Monday, 19 October 2015

203 #7

PUZZLE

Kamu suka musik, aku suka nulis.
Kamu suka nyanyiin aku, aku suka nulis tentang kamu.
Kamu suka film, aku suka buku.
Kamu suka ngefoto, aku suka difoto.
Kamu suka kuning telur, aku suka putih telur.
Kamu suka Manchester City, aku suka Manchester United.
Kamu surealis, aku realis.

Dalam lingkup perbedaan yang masih sejalan, kita memilih untuk saling melengkapi ketimbang saling menggurui.

Kau lihat puzzle itu? Seperti kau dan aku. Aku membutukanmu sebagai wadah, kau membutuhkanku sebagai isi.
Tak bisa asal memilih keping. Tak bisa asal merebah pada wadah.
Seperti sudah ditakdirkan sejak entah.

Seribuempatpuluhempat minggu lebih telah asik bermain puzzle.
Kini, kau menyelesaikan puzzle-mu di waktu yang amat tepat.
Karena tak ada yang tak tepat di dunia ini. Termasuk cinta.

Ah, lagi-lagi kau membuatku membicarakan tentang cinta. 




Oktober, 2015.
Menuju-h.
Share:

Monday, 12 October 2015

Ia Terlampau Sibuk Mengeja Langit

Sering ia melamunkan langit
Mengapa putih? Mengapa biru?
Mengapa hitam? Mengapa abu-abu?

Sering ia melamunkan langit
Di manakah ujung dan pangkalnya?
Di manakah alif dan ya nya?
Di manakah ha dan nga nya?
Di manakah alpha dan zulu nya?
Di manakah penciptanya?

Sering ia melamunkan langit
Kepala menengadah
Mata menjamah
Pipi memerah
Senyum merekah
Ia kalah!

Terlampau sibuk mengeja langit
Hingga ia lupa pada bumi tempatnya berjinjit


26 September, 2015.
Share:

Tentang Vokal dan Konsonan

Tentang vokal dan konsonan
Mereka tak punya tangan namun senantiasa bergandengan
Tak peduli meski sesekali terpisah oleh spasi
Baginya, erat bukan berarti saling menjerat
Baginya, bersama bukan berarti harus rela terluka

Tentang vokal dan konsonan
Mereka tak punya lekuk namun senantiasa berpeluk
Tak peduli meski sesekali terluka oleh koma
Baginya, bersama memang butuh jeda
Bagnya, bersatu memang butuh merindu

Tentang vokal dan konsonan
Mereka tak punya kaki namun senaniasa mengiringi
Tak pelik meski tertamatkan oleh titik
Baginya, tak masalah mencipta yang lebih apik
Baginya, cerita baru akan lebih asyik

Tentang vokal dan konsonan
Tetaplah bersama selama dunia masih berbahasa



September, 2015.
Berkat mereka kita punya cerita.
Share:

Sunday, 20 September 2015

203 #6

Trotoar. Penjual berjejeran. Tangan bergandengan. Kaki beriringan. Tawa menggelak. Senyum meranum. Kasih memutih. Ikatan mengikat. Eskrim. Pengamen. PopMie. Kopi. Melanie Soebono. Tukik. Terik. Siang. Kasih sayang.

Bali-nya adalah Bali-ku. Bali kami bukan Bali mereka.

Ketika orang-orang asik mencari rindang pohon. Ia mengajakku berpanas-panas ria, "Ayo kita cari Bali-nya Bali."
Ketika orang-orang asik makan Bakso Jowo dan Lunpia. Kami berpikiran sama, "Adoh-adoh ning Bali tukune Bakso Jowo karo Lunpia?"
Ketika orang-orang sepakat dengan anggapan, "Tali jika diikat terlalu erat akan terasa sakit." Ia patahkan teori tersebut tanpa ampun, "Bergantung bagaimana caramu mengikat. Bergantung bagaimana caramu menggenggam. Kalau caramu benar, teori-teori tahi kucing itu benar-benar hanya akan menjadi tahi kucing yang dikubur pasir."

Lagi-lagi aku gemas dibuatnya.

"Aku menikmati setiap detik kebersamaan kita. Kau cipta bahagia yang sedemikian rupa. Aku menikmati layaknya seorang anak SD dengan lolipop di tangan. Tak membiarkannya kotor, tak membiarkannya jatuh, tak merelakannya berpindah tangan. 
Tetaplah manis dan menyenangkan. Kau tahu aku suka dijejal bahagia sebanyak-banyaknya tanpa takut mual karena porsi yang tak biasa."

Jalan Poppies II, Kuta, Denpasar, Bali.
September, 2015.
Share:

Friday, 21 August 2015

Jas Lusuh

Dalam kerumunan penjarah rakah, ia mengais nista di onggokan perdu. Tak seorangpun tahu. Sesekali ekor matanya berziarah ke tumpukan serdadu. Ia lupa, bahwa Tuhan mahatahu.
Terlampau sibuk mengawasi kanan kiri, hingga ia lupa pada Dzat yang mahatinggi.

Mampus kau di bakar beku!


Semarang, 21 Agustus 2015.
Jangan sok tahu bahwa Tuhan mahatahu.
Share:

Thursday, 20 August 2015

203 #5

       Ibu bilang, "Kau harus menemukan laki-laki yang tak membiarkanmu tidur dalam rasa gelisah ataupun amarah, Nak."
       "Tapi, aku ingin menemukan laki-laki yang selalu membawaku ke tempat di mana aku bisa menulis kapan saja tanpa sekat, Bu. Bukankah sebuah karya yang besar dihasilkan dari kegelisahan pengarang?" Aku berdalih.
       "Apakah pengarang harus mengalami kegelisahan yang berlarut agar mampu menghasilkan karya? Dengan kegelisahan sejumput saja, seorang pengarang akan mampu berkarya, Nak. Itulah pengarang yang menghasilkan karya besar." Kata Ibu lagi.

Ia menemuiku setelah melarangku datang menemuinya. Setelah mencium punggung tangan ayahku, ia mengajakku menari lagi.

Tempat baru. Suasana baru. Kenyamanan yang baru. Bercerita apa saja, seperti biasa. Rasanya sudah sangat lama kami tak melakukan hal ini. Tak peduli waktu yang terus memburu, tetapi laju cerita kami lebih memburu ketimbang waktu yang terus berlalu.

Ia memang begitu. Ketika aku menginginkan coklat, ia bawakan eskrim rasa coklat. Ketika aku menginginkan mangga, ia bawakan jus mangga. Ketika aku menginginkan hanya bertemu saja, ia bawakan segudang cerita beserta tawa.

Kesalahan sekecil kerikil, ia tebus dengan sebesar langgar.

"Tapi, Bu. Saat pulang tengah malam, motor yang kami tumpangi mogok..."

Ibu tersenyum, "Kau sudah menemukan laki-laki dengan dua tipe yang kita bicarakan tadi, Nak."


Semarang, 20 Agustus 2015.
Share: