Thursday, 20 July 2017

203 #28

Serupa gincu. Denganmu aku warna-warni. Tanpamu aku pucat pasi.

Melamun di tengah hari tatkala awan sedang asyik bergumul dengan matahari. Sesekali mendung datang melerai. Membikin adem penonton yang dipermainkan cuaca. Aku berdeham, sepertinya ada yang lancang masuk ke tenggorokan. Lamunanku tamat sudah.

Kucari-cari air putih yang serupa denganmu; menyehatkan dan bikin segar. Kutenggak habis agar aku dapat melanjutkan lamunan tengah hari di dalam kamar yang terkunci. Kau tahu? Melamunkanmu seperti berenang di lautan biru yang luas dan bebas. Aku tak bisa berenang, tetapi aku bisa menyelam dan menyeberang. Sebab, begitu melamunkanmu, keajaiban datang sejalan keinginan.

Kuambil selimut yang serupa denganmu; lembut dan menghangatkan. Dililit selimut layaknya dipeluk kau; nyaman dan bikin ketiduran. Aktifitas melamunkan kau yang se-asyik ini membikin si Rindu bangun, "aku rindu," sambil mengerjap-ngerjapkan mata, suaranya yang berat karena baru bangun tidur itu memecah ruangan. Ia mengucek-ngucek matanya, "dan ingin balik dirindui," ia menyempurnakan.

Kudengar ada yang mengetuk pintu depan. "Rindunya ada?" Ah, rupanya yang dirindui Rindu datang untuk membayar rindu. Ialah Kangen.

Aku hambur ke pelukmu.



Semarang, 20 Juli 2017
Akulah Rindu yang merindui Kangen; kau.

Share:

Thursday, 13 July 2017

Pada Dadamu


Pada dadamu, kau simpan aku dalam wujud rindu. Menyala-nyala dalam binar mata dan rentetan kerut di sekitarnya. Menguap di sela-sela barisan rapi gigimu yang kukira pasukan pengibar bendera.

Pada dadamu, kau letakkan aku di sebuah tempat teraman dalam tubuhmu. Aku ikut bergetar sebab jantung yang debar. Debam menggema berulang, seirama degupmu. Milikku ikut menari, hingga menarikmu turun ke lantai dansa.

Mari bercinta dalam nada yang malas.
Alunan ini membawa mataku mabuk dalam tatapmu.


Semarang, 13 Juli 2017
00:00
Share:

Friday, 7 July 2017

Stasiun

Orang langlang dan lalu
Sebagian memulai rindu
Sebagian lagi melepas rindu
Tetapi bagiku, ada manfaat yang lebih khidmat dari sekadar rindu-rinduan yang tak akan tamat
Bahwa di tempat ini, aku mengingat
Rindu-rindumu dalam surat yang kuterima tiap Jumat
Hari ini, di Jumat kesekian di mana aku tak lagi kaurindui...

Kepada dingdong stasiun yang rutin mengalun,
Kepadamu mereka memulai dan melepas rindu
Kepadamu pula kulepas rindu-rindu yang telah lama bebas.




Semarang, 6 Juli 2017
Dalam tumpukan tiket keretamu yang tak seberapa,
terselip kenyataan bahwa ragamu tak pernah serindu canduan aksaramu.
Share:

Sensasi Membaca 'Saksi Mata: Klandestin' Ketika Berada di Kereta


Sepanjang rel kereta yang terlihat hanya bentangan sawah dan tumpukan sampah. Kontras memang, sebagian segar, sebagian nampar". Suara khas kereta yang berisik seolah menjadi jelmaan alunan nina bobok. Semua penumpang di gerbong tertidur, kecuali aku. Aku tak mampu mengubah suara berisik ini menjadi alunan yang menidurkan. Sebaliknya, pikiranku mengubahnya menjadi suara pengeboran yang lebih berisik dari suara kereta itu sendiri.

Mula-mula, suara itu hanya suara berisik kereta yang tak berarti, namun selang beberapa menit suara itu seperti menguasai pikiranku. Gelap, sesak, dan berisik.
"Nun jauh di sana kulihat lampu-lampu listrik yang suram menerangi lorong. Kuraba dinding yang bergetar. Sayup-sayup kudengar derum mesin-mesin berat dari sebuah proyek yang besar. Semakin lama suara itu semakin memekakkan telinga."

Aku tak ingin berhenti begitu saja. Aku ingin tahu jalan keluarnya. Aku masih meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa detik kemudian aku merasa takjub sekaligus heran.
"Aku telah memasuki sebuah kota di bawah tanah..."

Ketika kubayangkan definisi kota, begitu berbeda dengan apa yang ada di depanku. Meski bermandi listrik tetap saja gelap dan suram. Orang-orang menggunakan helm dengan lampu sorot di bagian depan. Mengerikan ketika kudengar ternyata mereka melakukan teror dan menculik orang-orang dari atas lewat gorong-gorong, untuk dijadikan budak.
Semakin lama, semakin mengerikan ketika kalimat,
"Aku tahu, barangkali aku tidak akan pernah sampai ke permukaan, tetapi itu juga tidak terlalu penting. Aku tetap mengebor, merayap, mengebor, dengan penuh kegembiraan. Aku tidak perlu menghancurkan sebuah kota, aku hanya perlu membebaskan pikiranku dari ideologi yang paling sempurna."
membuatku kembali pada sebuah gerbong kereta yang hanya tinggal aku sendiri yang terbangun.

Ah, aku baru saja diajak jalan-jalan oleh Seno Gumira Ajidarma.


*cerpen Klandestin karya Seno Gumira Ajidarma pernah dimuat di Harian Kompas pada 1993. Selain itu, juga dimuat di The Jakarta Post pada 1996 dan diterjemahkan oleh Dini S. Djalal dengan judul Clandestine.


Share: