Showing posts with label Kawan Sepanjang Masa. Show all posts
Showing posts with label Kawan Sepanjang Masa. Show all posts

Thursday, 3 November 2016

Tentang Obrolan di Meja Makan



Masing-masing dari kami akan merindukan obrolan di meja makan…

Tak hanya suara sendok-garpu yang beradu dengan piring. Selalu saja ada cerita yang bahkan membuat irama sendok-garpu-piring itu nyaris tak terdengar. Mulai dari cerita tentang program kerja, hingga perdebatan tentang sebutan nama untuk anak kera yang tak habis-habisnya. Di piring kami selalu tersedia sepiring cerita dengan sayur tawa dan lauk gurau. Lengkap dengan es canda yang tetap hangat meski dicampur es batu. Ya, masing-masing dari kami akan merindukan obrolan di meja makan.

Bagi kami, tak cukup hanya tiga kali sehari. Saat tak sedang makan pun, tak jarang kami menggunakan meja makan sebagai tempat favorit kami untuk berbincang. Meja berbentuk segi empat dengan taplak berwarna biru tua yang terkesan tak pernah diganti itu, harus lengkap dipadukan dengan sembilan kursi plastik berwarna hijau yang mengelilingi meja dan tumpukan piring berjumlah sembilan pas di atas meja.

Kami yang tak pernah saling mengenal sebelumnya mendadak menjadi sekumpulan manusia dengan berbagai karakter yang justru membuat kami amat sangat klop. Mulai dari Aris yang bijak, katanya, Hadi yang tanpa berbicara pun bisa membuat kami semua tertawa, Fandi yang begitu terobsesi dengan BJ Habibie, Fahmi yang otaknya mampu menampung segala macam ilmu, Wahyu yang seperti ibu bagi kami, Yayang yang siap sedia di dapur, Nunu yang mahir dalam perbendaharaan uang, dan Vero yang mengajarkan kami tentang kesabaran. Mungkin benar, jika seseorang pernah mengatakan bahwa perbedaan justru menyatukan. 

Saya bersyukur dipertemukan dengan mereka. Pun saya bersyukur ditempatkan di desa yang tak terjangkau sinyal internet. Jika tidak, mungkin akan lain cerita. Bisa saja, tak akan ada obrolan di meja makan. 

Setelah ini, kapan lagi kita akan menikmati obrolan di meja makan?


Oktober 2016
Aku menyayangi mereka dengan kadar yang kutakar sendiri.
Tak ada yang timpang sebab segala telah ditimbang.
Tetaplah rukun hingga kapanpun.


Share:

Saturday, 24 March 2012

Just Like When We Met The First Time




Sekitar 3 tahun yang lalu...
Beberapa minggu setelah Masa Orientasi Siswa di sekolahku selesai. Berawal dari ia meminjam bukuku, entah untuk apa saat itu dan ia menemukan sebuah tulisan pada bagian belakang bukuku, "Something About Lola."
Kemudian ia bertanya, " Kamu suka SAL?"
"Kurang lebih seperti itu," jawabku.
"Saat ada acara, dari gerejaku menyanyikan salah satu lagunya," lanjutnya.
"Ohya? Yang apa?" tanyaku.
"Aku kurang ingat, tapi sepertinya The Best Part of Writing A Song is To Name It," jawabnya.
"Wow, hafal?" tanyaku lagi.
"Ya, sedikit," jawabnya ringan.
"Boleh catatkan liriknya untukku?" pintaku.
Ia hanya mengangguk. Kemudian kuberikan ia buku dan bolpoint dan kubiarkan ia menulis di bukuku.
"Terima kasih, Mita." kataku setelah ia selesai mencatatkannya untukku. Ia hanya tersenyum...






Itu hanya sebagian kecil tentang bagaimana awal pertemananku dengan Lupi Paramita (lupiparamita.blogspot.com), hingga sekarang.
Aku menganggapnya lebih dari seorang sahabat, lebih dari harga yang harus kubayar, lebih dari sesuatu yang harus kujaga dan kurawat...
Apapun kisahku, ia selalu terlibat di dalamnya. Begitu-pun sebaliknya.
Tinggal menghitung hari, kurang dari 2 bulan kedepan aku dan dia akan jarang bertemu, tidak lagi sesering sekarang atau-pun 3 tahun lalu...
Kuharap kita akan tetap seperti ini...





"Pertemuan denganmu sebuah kebetulan -tentu saja bukan kecelakaan- kau diluar rencanaku. Menggembirakan diri."
Share: