Showing posts with label 226. Show all posts
Showing posts with label 226. Show all posts

Monday, 16 December 2019

226 #5

Yang lalu, lalu.
Yang tumbuh, tumbuh.
Tidak ada yang sempurna, tapi kamu dan kasih sayangmu pas buatku.

Menikah bukan transaksi jual-beli apalagi tawar-menawar. Menikah ialah bersedia.
Aku bersedia jadi istrimu, kamu bersedia jadi suamiku.
Aku bersedia mendengar ceritamu di malam hari, kamu bersedia membagi tugas rumah tangga.
Aku bersedia menjadi teman tidurmu, kamu tak marah jika aku lelah.
Menikah bukan perkara bebas bergulat di ranjang. Lebih dari itu, menikah ialah menikmati pergulatan itu.

Lebih dari itu lagi, menikah bukan perkara ranjang semata. Besok masak apa, akhir pekan kemana, sabun habis, pasta gigi habis, keran kamar mandi patah, genteng bocor, menyapu, bertanam, dan perkara-perkara menyenangkan lainnya.

Aku dan kamu bahkan sudah menikah sejak kali pertama saling menyayangi. Tapi kali ini, kita tervalidasi.

11.'19.

Share:

Tuesday, 3 December 2019

226 #4

percakapan sebelum tidur,
memelihara kasih yang sewaktu-waktu bisa lebur
ia memupuk,
di pundaknya ada aku dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang,
di pundakku ada kami,
teliti meruwat-merawat,
jika lelah istirahat.

aku punya pundakmu,
kamu punya pundakku.

ia sekarang lelap,
mungkin di mimpinya ada ketakutan.
mungkin hanya putih,
mungkin hanya gelap,
mimpi memang tak pernah punya warna.

tidurlah,
pukul enam kubangunkan kau,
kembalilah pada tembok itu putih,
lukisanmu di bawah jam dinding itu penuh warna,
dan aku yang di sebelahmu ini bisa jadi merah jingga kuning hijau biru nila atau ungu.

10.'19
Share:

226 #3

meramu-memaruh,
nasib baik menyuapi jiwa kita yang sama laparnya,
aku menyauk permintaan tanpa takut tersedak, sedang kau mendulang asa pada bibirmu lalu bibirku,
kita kenyang,
butuh air putih untuk mengisi ulang.
lalu,
kita menanak catatan dari percakapan-percakapan,
yang dimatangkan agar gampang ditelan.

sayang,
keputusan itu seperti nasi.
jika kurang, lapar.
jika penuh, mual.
jika basi, tak berarti.

tapi perutmu dan perutku sudah lama hidup bersama.
urusan nasi tak seberat itu.
urusan porsi tak sepelik itu.
jangan pusing soal angka,
sebab saling memahami tak perlu matematika.

September 2019.


Share:

Wednesday, 21 August 2019

226 #2

saban malam,
kita disaksikan rembulan
menghitung jengkal kedamaian pada ujung mata sendiri
saban pagi yang muda,
kita dirayakan jengkal kedamaian yang telah turun pada ujung bibir sendiri
akan terus kau temui kedamaian itu saban waktu
jika kau dihancurkan kota, pulanglah
jika kau dikhianati janji-janji, pulanglah
jika kau dikejar cerca, pulanglah
jika kau dicurangi strata, pulanglah
akan kita rayakan dengan kedamaian yang ada pada tubuh kita
kita akan sering pesta
dengan masakan rumah dan lagu-lagu indah
hingga nanti dilelapkan masa,
pada masa itu, renyapkan lukamu di kakiku,
sebab jeda juga butuh tenaga.



Agustus 2019
Share:

Monday, 22 July 2019

226 #1

menjadi gabung,
jiwaku landung,
selamanya gandrung.
kekasihku,
aku ingin menyimpan jari manisku rapat-rapat,
agar cintamu pudat —tak pudar.
pada yang lingkar, tresnamu mengakar,
pada yang lingkar, kau-aku berkelakar.
menjadi sirine pada pagi hari di pipi,
menjadi gurih pada petang di bibir,
menjadi suam pada malam hingga fajar.
bahwa menjadi junjungan itu sulit, tapi kau selalu bisa banyak hal,
dan aku akan jelma menjadi induk beras yang handal.



Juli 2019
Share: