa saja,
katamu,
cinta itu fana,
kataku,
yang fana itu kita.

kau diam, melawan kenyataan,
aku pilu, terlalu lama terjebak buntu,
yang memar tak hanya hati,
yang cedera bukan hanya mimpi,
aku menolak ringkih,
lukaku tumpang tindih,
segera rampung,
kembali ke kampung.
lalu menjawab tanya,
bahwa cinta tak memiliki rupa,
cinta itu luka,
terus kambuh pada tiap labuh,
hanya kepada cinta ia akan sembuh.

13 Mei 2019
Share:

Wednesday, 8 May 2019

[Siapa Tahu Besok Pagi Aku Mati]

sayup lalu senyap, ada yang menangkap tanda pada garit jejari ini.
di sana kebebasan sungguh merdeka, begitu lengang dan penuh makna.
aku ini diciptakan untuk menjadi keturunan adam yang tak takut menjadi tunggal.
bahwa hidup selalu berangkap dengan peristiwa, pertemuannya pun hampir-hampir tak bisa diterka.
ya,
hidup dan peristiwa memberi keyakinan bahwa tak ada musuh yang lebih berat ketimbang diri sendiri.
membenci, lalu mengumpat, kemudian melaknat, dan dilanjutkan dengan menyumpahi. proses yang membuat percaya bahwa tak ada lega yang lebih baka ketimbang berdamai dengan diri sendiri.
inilah seleksi alam dan diri. sungguh rumit, tapi definit.
tak akan lagi melihat diri serupa labirin. tak perlu tersesat sebab jalan keluar ada di tiap penjuru.
namun,
seringkali terngiang suara tawa mereka yang merobohkan. membikin dengung dan murung.
sial,
begitu membekas, nyeri, ngeri.
aku ingat,
bahwa,
aku ini diciptakan untuk menjadi keturunan adam yang tak takut menjadi tunggal.
maka aku tak akan terkubur sia-sia hanya karena mereka yang senang berlarian dalam labirinku.
selamat bermain-main dalam kesia-siaan.
kau kah seseorang yang bersedih itu? yang muram dan penuh dendam?

Mei 2019
Share:

Tuesday, 30 April 2019

Utuh

kerumunan menyepi, aku merayau.
racau memelan.
ini bukan sepi, bukan sunyi, bukan mati.
aku hilang, mencari tenang, meninggalkan kenang, menanggalkan rambang.
atas nama lampu-lampu yang berkedip dan musik berdipdip, aku ingin kembali pada tubuhku
—yang rindang.
di sana ribuan kenang timbun.
memapahku pada pelukan ibu dan nasihat-nasihat bapak.
aku menemukan harapan pada air mata ibu,
yang diusap punggung tangan bapak yang penuh gurat rindu.
lagi-lagi aku siuman,
betapa kosong membawaku pada harapan-harapan yang tak kunjung usai.

1 Mei 2019
Share:

Saturday, 20 April 2019

203 #49

kau-pukau-aku-paku.

Aku tidak suka pantai, tapi aku doyan melihat pantulan surya di bibir samudra. Rona mambang kuning pada ujung segara ialah pembuai ulung.
Bersamaan, suara debur yang mendengkur membawaku mendekat. Lidah laut menyentuh kulitku. Sayup bayu mengayunkan kainku.

nyatanya,
aku tak pernah sedamai ini di tempat yang tak kusukai. Tak kusukai, bukan benci.
seringkali, satu hal buruk datang, merusak ribuan kebahagiaan.
laut semakin menelanku, bersama ketakutan-ketakutan di belakangku.
aku tak pernah seberani ini di tempat yang kutakuti. Takut, bukan ciut.
acapkali, mimpi-mimpi kita datang dari sudut yang tak terbayangkan.
laut telah menyatu denganku.
kerapkali, rencana-rencana justru sedang bekerja menjadi pembunuh.
kadang-kadang, kenyataan membuat kita sadar bahwa manusia sedang membunuh dirinya sendiri melalui rencana-rencana di kepala.

surga barangkali, neraka bisa jadi.
tak ada yang tahu pasti, sekalipun kekasih yang lebih dulu mati.
luka nyata, duka niscaya.
sebab bahagia tak pernah utuh, pun lara tak pernah benar-benar jauh.

aku utuh,
berserah pada sang mahaseluruh,
padamu,
jantungku,
rencana-rencanaku tumbuh.


April 2019
Share:

Sunday, 14 April 2019

Peluk dan Air Mata

malam tadi ia tidur dipeluk air mata.
ia berusaha menarik ingatannya kembali ke kepala, percuma.
lelah, ia tertidur terisak.
namun,
dalam lelap,
pelukan membawanya berplesir mimpi.
ke taman bunga asri,
sawah indah,
dan kota megah.


air mata,
tak pernah gagal menyampaikan,
pun,
peluk,
selalu berhasil menenangkan.


15 April 2019
Share:

Sunday, 7 April 2019

203 #48

sudah kukatakan sejak kali pertama tulisan-tulisanku bermuara padamu,
bahwa,
kita adalah huruf, yang saling padu dan satu.
aku dan kamu bercumbu pada kertas itu,
saling sandar, saling tumpu.
saling peluk hingga sampai pada ruang yang dituju.
kita adalah huruf, yang saling menggenapkan.
tak ada rumpang, tak ada ganjil.

selugas itu.

namun,
kadang-kadang aku buntu,
ke mana harus memandu rindu,
langsung kutujukan padamu,
atau kusimpan hingga bertemu?
tak pernah ada jawaban pasti yang kudapat.
sebab mau diapa-apakan pun rindu tetaplah nestapa.
aku ingin memestakan rindu di pelukmu,
menghitung kancing baju,
melukis di dadamu,
memejam di dekapmu,
dan mendengar detak yang berlomba dengan detik.
—pesta yang sungguh melipur.
sebab,
kaulah peluk,
pada tiap pelik.
mendekap,
maha-kedap.


sudah kukatakan sejak kali pertama tulisan-tulisanku bermuara padamu,
bahwa,
kita adalah huruf, yang saling padu dan satu.
aku dan kamu bercumbu pada kertas itu,
saling sandar, saling tumpu.
saling peluk hingga sampai pada ruang yang dituju.
kita adalah huruf, yang saling menggenapkan.
tak ada rumpang, tak ada ganjil.

selugas itu.

namun,
kadang-kadang aku buntu,
ke mana harus memandu rindu,
langsung kutujukan padamu,
atau kusimpan hingga bertemu?
tak pernah ada jawaban pasti yang kudapat.
sebab mau diapa-apakan pun rindu tetaplah nestapa.
aku ingin memestakan rindu di pelukmu,
menghitung kancing baju,
melukis di dadamu,
memejam di dekapmu,
dan mendengar detak yang berlomba dengan detik.
—pesta yang sungguh melipur.
sebab,
kaulah peluk,
pada tiap pelik.
mendekap,
maha-kedap.


Maret 2019
ini maret,
dan ini keempat,
memilin asmara tak pernah semudah bicara.

Share:

Tuesday, 19 February 2019

203 #47

Lalu, kembali kita membenakan gita cinta di masing-masing telinga —kota, sendiri-sendiri. Percakapan-percakapan dalam diam tetap menyunggingkan mesem. Langkah kaki menuju kantor, kedai, taman, rumah, pikiran, hati, dan imajinasi itu selalu bergerak cepat. Ingin segera sampai, padahal pertemuan kita tak lebih dari sekadar rangkaian kata saja.
Getir,
tak ada yang bisa kupeluk kecuali kenangan. Sementara ia semakin menumpuk dan ingin meledak di dadamu, menjelma kupu-kupu di pikiranmu, terbang dan hinggap di bibirmu.
Tapi kau jangan, sebab aku benci kupu-kupu.
Kau jadi kau saja, yang memabukkan.
Di bulan cinta ini, kita bahkan tak saling mengucapkan "selamat hari kasih sayang". Sejak empat tahun lalu, kita sama-sama tak percaya pada valentine. Tak ada valentine, tak ada coklat, bunga, boneka, es krim. Yang ada adalah kita sama-sama naik 5kg :")))))) —skip.

//

aku lungsar,
rinduku layang,
padamu lungsur, sayang.

//

Februari 2019
Share:

Wednesday, 6 February 2019

Selesa

Warsa-warsa —lampau,
murung kularung.
Satu per satu lucut.

Perlahan,
lesap-mengirap.

Bungah labuh.



Aku tak tahu apakah ada kelegaan yang muncul usai bunuh diri. Barangkali iya, barangkali tidak.
Seringkali aku bertanya-tanya, ke mana mereka berkumpul usai berhasil membunuh dirinya sendiri?

Kemarin sore, saat aku duduk di ruang tunggu bengkel tepi jalan, seorang lelaki tua menghampiriku dan berkata, "jika aku bunuh diri, apakah aku akan kehilangan diriku sendiri?" katanya.
Belum sempat kujawab, ia melanjutkan, "hari ini aku hidup dan orang-orang di sekitarku menganggap aku mati. Bahkan, ketika aku belum mati, mereka seolah tak sabar ingin kehilangan aku. Mereka bahagia kehilangan aku. Lalu, apakah aku juga akan bahagian kehilangan aku?"

Aku tak menjawab. Lebih tepatnya, tak tahu ingin menanggapi apa.

Kadang-kadang, jalan pintas itu memudahkan. Namun seringkali, banyak hal baru yang akan ditemui ketika kita menghindari jalan lintas. Tak selalu, memang. Lebih tepatnya, bagi yang tak ingin buru-buru ada baiknya sebuah perjalanan musti dinikmati.
Maksudku, begini, seringkali pikiran kita terpaku pada ketakutan-ketakutan di depan yang bahkan belum tentu terjadi. Padahal tanpa disadari justru banyak hal tak terduga yang akan ditemui pada perjalanan menuju ke ketakutan yang belum tentu menakutkan itu.

Kata orang hidup berputar. Bisa senang, bisa sedih. Kuncinya: sabar dan legowo.
Sedih itu nggak selamanya.

Ini hanya ocehan tengah malam tanpa arti tanpa tujuan hanya ingin berbagi bahwa hidup ini indah dengan segala keindahannya jangan mudah putus asa kamu kuat mereka lemah.

Februari 2019

Share:

Monday, 28 January 2019

[sebuah ucapan untuk Kekasih]


Kepada Jantung Hati,

Akan ada yang meruap usai perayaan.
Entah rindu,
cumbu,
candu,
atau kepulan gejolak hati yang meluap-luap —ingin segera temu.

Meriah atau tidak, perayaan akan jadi bagian penting sebuah pengembaraan, sebab di sana ada renjana yang tak hanya satu rupa.
Namun, kadang-kadang, tak ada yang ingin kuberikan kecuali waktu dan puisi-puisi tengah malamku.
Di sana,
aku melihatmu menjelma apa saja.
Pot bunga,
lembar buku,
cermin,
bantal,
tirai,
hingga kue coklat yang kusimpan di laci meja.
Tapi tetap saja,
tak ada yang sebanding denganmu.

Namun, aku percaya,
kamu ada di setiap pejaman mata dan doa.



Pada Januari keempatmu bersamaku,
aku ingin menjadi bulir-bulir keringat di dahimu,
aku ingin menjadi derai gerimis yang jatuh di kamu,
aku ingin,
jadi doa yang meruntuhkan dosa-dosa.

Selamat menopang angka baru.
Aku ingin kamu tetap jadi kamu.


Salam sayang,
Resla.
Share: