Wednesday, 27 December 2017

203 #33

Menjadi milikmu, adalah nasib mujur bagi wanita yang tak punya apa-apa. Bak kaya tanpa bekerja, aku ingin bagi-bagi harta ke fakir asmara.
***
Namaku adalah doa yang menjelma kata. Dan kamu wujud makna yang menghidupiku secara cuma-cuma.

Ketika mereka bertanya tentang aku, sebenarnya mereka sedang bertanya tentangmu. Mengendapkan rasa ingin tahu di ujung tanda tanya yang begitu-begitu saja. Terkadang, aku urung menjelaskan sebab lelah. Kenyataannya, tak sedikit yang menyembunyikan keingintahuan di balik wujud kepedulian.

Pada sore yang jingganya memesona, aku mengendap di pelukmu yang masih tetap sama. Aku bercerita dan kamu senyum-senyum saja. Aku menggerutu dan kamu mulai merayu. Jangan buat aku bimbang, sayang. Sudah tiga-tiga kali kutulis cerita untukmu. Cerita ini tak akan henti, maka bawa aku ke istana yang bisa disebut rumah.

Tak hanya pada dua puluh. Pada tiap ganjil bahkan genap, akan kutuliskan cerita yang mau diapa-apakan pun tetap hanya engkau yang ada di sana.

Desember 2017
Memang benar kata "Madre", bahwa 33 adalah trinitas yang saling bercermin, melengkapi, dan mengisi.

Share:

Pongah

Bahwa setiap yang angkuh pasti akan jatuh.
....

Jiwa-jiwa yang terlampau sepuh, untuk mengaku rapuh.
Terlalu kenyang makan julang.
Sebab sejak sulung disuapi sanjung.
Ternyata yang perlu sembuh bukan hanya luka.
Kesombongan pun harus dicari obatnya.



Desember 2017


Share:

Wednesday, 29 November 2017

203 #32

Ini musim hujan dan aku tak begitu menyukainya. Sebab segala yang kukenakan harus basah seketika padahal untuk memakainya harus kulewati menyikat bersih hingga menjemur di bawah matahari. Tetapi, kau lihat hujan yang beraturan dan tak membikin gaduh ini? Sungguh, hujan yang seperti ini yang membuatku menjadi seorang plin-plan sejati. Bagaimana tidak? Damai yang amat tentram ini kudapat dari butir air yang jatuh tepat di hati sang bumi yang terlanjur gersang dan tersakiti.

Damai yang menyimpan dingin. Kau yang tak habis kuingin.

Kulingkarkan jaket tebalmu yang lebih pantas disebut dress ketika sampai di tubuhku. Sesekali kurapatkan kedua telapak tangan dan kugosokkan berulang agar dingin ini tak begitu menyiksa. Tak ada kopi hangat apalagi perapian. Aku kedinginan dan kesepian. Tetapi kau, begitu hangat dan banyak bicara di kepala.

Kupakai kaos kaki agar hangat cepat-cepat menyerbuku. Sebab pernah kudengar nasihat agar selalu menjaga kaki untuk tetap hangat adalah kunci bagi hati yang tenang —selain beribadah tentunya. Aku memeluk diri sendiri sambil kukatakan padamu bahwa aku kedinginan.

Kemudian kau bilang, "Kupeluk kau dari kejauhan, sementara biar jaketku yang menemanimu bercumbu."


November 2017
Kepayang aku di tengah hujan.
Share:

Sunday, 12 November 2017

203 #31

Sajak yang kutulis untukmu,
adalah wajah kebungahan akan engkau —racun yang nikmat nan memikat.

Saat kau tuang anggur ke gelasku dan mu
Kulihat kau semegah lampu-lampu di atas kita
yang terang dan menarik perhatian
yang gelap jika redup
yang kutunggu saat petang jelang malam
yang tak bisa kutinggalkan saat tidur.

Jelang perempat malam,
Ketika tak sengaja aku terbangun,
Kulihat kau masih terjaga,
Menjaga aku,
yang ketakutan dikejar mimpi buruk.


Oktober 2017
sadjak ini memanglah untukmu,
yang sedang kupandang lamat-lamat.

Share:

Friday, 10 November 2017

Senandika

Aku terpejam sebab bimbang
Kutampung derau yang perlahan mendesau
Kini, nafasku ikut bimbang
Pelan, kubuka kelopak yang melalau
Ada relang yang membuat senyumku mengembang

Bahwa di persimpangan sana
Ribuan tangan senantiasa ada
Menjemput aku
Yang tengah abu-abu

Aku kini biru

Semarang, 12 Agustus 2017
Bahwa hidup adalah tentang pemakluman-pemakluman Tuhan.
Share:

Tuesday, 10 October 2017

Selingan Saat Iklan

Merindumu acapkali bak menyalakan lilin saat makan malam bersamanya.
Tak perlu,
tapi kuingin.
...
Kutiup kau saat kami sepakat menuju ranjang.
***

Aromanya melekat pada sarung bantal merah magenta yang sempat jadi favoritnya. Sudah satu tahun lebih, tetapi aroma sialan itu masih saja melekat. Meski sudah beribu kali kucuci hingga harus berpindah-pindah tempat laundry.

Ada hal magis ketika ia memutuskan untuk tak akan lagi mampir ke sini. Segala yang ia suka, sepakat enggan menghilangkan aroma khasnya. Aroma khas kekayuan yang maskulin bercampur keringat.

Sial. Sial. Sial.

Sayang sekali. Hal itu tak cukup membuatku rindu. Sebab telah kutemukan aroma yang lebih memabukkan dari sekadar parfum anticuci miliknya.

10/10/17

Share:

Friday, 29 September 2017

720

Di dua belas pagi,
Kubangunkan kau lewat kejutan
yang itu lagi-itu lagi,
Sambil terus mengucap semoga,
Kau meniup lilin muram di hidupmu yang terang,
Tak perlu lilin,
Tak perlu nasi kuning,
Sebab aku masih bisa mengucap semoga,
Untukmu yang lebih dewasa dan memesona.



30/09/17
Berbahagialah, sebab 30 September tak hanya milik G30S/PKI.
Share:

Thursday, 28 September 2017

Maaf yang Gagal

Kau gigil
di dini yang lengking,
Aku gagal
di petang yang lengkung.
***

Seorang Muda terduduk lesu di tepian ranjang yang kusut. Suara adzan tak mampu meluruskan pikirannya yang kalut. Tampaknya, ia merasa menjadi pria paling berdosa karena menjadi penyebab kemurungan seorang gadis.

Ia sudah tahu betul hal ini akan terjadi. Tetapi, kini ia sadar, hidup ini tak cukup hanya dengan membayangkan yang akan terjadi. Tak ada simulasi. Tak ada geladi bersih.

Maaf.

Ucapnya dalam hati.

"Kupikir, semua akan menjadi lebih baik jika semua berakhir. Ternyata aku salah," ia gemetar ketika suara dering sudah berhenti dan terdengar merdu, "Halo," yang begitu akrab di telinganya.

"Aku merasa lebih gagal sekarang," suaranya tampak terengah.

"Jangan bertingkah seenaknya, seolah cuma kau yang punya kuasa,"  suara si gadis yang penuh kemarahan dan sisa tangisan terdengar lebih berani dari biasa.

Tut tut tut. 

Suara telepon ditutup.

Ada luka menganga di gerak tangan si gadis yang menutup telepon tiba-tiba. Sempurna sudah gagalmu, wahai Seorang Muda.



28/09/17
Share:

Wednesday, 27 September 2017

Embara

Kutemui pagi yang muram
di sekujur tiket perjalanan
dan koper biru lebam,
Sementara di seberang jalan
ada air mata kehilangan.

***
Yang paling tak masuk akal dari tandasnya asmara adalah jarak yang membentang dan rindu yang tak lagi garang. Kau, dan tiket yang kau jadikan senjata, menusukku tiba-tiba. Sungguh, segala bahagia yang kau jejalkan, ingin buru-buru kumuntahkan.



28/09/17
Pada badan pesawat di langit biru yang memelukmu —yang tak lagi memelukku.
Share:

Tuesday, 26 September 2017

Mojito

Sesegar mojito,
Asammu yang malu-malu
kubalas dengan pahitnya bacardi,
Sungguh,
Kau ini,
Sensasi yang membikin aku jatuh cinta berkali-kali.


24/9/17
Teguk pertama, aku mabuk pesona. Teguk kedua, ada keunikan yg memesona. Teguk ketiga, kuingin tambah lagi-tambah terus.
Mojito berupa kamu, cuma milikku.
Segar ini pas! 🍃

Share:

Bimsalabim! Sembuhlah luka tanpa banyak cara

Sungguhpun 
hancur mumur 
segala rasa hati Tuan,
Biarlah biar
ampun pangkas sisa rasa
ampun berpayah-payah,
Sebab perihal sembuh luka
hati seorang yang tahu cara.

***

Anak muda, putus cinta adalah hal biasa. Perpindahan dari fase berbunga-bunga ke gugur bunga secara tiba-tiba tentu mengagetkan, bukan?
Pernah kudengar, ada seorang wanita yang mencoba mengakhiri hidupnya karena sang kekasih pergi ketika ia sedang sayang-sayangnya. Ada juga, seorang remaja yang dengan cepat mendapatkan pengganti padahal baru kemarin hubungannya tandas. Satu lagi, si gadis yang urung makan karena tak bersemangat melakukan apa-apa pascaputus.
Setiap orang memiliki tingkat kepatah-hatian yang berbeda. Pun aku.
Banyak sekali cara agar luka cepat sembuh. Tapi, tahukah? Tak ada cara paling ampuh selain membiarkan apa-apa berjalan tanpa dipaksa. Tak perlu barpayah melupakan dia, karena justru membuatmu lebih mengingatnya. Cukup. Biarkan otakmu berjalan seperti biasa, lakukan hal lain. Dengan begitu, tanpa usaha keras, ingatanmu perlahan akan melupa tentangnya.

23/09/17
Share:

Friday, 22 September 2017

Karma—

Pada jenggala gala
yang kejam dan tumpat makna
Kutitipkan bening-benang luka
yang gemuruh guruh

Jika tiba petuah tuah
rasuk dari tepi-ke hati-ke diri
Lingkuplah jerit-sakit, rintih-tindih
Seluruh luruh
pergi jauh

***

"Dari sekian ratus janji yang kau percayai, tak satupun keluar dari hati," pengakuanmu mengandung racun yang membunuhku perlahan.

"Jangan berharap lebih," sinismu lagi.
"Aku tak pernah menyayangimu," lagi.

Sudah. Cukup.

"Meski kelihatannya demikian."

Cukup.

"Pergilah. Aku tak butuh kau, meski kau butuh aku sangat," ia berbalik membelakangiku, kakinya tampak selangkah menjauh dariku.

"Ah, satu lagi ...,"

Tolonglah.

"Jangan pernah mencari pengganti sepertiku. Itu terlampau sulit untukmu," senyum kecutmu yang tanpa dosa itu membuatku tampak bodoh. Punggungmu terlihat menjauh.

Aku yang mudah percaya, menjadi sanksi dengan apa yang baru saja terjadi.

Rasa menangmu yang angkuh kala lukaku tumbuh itu sungguh memuakkan. Berhari-hari aku merasa seperti pecundang, diam dalam kekalahan yang sebenarnya bisa kubalas kejam. Bisa saja kukempeskan ban mobilmu, kuteror kau melalui pesan berantai, atau kubakar rumahmu di dini hari. Tetapi, aku bukan pendendam.

Kelak, jika kau merasa dibalas —entah oleh siapa, itu bukan aku, melainkan sumpahmu.



22/9/17
Share:

Wednesday, 20 September 2017

203 #30

"Selamat, sudah setengah perjalanan menuju ke —yang lebih— nganu," lirihnya di riuh jalanan Sekaran. Tangannya mengelus tanganku perlahan. Sungguh, keromantisan di bawah komandoku ini tampak 'sedikit' menyiksanya.

Kuingin tertawa. Tapi, dia sudah setengah mati membangun keromantisan yang tak ada romantis-romantisnya sama sekali.

Hahahahahahaha. Ups, kelepasan.

"Semoga nggak jadi 'jagain jodoh orang', ya," timpalku mengundang gelak hahahahahahaha kami yang tak perlu lagi ditahan.

Setelah itu kami tenggelam. Saling mengucap amien diam-diam.

Untuk kali kesekian, tak ada perayaan besar-kecil-an. Hubungan yang tidak sebentar ini sudah bukan tentang memohon untuk tak saling meninggalkan, tetapi tentang berkomitmen agar tetap dalam dekapan. Kami saling teritorial tanpa melupakan akal.

Kalau kembali menengok ke belakang, rasa-rasanya mustahil jika tidak senyum-senyum sendiri. Entah karena gemas atau sinis. Dulu, banyak orang menyumpahi agar kami tak sama-sama lagi. Meski belum bisa sepenuhnya membunuh doa mereka, setidaknya masing-masing dari kami telah berada pada pencapaian yang tak terduga.

Tiga puluh —dua-setengah tahun— sudah.

Tentang segala serapah yang malah membikin kami lebih betah. Yang abunya menambah corak warna-warni kami sepanjang sejarah. Kami terus rekah.





September 2017
Mengintip tiga yang semakin mengajak dewasa.
Share:

Sunday, 17 September 2017

203 #29

Si flamboyan itu memang bajingan. Sebab di tangannya, gandrung ini purnazaman. 

***
Ada jarak setinggi 26cm yang rasa-rasanya membikin kami tampak aneh ketika bersebelahan. Tetapi, tak tahukah kalian? Ketika kami berpeluk, detak jantungnya tepat di telingaku.

Aku adem dalam peluk gratis tanpa tanda bintang, tanpa syarat dan ketentuan, tanpa harus beli ini-itu duluan.

"Kau bukan penyair culas, kekasih
Cuma penyihir yang melintas ketika aku ringkih"
—Sitok Srengenge

***
Sesekali ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, "Hah, sudah mulai ganggu ini rambut," kesal ia mengumpat tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

Aku gemas tiap kali mendengar ia mengeluh begitu.

Aku suka rambutnya yang bergelombang mulai memanjang. Panjangnya sudah melebihi bahu. Tiap kali diboncengnya, aku selalu bisa mengendus aroma rambut wanginya yang tak cukup ditampung helm.

Sambil gelendotan dan berpengangan erat, aku nyaman di punggungnya sambil senyum-senyum kasmaran. "Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" tebakannya yang presisi itu kuanggap sebagai suatu kebetulan.

Aku hanya tertawa kecil dan membenarkan posisi boncengku.
Tangannya menarik tanganku agar memeluknya lebih erat. Aroma rambut berpadu dengan jaket semakin membikin aku kasmaran.

"Sungguh, jika ini benar cinta, aku tak takut jatuh lagi."
—Moammar Emka

***
[Bilur]
Sebab ruammu lebamku
Aku kantuk dalam elegi sendu
Kuingin serupa jenggala yang merdu
Membusung dalam sesat yang biru




Agustus 2017
Aku senang tersesat dalam kamu.


Share:

Thursday, 20 July 2017

203 #28

Serupa gincu. Denganmu aku warna-warni. Tanpamu aku pucat pasi.

Melamun di tengah hari tatkala awan sedang asyik bergumul dengan matahari. Sesekali mendung datang melerai. Membikin adem penonton yang dipermainkan cuaca. Aku berdeham, sepertinya ada yang lancang masuk ke tenggorokan. Lamunanku tamat sudah.

Kucari-cari air putih yang serupa denganmu; menyehatkan dan bikin segar. Kutenggak habis agar aku dapat melanjutkan lamunan tengah hari di dalam kamar yang terkunci. Kau tahu? Melamunkanmu seperti berenang di lautan biru yang luas dan bebas. Aku tak bisa berenang, tetapi aku bisa menyelam dan menyeberang. Sebab, begitu melamunkanmu, keajaiban datang sejalan keinginan.

Kuambil selimut yang serupa denganmu; lembut dan menghangatkan. Dililit selimut layaknya dipeluk kau; nyaman dan bikin ketiduran. Aktifitas melamunkan kau yang se-asyik ini membikin si Rindu bangun, "aku rindu," sambil mengerjap-ngerjapkan mata, suaranya yang berat karena baru bangun tidur itu memecah ruangan. Ia mengucek-ngucek matanya, "dan ingin balik dirindui," ia menyempurnakan.

Kudengar ada yang mengetuk pintu depan. "Rindunya ada?" Ah, rupanya yang dirindui Rindu datang untuk membayar rindu. Ialah Kangen.

Aku hambur ke pelukmu.



Semarang, 20 Juli 2017
Akulah Rindu yang merindui Kangen; kau.

Share:

Thursday, 13 July 2017

Pada Dadamu


Pada dadamu, kau simpan aku dalam wujud rindu. Menyala-nyala dalam binar mata dan rentetan kerut di sekitarnya. Menguap di sela-sela barisan rapi gigimu yang kukira pasukan pengibar bendera.

Pada dadamu, kau letakkan aku di sebuah tempat teraman dalam tubuhmu. Aku ikut bergetar sebab jantung yang debar. Debam menggema berulang, seirama degupmu. Milikku ikut menari, hingga menarikmu turun ke lantai dansa.

Mari bercinta dalam nada yang malas.
Alunan ini membawa mataku mabuk dalam tatapmu.


Semarang, 13 Juli 2017
00:00
Share:

Friday, 7 July 2017

Stasiun

Orang langlang dan lalu
Sebagian memulai rindu
Sebagian lagi melepas rindu
Tetapi bagiku, ada manfaat yang lebih khidmat dari sekadar rindu-rinduan yang tak akan tamat
Bahwa di tempat ini, aku mengingat
Rindu-rindumu dalam surat yang kuterima tiap Jumat
Hari ini, di Jumat kesekian di mana aku tak lagi kaurindui...

Kepada dingdong stasiun yang rutin mengalun,
Kepadamu mereka memulai dan melepas rindu
Kepadamu pula kulepas rindu-rindu yang telah lama bebas.




Semarang, 6 Juli 2017
Dalam tumpukan tiket keretamu yang tak seberapa,
terselip kenyataan bahwa ragamu tak pernah serindu canduan aksaramu.
Share:

Sensasi Membaca 'Saksi Mata: Klandestin' Ketika Berada di Kereta


Sepanjang rel kereta yang terlihat hanya bentangan sawah dan tumpukan sampah. Kontras memang, sebagian segar, sebagian nampar". Suara khas kereta yang berisik seolah menjadi jelmaan alunan nina bobok. Semua penumpang di gerbong tertidur, kecuali aku. Aku tak mampu mengubah suara berisik ini menjadi alunan yang menidurkan. Sebaliknya, pikiranku mengubahnya menjadi suara pengeboran yang lebih berisik dari suara kereta itu sendiri.

Mula-mula, suara itu hanya suara berisik kereta yang tak berarti, namun selang beberapa menit suara itu seperti menguasai pikiranku. Gelap, sesak, dan berisik.
"Nun jauh di sana kulihat lampu-lampu listrik yang suram menerangi lorong. Kuraba dinding yang bergetar. Sayup-sayup kudengar derum mesin-mesin berat dari sebuah proyek yang besar. Semakin lama suara itu semakin memekakkan telinga."

Aku tak ingin berhenti begitu saja. Aku ingin tahu jalan keluarnya. Aku masih meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa detik kemudian aku merasa takjub sekaligus heran.
"Aku telah memasuki sebuah kota di bawah tanah..."

Ketika kubayangkan definisi kota, begitu berbeda dengan apa yang ada di depanku. Meski bermandi listrik tetap saja gelap dan suram. Orang-orang menggunakan helm dengan lampu sorot di bagian depan. Mengerikan ketika kudengar ternyata mereka melakukan teror dan menculik orang-orang dari atas lewat gorong-gorong, untuk dijadikan budak.
Semakin lama, semakin mengerikan ketika kalimat,
"Aku tahu, barangkali aku tidak akan pernah sampai ke permukaan, tetapi itu juga tidak terlalu penting. Aku tetap mengebor, merayap, mengebor, dengan penuh kegembiraan. Aku tidak perlu menghancurkan sebuah kota, aku hanya perlu membebaskan pikiranku dari ideologi yang paling sempurna."
membuatku kembali pada sebuah gerbong kereta yang hanya tinggal aku sendiri yang terbangun.

Ah, aku baru saja diajak jalan-jalan oleh Seno Gumira Ajidarma.


*cerpen Klandestin karya Seno Gumira Ajidarma pernah dimuat di Harian Kompas pada 1993. Selain itu, juga dimuat di The Jakarta Post pada 1996 dan diterjemahkan oleh Dini S. Djalal dengan judul Clandestine.


Share:

Wednesday, 28 June 2017

203 #27

Aku bersungut-sungut di bawah ketiakmu. Seperti sebuah gunting yang berharap dapat merayu batu. Jika sebuah kertas yang memiliki ketebalan tak lebih dari satu inci saja bisa, lalu kenapa sebuah gunting yang jelas-jelas mampu merayu kertas justru tak bisa?

Menjadi wanita harus paham bagaimana menjadi gasing di tengah lautan potongan harga. Menjadi wanita harus paham menggandeng penolong bagi dirinya yang ia sendiri pun tahu pasti akan tenggelam. Beruntunglah, Tuhan memberi takdir bagi si lemah untuk bertemu si kuat yang senang melindungi.

Ada seorang wanita lincah yang menggerakkan kaki ke sana kemudian ke mari. Sudah lebih dari lima kali ia mondar-mandir di tempat yang sama. Di belakangnya, tampak seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut ikal sepanjang bahu. Wanita itu semakin lincah tatkala tampak raut tulus dari pria di belakangnya, seperti vitamin yang langsung memberikan energi lebih pada tubuh yang kelelahan.

Suatu hal langka yang patut dimanfaatkan dengan amat sangat bijak.

Selama tiga kali puasa-tiga kali lebaran kita bersama, ini kali pertama kau dengan senang hati membawakan plastik belajaan. Rautmu lelah, tapi kau masih ingin menemani kakiku melangkah. Pukul 22, setelah segala tempat kita kunjungi, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke tempat pertama. Ajaib! Kau tak marah apalagi bosan dan 'bete'.

Kapan lagi, pikirku. Disusul gejolak kemenangan yang tengah menyalakan kembang api di dalam hati.



Juni 2017
Selamat menikmati perayaan.

 
Share:

Friday, 2 June 2017

203 #26


Kertas ke 26. Apalagi yang musti kutuang?

Lidahku mengecap rasa yang tak asing dirasa. Tapi sepertinya harus kutafsir ulang kejanggalan yang cukup membikin mataku menyipit. Ada yang berziarah di sela-sela ludah. Teh ini tak asam. Kopi ini tak pahit. Hijau ini tak rumit. Hanya saja, ada yang lebih manis dari biasa...

"Pasti setiap orang punya kenangan di Bali," suara khas Oom Andre di penghujung ke 26. Ada suara lebak pada kami yang tengah semerbak. Sebuah kebahagiaan menampar kebahagiaan kami keras-keras hingga ke ulu hati. Membuat dua pasang kaki mengurungkan niat untuk pergi. Kurang ajarnya lagi, petikan gitar itu membuat dua pikiran ini benar-benar sejalan dengan dua pasang kaki tadi.

Perlahan, dan kurang dari tiga detik ada sebuah tangan melingkar dari belakang. Mengunci pinggang hingga perutku hangat. Sial, aku terjerat oleh pelaku yang sama sejak hampir seperempat dekade lalu. Telingaku merespons gelombang suara dan tarik-hembus nafas yang tak pernah bosan kurindui. Hebatnya, pipi ini tak kalah cepat merespons dengan gerakan saling tarik ke atas di kedua sisi bibir.

Rupanya, kejanggalan itu berasal dari sumber kemekaranku; kau.




Mei, 2017.
Kau; pemanis alami yang lebih sehat dari gula sachet instant yang katanya menyehatkan.


Share:

Tuesday, 9 May 2017

203 #25

Bahwa tak mudah menjadi oase di tengah gurun. Kau bisa saja mengering karena terik, atau tertumpuk pasir yang terbawa angin dan perlahan menghabiskan genangmu; membuat tumbuhan dan permukiman tak punya daya untuk tetap bernyawa. Bahwa untuk menjadi apa yang kau mau tak akan semudah kedengarannya.

Tetapi, percayakah kau akan hal-hal ganjil yang justru membuatmu merasa genap?

"Ya!" 
Ternyata menjawab pertayaan sendiri tak sesulit jabaran paragraf pertama. Namun, tetap saja, seruan ya telah melalui proses yang lumayan membikin keringetan; encok; pegal-pegal; pilek; dan bahkan kehilangan teman yang memang tak pantas dijuluki demikian, hingga menemukan orang-orang baru yang menggenapkan.

Ajaib. Memang, jika ingin berenang tenang ke tepian haruslah ngoyo berakit-rakit ke hulu. Pelajaran tentang ganjil dan genap membawa angka genap kami memasuki ganjil ke-13 yang ganas. Menjadi wahah bagi tumbuhan dan permukiman sekitar. Bahagia menjadi apa yang kita idam meski tak seragam. Sepakat, kami mengintip keributan di depan rumah melalui gorden merah, bersembunyi untuk mengantisipasi jurus apa yang pantas untuk dijadikan sebagai senjata dalam menghadapi, yang pasti; kami akan tetap seperti ini menjadi diri sendiri.



April 2017
Hubungan ini jujur dan tak hambar.
Jangan pernah salah menaruh garam pada sayur; dengan gula.
Share:

Thursday, 23 March 2017

203 #24

Sepertiga perjalanan sudah. Sementara, tujuan kami masih belum tamat. Perahu -yang dulu hanya sebuah rakit ini, masih harus melewati dua pertiga sisanya untuk beralih ke perahu yang lebih besar, orang biasa menyebutnya kapal pesiar. Semakin jauh, semakin besar sarana yang kami butuhkan. Bukan apa-apa, hanya saja jumlah kami akan semakin banyak dan tak cukup jika cuma menempati sebuah kapal kecil, apalagi rakit.

Menapaki samudra, berganti sarana. Aku selalu merasa tenang di segala cuaca. Sebab, nahkodaku tak buta arah. Jika kami tersesat dan di sepanjang pandang hanya tampak berliter-liter air, ia hanya mendongakkan kepala tanpa berkata apa-apa. Dan segalanya kembali baik-baik saja.

Saat itu, langit sedang oranye-oranyenya dan cuaca sedang asyik-asyiknya, ketika mengalun tembang apik yang hampir membuat pipiku kuyup. Kuakui, aku memang penangis ulung, yang bisa tiba-tiba ndlewer ketika sedih, bingung, gembira, bahkan tanpa perlu mengapa. Tetapi, di hari yang tua itu, aku sedang tak selera menangis. Kudongakkan kepala agar air asin ini gagal membengkakkan mata. Alunan itu sukses meracuniku hingga kini, dan mungkin nanti. Lagi-lagi ia pelakunya.

Itu merupakan salah satu cara ia berbicara. Apa saja bisa jadi sarana, dari tulisan hingga musik.

Kini, dia tengah menghampiri kami. Kalau tidak salah ini adalah kali kedua dia kemari, dan aku tak mungkin salah hitung. Terakhir kali dia datang satu tahun ke belakang. Suguhan dan jamuan masih tetap sama. Pun kami. Setiap perjalanan telah melewati proses yang hanya mereka sendiri yang tahu. Entah baru beberapa hari atau bahkan sudah bertahun-tahun. Tak pernah ada yang mudah. Buktinya, ada yang tumbang dan ada yang pantang. Dan lagi-lagi kita semua kembali pada kenyataan bahwa hidup adalah pilihan. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan, entah memilih satu di antara dua, tiga, atau bahkan di antara banyak. Dan kami memilih pantang dibanding tumbang.

Untuk setiap perjalanan yang akan terus kami jalankan. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Yang tak sebentar telah menemui bermacam peristiwa. Dan hanya kami yang paling paham tiap incinya.


Semarang, 20 Maret 2017
Ketika kami telah menemui rasa yang lebih dari sekadar tulus.

Share:

Sunday, 19 February 2017

203 #23

Tak ada yang menganggap 23 sebagai angka spesial. Jika diibaratkan hitungan bulan, terlalulah panjang untuk sebuah perayaan satu tahun, dan kuranglah lengkap untuk sebuah perayaan tahun kedua. Jika diibaratkan hitungan tahun untuk pria, akan menjadi posisi yang serba salah. Sedangkan, jika diibaratkan hitungan tahun untuk wanita, tak jauh berbeda dengan posisi pria tadi. bahkan lebih. Belum menikah salah, belum lulus salah, belum bekerja salah, apalagi bagi yang belum punya pasangan...

Tetapi, akan kubuat 23 menjadi spesial. Alasannya sederhana, karena memang bagiku angka tersebut spesial. Baiklah, aku akan memulainya dengan sebuah kutipan bahwa hidup penuh dengan kebetulan-kebetulan. Kemudian, apa hubungan antara angka 23 dengan kebetulan? Ya, mungkin aku akan kembali memulainya dengan memoles sedikit judul di atas:

2ø3
Ketika aku menulis ini, aku adalah wanita dengan posisi yang kusebutkan pada paragraf pertama.
Ketika aku menulis ini, kau pun berada di posisi pria yang juga kusebutkan tadi.
Ketika aku menulis ini, hari ini adalah duapuluhtiga kita.
Ketika aku menulis ini, perjalanan kita sudah sejauh ini.
Ketika aku menulis ini, perjalanan kita masih sangat jauh.
Ketika aku menulis ini, keprihatinan tengah mengelilingi kita.
Ketika aku menulis ini, masing-masing mimpi kita semakin butuh dikejar lebih kencang.
Ketika aku menulis ini, kuingat sudah sangat banyak tawa dan tangis yang kubagi denganmu, bahkan akan masih banyak lagi.
Ketika aku menulis ini, aku berjanji tidak akan pernah berhenti berkarya.
Ketika aku menulis ini, kau dan aku akan terus menjalani tapak demi tapak jejak demi jejak, tanpa harus tahu kebetulan-kebetulan apa lagi yang akan menghampiri.



Februari 2017
23 hanyalah sebuah angka,
dan Tuhan memberikan nafas untuknya melalui kita.
Tetaplah berdegub dan tumbuh.


Share:

Wednesday, 1 February 2017

203 #22

Dua orang kasmaran yang saling merindu tengah tenggelam dalam cerita dan tawa. Si perempuan merangkulkan tangan kanannya di lengan si pria posisi favorit mereka saat sedang beriringan. Menyusuri keramaian, langkah mereka terhenti di antrean panjang hari terakhir liburan. 

"Mumpung kamu mau dan moment-nya pas," si pria berbisik di tengah antrean.

Putus asa mengantre. akhirnya mereka mendapat giliran. Sayangnya, yang dicari tak tersedia. Sedikit kecewa, mereka memilih menu lain yang tak jauh berbeda sebagai obat lelah mengantre selama hampir satu jam.

"Nggak apa-apa, ya?" ucap si pria dan hanya dibalas anggukan dengan bonus senyuman kecil oleh si perempuan.

Mereka kembali beriringan dengan posisi favorit mereka persis seperti tadi. Kembali menunggu, hanya saja kali ini tak terlalu lama. Selang beberapa menit, terdengar suara yang menggema ke seluruh ruangan: 

"Pintu teater tiga telah dibuka. Para penonton yang telah memiliki karcis, dipersilakan untuk memasuki pintu teater tiga."

Gedung bioskop. Ya, rupanya gedung bioskop.
Selama 22 bulan bersama, ini adalah kali pertama mereka menonton film di bioskop. Sebelumnya, mereka sudah sering merencanakan hal tersebut, namun selalu gagal karena si perempuan lebih memilih untuk berwisata kuliner saja.

Kali ini, mereka mengawali tahun 2017 dengan melakukan hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. mereka hanya sedikit mencoba hal baru.



Januari 2017
Tepat pada perayaan 22 bulan mereka, hal tersebut kembali terjadi.
Dan, ya, lagi-lagi si pria berhasil mengajak si perempuan 
untuk masuk ke dunianya secara pelan-pelan.


Share: