Sunday, 21 June 2015

203 #3

Laci cokelat tua itu masih akan tetap terbuka, menampung lembar demi lembar cerita bahagia kita. Aku tak punya kuncinya, begitu juga kau. Kita membiarkan orang-orang bebas membuka laci dan membacanya sesuka hati. Ada yang turut bahagia, pun banyak juga yang merasa tak suka sebab terluka. Menjadi penumpang memang harus selalu siap dengan segala resiko yang ada.

Sekarang mari kita berhitung, 60 dikalikan 60, dikalikan 24, dikalikan lagi 92. Percayalah bahwa akan kau temukan angka 7.948.800, itulah banyaknya milisekon yang telah kita lalui bersama. Angka itu masih akan terus bertambah sesuka yang ia bisa. Hingga kalkulator termahal-pun tak mampu menampung rentetan angkanya.

Kau tahu aku tak suka matematika, tapi tak apa karena hal itu hanya sebuah umpama. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku... aku menyayangimu tanpa ragu.

Tetaplah menjadi lelakiku yang memabukkan. Cukup aku saja yang kau bikin mabuk.

Semarang, 19 Juni 2015; 23:01
Jelang duapuluh ketiga.
Share:

Friday, 29 May 2015

203 #2

Entah apa yang ada di kepalamu. Kau selalu membuat kejutan kecil yang besar.
Aku selalu mengamini pengaminanmu atas kata-kataku, kau pun sama, selalu mengamini pengaminanku atas doa-doamu. Kau selalu memandang sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda.
Hari ini, ketika kita membicarakan tentang masa depan, aku bertanya, "Siapa yang akan kau nikahi?"
Kau diam.
Aku mengulangi pertanyaanku dengan nada sedikit meninggi. Kau tetap diam.
Aku kembali mengulangi pertanyaanku dengan nada yang lebih meninggi lagi. Kau masih saja diam.
Kembali aku menanyakan pertanyaan yang sama untuk kali keempat. Kali ini kau menjawabnya, bukan dengan kata. Namun dengan sebuah kecupan manis.
Kau tahu? Kau selalu melakukan hal-hal kecil yang mampu membuatku bahagia setiap harinya.
Kini, aku selalu berdoa kepada Tuhan. Agar Tuhan pun mengamini pengaminan kita.

Semarang, 30 Mei 2015; 02:04
Aku tulang rusukmu, kau tulang punggungku.
Share:

203 #1

Dekapmu ceracak. Membuatku nyaman dalam gelakak. Membuatku aman telak. Meski sesekali aku gelatak, aku tahu, itu tak menjadi masalah bagimu.

Kita sua agar tak jelabak, hingga datang kelak. Kita akan menyumpal mulut-mulut mereka yang berdecak tidak. Kita akan kacak sambil terbahak dihadapan mereka yang pelak.

Cara mereka mengartikan sorotmu, berbeda dengan caraku. Cara mereka mengeja gerakmu, berbeda dengan caraku. Mereka tak paham bahwa ada milyaran hal yang mereka kira nihil.

Kau ibarat kebun di belakang rumah. Teduhmu tak nampak. Hijaumu tak kasat. Rindangmu hanya untuk sang pemilik rumah -aku.



Semarang, 24 April 2015, 01:56
Hari masih belia.

Didedikasikan untuk sosok yang mendekap tapi tak menyekap, mas Adji. Tetaplah menggenggam tanganku di depan teman-teman dan orangtuamu.


Footnote:
*ceracak: ce-ra-cak, ber-ce-ra-cak v bercerancang
 ➡cerancang: ce-ran-cang, ber-ce-ran-cang-an v y tajam (tinggi-tinggi)

*gelakak: ge-la-kak v tertawa gelak-gelak

*gelatak: ge-la-tak a cerewet; banyak mulut

*jelabak: je-la-bak ark v, ter-je-la-bak v roboh; runtuh

*kacak: ka-cak a 1 tampak gagah; cegak; 2 angkuh; pongah

*pelak: /pélak/ a salah; keliru; luput
Share:

Sunday, 29 March 2015

Sore

Embun di sana
Memecah dua di daun berbeda
Mengusik kering tanah pertiwi
Suguhi seteguk peluk untuk tiap lekuk

Hujan sore ini
Ajak menari mengeja bahagia
Mari berpuisi bernyanyi berlalala-lilili

Berdansalah selagi pagi masih dalam mimpi


Semarang, 30 Maret 2015; 02.26 a.m
Selamat tengah malam, sore.
Share:

Saturday, 7 February 2015

Tuan Nona di Sudut Balkon



Nona di sudut balkon.Apa yang kau lihat di dalam cangkirmu? Tatapan yang tanpa arti. Tidakkah kedua tanganmu lelah menyangga cangkir? Entah teh. Entah kopi. Entah cokelat. Tidakkah kau tahu mereka ingin diseduh? Tidakkah kau tahu mereka tak ingin tersia-sia?


Tuan di sudut balkon.Apa yang kau lihat di tengah kanvasmu? Tatapan yang tanpa ide. Tidakkah kedua tanganmu lelah menyangga dagu? Entah hijau. Entah kuning. Entah biru muda. Tidakkah kau tahu mereka ingin diadu? Tidakkah kau tahu mereka tak ingin tersia-sia?


Nona di sudut balkon. Gemuruh apa yang bergejolak di dalam dirimu? Sorotmu tampak kelabu. Genggammu tampak pilu. Apa yang sedari tadi kau tunggu? Kulihat cangkir lain di mejamu.


Tuan di sudut balkon. Apa yang membuatmu sendu, hingga membuatmu buntu? Apakah kau kehilangan objek gambarmu? Berhentilah membuang waktu.

Nona di balkon barat.
Tuan di balkon timur.
Minum teh -entah kopi, entah cokelat- di sore hari setelah selesai melukis tampaknya akan sangat manis.

Senyum mereka mengembang di jarak kurang dari enam belas kaki.



Semarang, 06 Februari 2015
Pemandangan unik dengan suara jangkrik. 


Share:

Tuesday, 3 February 2015

Panggung Drama Indonesia


Lihatlah para petinggi negeri kami
Duduk di kursi kuasa sambil berleha-leha
Sesekali bersila sambil tertawa-tawa
"Supaya awet muda," katanya
"Kalian awet muda, kami tua sebelum waktunya!" Rakyat satu suara

Jangan pura-pura tuli lalu tak peduli
Raih tangan kami dan tepati janji
Kami bukan penonton dan kita tidak sedang bersandiwara
Atau memang ini lakon Cicak vs Boyo jilid ke sekian yang sengaja dicipta?

"Indonesia bukan panggung drama!" Rakyat berteriak sambil geleng-geleng kepala


Gunung Pati, 29 Januari 2015
00:59 a.m.
Share: