Wednesday, 28 June 2017

203 #27

Aku bersungut-sungut di bawah ketiakmu. Seperti sebuah gunting yang berharap dapat merayu batu. Jika sebuah kertas yang memiliki ketebalan tak lebih dari satu inci saja bisa, lalu kenapa sebuah gunting yang jelas-jelas mampu merayu kertas justru tak bisa?

Menjadi wanita harus paham bagaimana menjadi gasing di tengah lautan potongan harga. Menjadi wanita harus paham menggandeng penolong bagi dirinya yang ia sendiri pun tahu pasti akan tenggelam. Beruntunglah, Tuhan memberi takdir bagi si lemah untuk bertemu si kuat yang senang melindungi.

Ada seorang wanita lincah yang menggerakkan kaki ke sana kemudian ke mari. Sudah lebih dari lima kali ia mondar-mandir di tempat yang sama. Di belakangnya, tampak seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut ikal sepanjang bahu. Wanita itu semakin lincah tatkala tampak raut tulus dari pria di belakangnya, seperti vitamin yang langsung memberikan energi lebih pada tubuh yang kelelahan.

Suatu hal langka yang patut dimanfaatkan dengan amat sangat bijak.

Selama tiga kali puasa-tiga kali lebaran kita bersama, ini kali pertama kau dengan senang hati membawakan plastik belajaan. Rautmu lelah, tapi kau masih ingin menemani kakiku melangkah. Pukul 22, setelah segala tempat kita kunjungi, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke tempat pertama. Ajaib! Kau tak marah apalagi bosan dan 'bete'.

Kapan lagi, pikirku. Disusul gejolak kemenangan yang tengah menyalakan kembang api di dalam hati.



Juni 2017
Selamat menikmati perayaan.

 
Share:

Friday, 2 June 2017

203 #26


Kertas ke 26. Apalagi yang musti kutuang?

Lidahku mengecap rasa yang tak asing dirasa. Tapi sepertinya harus kutafsir ulang kejanggalan yang cukup membikin mataku menyipit. Ada yang berziarah di sela-sela ludah. Teh ini tak asam. Kopi ini tak pahit. Hijau ini tak rumit. Hanya saja, ada yang lebih manis dari biasa...

"Pasti setiap orang punya kenangan di Bali," suara khas Oom Andre di penghujung ke 26. Ada suara lebak pada kami yang tengah semerbak. Sebuah kebahagiaan menampar kebahagiaan kami keras-keras hingga ke ulu hati. Membuat dua pasang kaki mengurungkan niat untuk pergi. Kurang ajarnya lagi, petikan gitar itu membuat dua pikiran ini benar-benar sejalan dengan dua pasang kaki tadi.

Perlahan, dan kurang dari tiga detik ada sebuah tangan melingkar dari belakang. Mengunci pinggang hingga perutku hangat. Sial, aku terjerat oleh pelaku yang sama sejak hampir seperempat dekade lalu. Telingaku merespons gelombang suara dan tarik-hembus nafas yang tak pernah bosan kurindui. Hebatnya, pipi ini tak kalah cepat merespons dengan gerakan saling tarik ke atas di kedua sisi bibir.

Rupanya, kejanggalan itu berasal dari sumber kemekaranku; kau.




Mei, 2017.
Kau; pemanis alami yang lebih sehat dari gula sachet instant yang katanya menyehatkan.


Share: