Thursday, 6 November 2014

[Cerpen] Poster Untuk Kak Hasan

Kemarin paman datang. Ia membawa dua kantong plastik di tangannya. Isinya buah jeruk yang masih segar-segar. Katanya untuk bapak yang sedang sakit. Tapi paman selalu lupa, kami tak punya kulkas untuk menyimpan jeruk-jeruk tersebut agar tetap segar. Jangankan kulkas, listrikpun tak ada.
Dengan tanpa menganti plastiknya, jeruk-jeruk tersebut hanya diletakkan di atas meja saja. Akhirnya, adikku, Fitri, yang menghabiskannya.
“Paman, Fitri ingin lihat menara ibu kota!” kata Fitri setangah berteriak sambil menarik-narik sisi kemeja paman.
“Menara ibu kota?” paman balik bertanya.
“Iya, Paman. Seperti yang ada di gambar itu,”Fitri menunjuk poster Menara Eiffel yang aku pajang di depan pintu kamarku.
Paman berjongkok kemudian membelai lembut rambut Fitri.
“Itu namanya Menara Eiffel, sayang. Tempatnya jauh sekali,” kata paman lembut.
“Memangnya seberapa jauh, Paman? Kak Hasan juga selalu bilang seperti itu. Jauh, jauh, jauh!” Fitri manyun.
“Sangat jauh. Harus naik pesawat, lama sekali. Nanti kalau Fitri capek bagaimana?” kata paman menenangkan.
“Sekarang ibu juga ada di tempat yang jauh, kan, Paman? Apa ibu sudah sampai di Menara Eiffel lebih dulu? Kok ibu pergi sendiri? Nggak ngajak Fitri?” Fitri tampak sendu. Aku tahu, Fitri rindu ibu. Begitu juga aku.
Paman memeluk Fitri.
“Minggu depan Paman ajak Fitri dan kak Hasan ke menara ibu kota Jakarta, ya? Tidak kalah bagus sama Menara Eiffel. Pasti Fitri dan kak Hasan suka.”
“Itu di mana, Paman? Jauh tidak?”
“Dekat. Minggu depan Paman ke sini lagi.”
Paman mem=ncium kening Fitri kemudian berpamitan sambil menyerahkan beberapa lembar uang untuk aku dan Fitri.
*
Hari Senin. Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang akhir semester. Hari pertama Fitri masuk sekolah dasar, kelas satu. Untung saja sekarang ada sekolah gratis. Jadi Fitri bisa merasakan bangku sekolah hingga 9 tahun ke depan. Tak seperti masaku dulu. Bahkan aku tak tahu apa itu sekolah.
Pagi sekali aku mengantar Fitri ke sekolah sebelum pergi berdagang ke pasar. Sesampainya di sekolah, ia kutitipkan pada bu Sri, tetangga kami yang bekerja sebagai guru di SD tempat Fitri bersekolah kini.
Aku sampai di pasar saat matahari berwarna oranye, macam senja namun pagi. Pasar sudah ramai pembeli. Pertanyaan yang sama muncul dari beberapa orang yang berbeda, “Tumben siang, San? Mengantar adikmu masuk SD, ya?” begitu kira-kira. Dari penjual, maupun pembeli. Aku lelah menjawab, jadi aku mengangguk sambil tersenyum saja.
Setiap pagi aku berjualan baju koko, busana muslim, kerudung, dan sandangan sejenisnya. Lalu saat malam tiba aku membuka warung gerobak nasi goreng di ujung gang. Namun kini jadwalku bertambah. Selesai budal dari pasar, aku pergi menjemput Fitri, maklum ia masih kecil dan belum terbiasa dengan sekolahnya. Baru setelah sekitar satu bulan, Fitri berani pulang sekolah sendirian. Terkadang bu Sri mengajak Fitri pulang bersama jika beliau sedang tidak sibuk.
***
Ayah harus ke dokter lagi. Batuknya sudah semakin parah. Aku membawanya pergi ke puskesmas desa setelah selesai berjualan di pasar. Penyakit TBC ayah sudah sangat parah. Aku resah.
Ibuku meninggal empat tahun yang lalu, saat Fitri berusia dua tahun. Sakit TBC juga. Mulai saat itulah aku meneruskan pekerjaan ibu sendirian.
Hari ini hari Ahad, sore nanti paman akan datang untuk menjemput kamiberjalan-jalan ke monas. Fitri sudah siap. Tapi aku memutuskan untuk tinggal di rumah saja, menjaga ayah.
Selesai Isya, suara motor paman baru terdengar. Fitri berlari menuju ke dalam rumah dengan membawa gulungan kertas besar di tangan kanannya, “Inuuntuk kakak!” katanya girang.
Aku membuka gulungan tersebut.
Menara Eiffel!” katanya lagi.
Terimakasih, dik...” aku membelai rambut Fitri.
Fitri mengangguk, tersenyum.
***
3 tahun kemudian...
Fitri sudah kelas tiga Sekolah Dasar. Sementara umurku sudah...entah 20, entah 21. Sekitar angka itu. Bahkan aku lupa berapa tanggal lahirku.
Ayahku meninggal satu tahun yang lalu. TBC.
“Kak, sekarang Fitri tahu di mana Menara Eiffel!” kata Fitri setelah pulang sekolah sambil setengah berlari saat aku sedang menjemur pakaian di depan rumah.
“Di Paris, Perancis!” belum sempat aku menyahut, ia sudah menyambar lagi.
Aku tersenyum, “anak pintar,” kataku.
“Benar kata Kakak dan paman. Jauh...” katanya sedih. Ia berjalan lesu menuju ke dalam rumah. Pelan. Gontai.
“Kak...” panggilnya lirih.
“Suatu saat, Fitri akan bawa Kakak ke sana.”
Aku tersenyum, kemudian mengangguk.
Fitri berlalu melewati pintu.
***
6 tahun kemudian...
Fitri sudah kelas 3 SMP. Minggu depan Ujian Nasional.
Kalau Fitri lulus nanti, aku ingin menyekolahkannya di SMA negeri di kota. Kukira tabunganku sudah cukup untuk membiayai Fitri bersekolah di kota.
Tak terasa, pengumuman kelulusan bergema. Fitri lulus dengan nilai yang nyaris sempurna.
Kini, Fitri diterima di SMA negeri di Jakarta. Awalnya Fitri enggan melanjutkan sekolah, takut merepotkanku katanya. Tapi aku meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Ya sudah, Kak...”
Akhirnya ia menurut juga.
Setiap Ahad, ia berkunjung ke rumah bersama paman, dengan gulungan kertas besar di tangan kanannya. Setiap Ahad ia memberikan gambar yang sama. Menara Eiffel.
Oh, iya. Ada berita baik. Rumah gubuk kami, sudah terpasang listrik.
***
3 tahun kemudian...
Tak lama lagi, Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Atas akan Fitri hadapi.
Pukul empat sore. Di ruang tamu. Cangkir teh yang kedua. Fitri baru saja kembali ke kota setelah singgah ke sini sejenak. Tak lupa gulungan kertas besar di tangan kanannya. Ia tak lagi diantar paman.
Aku melihat ke sekeliling.
Poster Menara Eiffel terpasang rapi di tembok kayu rumah kami. Poster-poster dengan tanggal yang berbeda-beda.
Empat dikalikan dua belas dikalikan tiga. Seratus empat puluh empat. Kira-kira sebanyak itulah jumlah poster yang terpajang sekarang.
Umurku sekarang...entah 29, entah 30. Sudah semakin menua. Sudah saatnyakah aku menikah?
***
Satu bulan sebelum Ujian Nasional, Fitri berkunjung ke rumah. Tentu saja dengan gulungan kertas besar di tangan kanannya.
Tapi, tunggu...
Bukan hanya gulungan kertas besar saja. Di tangan kirinya ada sebuah amplop putih. Panjangnya sekitar 20cm, dengan lebar sekitar 15cm. Ia juga menyerahkannya padaku.
Aku membukanya.
Aku tak terlalu pintar membaca. Butuh waktu lama untuk bisa membaca kalimat per kalimat di kertas tersebut.
Tanganku bergetar. Mataku berkaca-kaca.
Aku melihat ke arah Fitri.
Ia tampak sumringah.
Matanya berkaca-kaca.
“Fitri dapat beasiswa kuliah, Kak...” air matanya menetes.
“Di Paris, Perancis,”
Ia memelukku erat.
Aku melihat ke dinding-dinding kayu yang sudah tertutup oleh banyaknya poster dari Fitri.
Menara Eiffel.
***
Aku tak pernah tahu Fitri berusaha sekeras ini untuk bisa menginjakkan kaki di Paris. Fitri bilang aku tak perlu khawatir, karena ia tak sendirian, ada beberapa teman sekolahnya yang juga berbasib mujur dengan mendapatkan beasiswa tersebut.
“Kak Hasan tenang saja. Fitri akan baik-baik saja. Paspor, visa, semua sudah beres!” katanya mantap saat aku meneleponnya.
“Syukurlah kalau begitu,” kataku
***
Aku mengantar Fitri ke bandara, paman dan bulik juga ikut. Aku berdoa sepanjang jalan agar semua baik-baik saja.
***
Sudah hampir satu semester Fitri berkuliah di negeri orang. Di sana, ia jga bekerja paruh waktu untuk hidupnya. Menjadi seorang waitress di sebuah restoran asia.
Kami hanya berkomunikasi melalui e-mail. Aku gaptek, tak tahu apa itu internet. Tapi Fitri sempat mengajariku sedikit sebelum berangkat ke Paris.
Selesai berjualan nasi goreng, aku membuka e-mail. Bulan lalu, aku baru saja membeli laptop, agar aku tak perlu ke warnet saat larut sehingga menambah waktu jaga karyawan warnet yang sudah sangat lelah dan mengantuk.
Ada e-mail dari Fitri.
“Kak, bulan depan Fitri libur semester. Fitri akan pulang ke Indonesia. Tunggu Fitri, ya, Kak. Fitri rundu Kakak.
Fitri menyelipkan foto pada e-mailnya. Kubuka foto tersebut. Foto Fitri, sedang berdiri di depan Menara Eiffel.
***
Fitri pulang.
Aku begitu merindukan adikku tersayang.
Pukul lima sore. Cangkir teh yang ketiga bersama Fitri.
“Kak, dulu waktu Fitri kelas 3 SD, Kakak ingat tidak Fitri pernah bilang apa sama Kakak?”
Aku berfikir.
Menggeleng.
“Apa, dik?” tanyaku kemudian.
“Suatu saat Fitri akan bawa Kakak ke Menara Eiffel.”
Aku terdiam.
“Bulan depan, Kakak ikut Fitri ke sana, ya?”
Tenggorokanku tercekat.
“Ayolah, kak...” pintanya.
“Tinggalkan tinggalkan pasar dan warung gerobak kakak untuk satu minggu saja,” lanjutnya.
Kami tertawa.
Aku mengangguk.
Aku menarik nafas.
Sudahkah tugasku selesai? Apakah kini saatnya aku memikirkan hidupku? Menikah?


Share:

Sesendok Sajak

Kau adalah vokal, dan aku konsonan
Kita bergandengan membentuk tulisan
Hingga sebuah tanda titik membuat riwayat kita tamat
Kita sekarat alam kalimat

Kau akan menjadi lembaran lalu
Kusimpan dalam laci penuh sendu
Kubuka sewaktu-waktu kala merindu
Sambil terus kurajut mimpi baru satu persatu

Sewindu menjauhi lalu. Sejurus menuju baru. Sehasta mendekati asa.

Semarang, 20 September 2014; 10:50 am
Catatan di suatu siang tanggung yang mendung
Share:

Kalah Telak

Kenangan menggerayangi kelopak
Aku terkantuk mengikis sesak
Andai jatuh itu tak membikin bengkak
Mungkin lebam ini masih bisa kutolak
Aku dipukul tanda tanya hingga sesak

Nadiku kehilangan denyut
Jantungku kehilangan degub

Aku merangkak di jalan setapak yang retak

Semarang, 19 September 2014


Share:

Satu Oktober

Satu Oktober hari ini tak sama seperti satu tahun lalu
Semuanya tak lagi sama
Kau-aku telah berjalan pada dimensi waktu yang dikehendaki sendiri
Tak pernah menengok lagi

Arah matamu tak lagi melirik ke arahku
Arah tujumu tak lagi menuju padaku
Arah kakimu tak lagi melangkah ke tempatku

Semoga bahagia menyertaimu.

Semarang, 01 Otober 2014; 12:11 pm
Siang merdu dengan angin menderu
Share:

Thursday, 7 November 2013

Tikde

Detik yang lalu
Kau, yang kutunggu tanpa jemu
Masih mematung di depan pintu
Seolah menungguku untuk membenarkan letak leher kemejamu
Terlalu

Detik kali ini
Kau pergi tiada permisi
Padahal belum sempat kubenarkan letak leher kemejamu dengan teliti
Kau beranjak, aku masih di sini
Kasihan sekali

Detik yang akan datang
Kau tak juga kelihatan
Akankah kau masih ingin memintaku membenarkan letak leher kemejamu, sayang?
Kau hilang, aku menunggumu pulang
Betapa malang

Ternyata, rindu sepihak lebih menyeramkan
Ketimbang menggigil di tengah malam sendirian


Semarang, 21 Oktober 2013
00:23 AM



Penulis:
Resla Aknaita Chak

Share:

Wednesday, 31 July 2013

[Cerpen] Potret Rasa


Gadis itu masih disana. Menatap lurus di hamparan jauh, bening, dan biru. Indah, tak terkira indahnya. Inilah yang selalu kutunggu, pagi-siang-sore-malam.

                “Cekrik!”

                Aku mulai memotretnya.

                Ia object abadi yang selalu kunanti. Tak peduli dari pagi higga pagi lagi.

                “Kinar!” seorang laki-laki dari arah jam dua dari tempatku berdiri sekarang memangilnya. Kulihat Kinar tersenyum pada lelaki itu lalu melambaikan tangannya. Mereka semakin dekat, kemudian saling berbincang. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi ini pasti akan lama. Ah, sial.

                “Peng-gang-gu,”

                Kataku pelan menuju ke tempatku duduk tadi, menatap mereka yang sedang asyik berbincang. Kutengguk sisa tengguk kopiku sambil melihat-lihat hasil jepretanku hari ini.

                “Hanya dapat satu foto Kinar, dan…” aku mengernyitkan dahi, menatap bingung pada beberapa hasil jepretanku yang lainnya, “mana mungkin bisa?”


* * *

Masih sangat pagi. Di tempat yang sama, kopi yang sama, kamera yang sama, dan menunggu object yang sama. Kinar.

Kinar. Sinarmu tak pernah kehilangan bingar. Hingar diantara yang paling hingar. Aku beruntung bisa menemukanmu ditengah-tengah sinar. Kamu terang. Sangat terang.

Aku tersenyum sendiri. Sampai akhirnya senyumku harus terhenti oleh tepukan mengagetkan dipundakku.

Aku menoleh. Kaget.

“Apa yang kamu cari dari aku?” katanya pelan.

“M….ma…mau duduk? Biar kupesankan minum.” Aku gugup. Bodoh sekali.

“Apa yang kamu cari dari aku?” tanpa menggubris pertanyaanku ia mengulangi peranyaannya.

“Sebuah peremanan,” jawabku kacau.

Ia mengernyitkan dahi.

“Aku Abi,” aku sudah lebih pede, kali ini plus dengan senyum terlebarku.

Aku mengulurkan tangan.

“Kinar,” singkat.

“Duduk?”

“Boleh,”

“Mau kopi?”

“Boleh,”

Ya Tuhan…. Ia terlalu singkat dan aku terlalu gugup.

“Silakan. Aku yang traktir,” dengan senyum termanisku aku meletakkan secangkir cappuccino dihadapannya.

“Thanks,” kali ini ia tersenyum, “Enak” lanjutnya setelah menyeruput seper-empat isi cangkir tersebut.

“Disini menu yang paling disukai sama pengunjung itu kopinya. Kopi apa saja. Makanya aku sering kesini,”

Ia hanya anggut-manggut.

Kembali hening.

Aku sibuk melihat-lihat hasil jepretanku kemarin untuk menghilangkan rasa grogi.

“Sudah berapa banyak?”

“Hm?” aku mengangkat wajah.

“Fotoku…”

“Oh…”

Matilah aku.

“Berapa?”

“Mau lihat?”

“Boleh..” katanya girang.

“Kamu penggemarku, ya?”

Aku diam.

“Hahahaha, becanda tauk, Bi.”

Ia menyeruput kopinya, kali ini lebih banyak, mungkin sisa seper-empat gelas.

“Fotonya bagus. Kamu fotografer?” lanjutnya.

Aku menggeleng.

“Amatir?”

Aku menggeleng lebih keras.

“Profesional, dong?”

Aku menggeleng lebih keras lagi. Kepalaku sakit.

“Tenang saja, Abi. Santai saja. Aku suka, kok, hasil foto kamu.”

“Kapan-kapan mau aku foto? Tapi nggak candid.”

“Tentu saja.”

Ia tersenyum. Aku menyeruput kopiku.

* * *

“Hai, Abi! Gimana?” katanya riang sambil berputar dihadapanku, memamerkan pakaiannya.

“Cantik,” kataku mantap, “Sangat cantik,” lanjutku dalam hati.

“Berangkat sekarang, Nar?” suara sedikit berat itu mengagetkanku, familiar. Oh, dia…. Ha? Dia? Kok bisa ada dirumah Kinar?

“Iya. Nih kenalin temen aku, namanya Abi. Abi ini Binar.”

“Hai,” kami berjabat angan. So sweet.

Bye, Binar.”

Di perjalanan, Kinar asyik dengan gadgetnya sedangkat aku asyik menyetir.

“Kring…!”

“Halo…?”

“Iya, lagi sama Abi. Sama Abi doing, kok. Berdua.”

“Iyaiya, bye..”

Kinar menutup telfonnya.

“Siapa, Nar?”

“Binar. Emang suka protective.

“Ohhh… pacar kamu, ya? Udah deket banget sama keluarga kamu kayaknya. Tuh, tadi, pagi-pagi udah dirumah kamu.”

“Hahaha. Bukan. Kakak aku. Sebenarnya, sih, kembar. Makanya nama kita juga hampir sama.”

“Saudara kembar?”

“Iya. Dia kakaknya, aku adiknya.”

“Oh…”

Lega.

“oh, iya. Dapat salam tadi dari Binar.”

Aku tersenyum.

* * *

Kembali ke pantai ini. Dengan secangkir kopi dan aktifitas monoton tentang Kinar. Aku kembali melihat-lihat hasil jepretanku dengan Kinar sebagai objectnya.

“Kinar… cantik, ceria, sederhana. Ini yang bikin aku jatuh cinta,” Kataku tersenyum.

“Abi? Jadi, kamu suka sama Kinar?”

“Bi..Binar… bukan…” aku gugup. Tak menyadari kalau sedari tadi Binar ada disekitarku.

“Kamu sudah gila?”

“Bukan… Bukan seperti itu,”

“Lalu apa?”

“Aku hanya senang menjadikannya object foto. Itu saja,”

“Aku masih muda dan aku belum tuli,”

“Tapi tuli bukan berdasarkan umur, Nar,”

“Jadi, menurutmu aku salah dengar?”

“Mungkin aku yang salah bicara,”

“Hati kamu yang salah,”

“Hati tak pernah salah,”

“Kamu mencintai Kinar,”

“Tidak,”

“Bohong,”

“Iya,”

Kami berdua terdiam.

“Abigail, sadar…”

Aku terdiam.

“Kamu dan KInar, sama-sama perempuan,”

Aku menunduk. Ada gumpalan air yang memaksa ingin keluar. Getir.

Aku mundur dua langkah. Menatap kea rah lelaki tegap didepanku.

“Apa aku salah?” aku menangis. Pertanyaan bodoh.

“Abi….” Ia mendekat.

“Stop,”

“Abi, dengerin aku…”

“Bukan aku yang pengen, Nar. Bukan. Aku udah nyoba buat nolak. Tapi penolakanku sia-sia. Ada sekelumit rindu yang muncul jika aku ak melihatnya. Ada secercah duka jika aku tak melihat senyumnya. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya.,” pipiku basah.

“Abi, mungkin ini buka cinta. Mungkin sejenis…kagum?”

“Kamu sendiri ragu, kan?”

“Aku bukan ragu, hanya bingung,”

Heh, sekarang kamu yang seperti kebakaran jenggot,” aku tersenyum kecut. Kecut sekali. Pikiranku sedang tak jernih. Marah kepada Binar, marah kepada diriku sendiri.

“Kamu nggak perlu nenangin aku,” lanjutku.

Aku melankah. Ketika hendak membereskan kamera dimejaku, Binar memelukku. Aku diam.

“Aku bisa yakinin ke kamu kalau itu Cuma −sekedar – rasa kagum,”

Heh, nggak perlu,” aku kembali menampakkan senyum kecutku dibalik pelukannya.

“Kasih aku waktu,”

“Lepasin,”

Ia melepaskan pelukannya. Aku membereskan kameraku, kemudian berlalu.

*  * *

“Abiiiiii, kamu kemana, sih?”

“Aku bikin salah, ya, Bi?”

“Abigail cantik, maafin Kinar, ya, kalau Kinar ada salah,”

Ih, nggak asyik semua, nih. Abi diem. Binary juga diem,”

Sudah empat hari aku tak keluar rumah. Berpuluh-puluh pesan dan telfon dari Kinar tak kugubris. Aku merasa bersalah. Tak seharusnya aku seperti ini.

“Kinar nyariin kamu. Katanya, kangen sama sahabat barunya,” dari BInar.

Aku tak acuh.

“Bigail, ada yang nyari kamu, tuh,”

“Siapa, Ma?”

“Cowok. Katanya namanya BInar. Pacar kamu, ya?”

“Bilangin aku tidur, atau ke pasar, atau kemana deh, Ma,”

“Eeeehhh…. Nggak boleh begitu. Setiap masalah itu harus dibicarakan baik-baik. Demi utuhnya suatu hubungan,”

“Mama ini apaan sih,”

“Dibilangin orang tua kok begitu. Sudah sana temuin,”

“Iyaiya…”

Tidak ada semangat untuk menuju ke ruang tamu. A-se-li!

“Abi…”

“Ngapain kesini?”

“Masih ingat omongan aku di pantai terakhir kali?”

“Yang mana?”

“Empat hari lalu,”

Aku berusaha mengingat.

“Aku bisa buktiin ke kamu kalau rasa kamu ke Kinar Cuma −sekedar− rasa kagum,” ia menjawab pertanyaannya sendiri.

“Oh…..”

“Dengerin aku,” katanya pelan.

“Rasa kagum,” ia menunjuk dadaku, “sama rasa cinta,” ia menunjuk dadanya, “itu beda tipis,”

Dahiku mengernyit.

“Ruang kagum dihati kamu sudah ditempati oleh Kinar. Tapi ruang lebih dalamnya lagi, ruang cinta, sudah ditempati oleh Binar,” lanjutnya.

“Ge-Er!”

Aku beranjak. Tapi ia menahanku.

“Eh, tunggu, aku belum selesai,” ia menarik tanganku.

“Kalau disini,” ia kembali menunjuk dadanya, “Ruang kagum sama ruang cintanya ditempati oleh orang yang sama, Abigail,”

Aku diam. Ia juga diam.

Nggak lucu!”

Kali ini aku benar-benar beranjak.

                                  * * *

“Abiiiiiiiii, banguuuunnnnnn!”

Suara Kinar.

“Kinar…. Pagi-pagi kok sudah disini, sih,

“Kamu, sih. Sms, telfon, dicuekin semua. Sombong,”

“Maaf, deh…

Nih, titipan dari Binar,”

“Ha?”

“Spesial buat Abigail penghuni hatinya, gitu katanya,”

Pelan-pelan kubuka kotak itu. Sepelan mungkin, aku tak ingin merusaknya. Ia sudah susah payah membuat semua ini sempurna.

Kotak dari kayu yang tak terlalu besar, lebih cantik dengan warna asli kayu yang masih coklat, ada beberapa ukiran kecil yang dibuat sendiri tapi sangat rapi. Hmmm, aku yakin ia punya bakat sebagai pengukir kayu, meski sedikit.

“Wow!” aku terpekik tertahan.

Kagum. Terpana. Terpikat. Beberapa kumpulan kertas kecil. Setiap lembarnya terdapat foto dengan beberapa catatan rapi. Amat sangat rapi. Pasti Binar telah menyiapkan ini sejak lama.

Lagi-lagi aku mengernyitkan dahi.

“Darimana dia dapat semua ini? Fotoku…. Semuanya candid,”

“tuh, ada kaset CD-nya,” celetuk Kinar.

Aku mengambilnya, dan memutarnya, membiarkan alunan lagu itu menemani tanganku yang mengambil setiap lembar yang membuat pagiku kagum.

Sambil membaca setiap kata-kata cantiknya, samar-samar terdengar alunan lagu manis, sepaket dengan kado dari Binar.

“Your hazel green tint eyes watching every move I make,
And thet feeling of doubt, it’s erased,
I’ll never feel alone again with you by my side,
You’re the one, and in you I confide…

And we have gone through good and bad times,
But your unconditional love was always on my mind,
You've been there from the start for me,
And your love's always been true as can be
I give my heart to you,
I give my heart, cause nothing can compare in this world to you..

And we have gone through good and bad times,
But your unconditional love was always on my mind,
You've been there from the start for me,
And your love's always been true as can be
I give my heart to you,
I give my heart, cause nothing can compare in this world to you..

I give my heart to you,
I give my heart, cause nothing can compare in this world to you…”

                “Binar….” mataku berkaca-kaca.


Penulis: Resla Aknaita Chak.
Semarang, 01 Agustus 2013

*petikan lagu Avenged Sevenfold - Warmness on The Soul.
Share: