Tuesday, 17 November 2015

Rimba Samsara


Sebentar-sebentar di sini, sebentar-sebentar pergi
Sebentar-sebentar berlari, sebentar-sebentar berjalan kaki
Sering-sering merangkak, ia kehilangan berak
Tangisnya menganak pinak

Mungkin kami hanya penonton
Bebas berkomentar di depan TV sambil makan popcorn
Suara-suara yang hanya menggema di ruang 2 X 3
Selebihnya? Mengembun di udara
Padahal belum sempat sampai ke telinga mereka
Tangis mereka bergema

Mereka terjerembab
Matanya sembab
Sesekali menerka sebab musahab
Makan tak lagi lahap
Tangis mereka merayap

Dalam keriuhan air mata
Ada doa yang tak putus-putusnya


Semarang, 17 November 2015
Semua akan baik-bak saja


15.00 – 16.30
Sebuah puisi yang saya tulis
saat ujian tengah semester mata kuliah menulis puisi.
Dan, tema dadakan yang diajukan oleh dosen
adalah tentang aksi terorisme di Paris, Perancis.

Semua akan baik-baik saja. Baik-baik saja.
Share:

Thursday, 29 October 2015

[Monolog] Para Pelancong

Lihatlah! 
Taman yang diidam-idamkan oleh para nelayan yang bebas menjaring ikan 
Taman yang diidam-idamkan oleh para petani yang bebas menanam padi 
Taman yang diidam-idamkan oleh para buruh yang bebas meneteskan peluh 
Taman yang diidam-idamkan oleh para penari yang bebas menari tanpa takut mati karena kelelahan menggoyang-goyangkan kaki sepanjang hari 
Hm, ya.. 
Ini sama sekali bukan mimpi yang lenyap dalam sekali kerjap
Bahkan bunga-bunga yang tumbuh wewangiannya sampai ke tubuh (Mencium bau tubuhnya sendiri)

Di mana? 
Mereka bilang ada keindahan serupa surga? 
Hh, ya.. (Tersenyum kecut) 
Memang indah, tetapi bukan serupa surga 
Memang indah, tetapi ada celah yang tak sumringah 
Em... Serupa langit! 
Ya, serupa langit yang tak selamanya cerah 
Sesekali mendung hingga membuat semua orang rundung 
Ah, berita-berita itu hanya menampakkan kulit luarnya saja 
Membikin kecewa! 

Alah! 
Keindahan di sini sekadar isapan jempol saja! 
Seperti iklan-iklan yang menawarkan kebohongan 
Setelah terlanjur tertarik, barulah kau menyesal karena rela menguras kantong yang seharusnya kau gunakan untuk piknik 
Ck.. ck.. ck. 
Bodoh! (Mengumpat pelan) 
Tak ada keindahan yang mutlak 
Yang ada hanya keburukan yang telak 
Kalau aku punya uang, tentu sudah kumuat di koran-koran 

Indah-tidak indah; benar-salah; hitam-putih 
Semakin banyak keributan di sini 
Ah, tetapi tunggu dulu.. 
Apakah sebenarnya kita berada dalam kekuasaan yang tak kasat mata? 
Atau kekuasaan yang kasat mata tetapi kita dibutakan oleh keindahan yang sementara? 
Ya, benar! 
Ketika orang-orang di luar sana terlalu sibuk meributkan tentang indah atau tidak 
Mereka tak sadar bahwa mereka telah dijadikan wayang oleh dalang 
Oleh Topeng Kayu!  



Semarang, 28 Oktober 2015

Sebuah monolog yang saya tulis
untuk sebuah pembukaan dalam pementasan teater Topeng Kayu karya Kuntowijoyo
(Pementasan Teater dari teman-teman sastra Indonesia Unnes 2013)

Share:

Monday, 19 October 2015

203 #7

PUZZLE

Kamu suka musik, aku suka nulis.
Kamu suka nyanyiin aku, aku suka nulis tentang kamu.
Kamu suka film, aku suka buku.
Kamu suka ngefoto, aku suka difoto.
Kamu suka kuning telur, aku suka putih telur.
Kamu suka Manchester City, aku suka Manchester United.
Kamu surealis, aku realis.

Dalam lingkup perbedaan yang masih sejalan, kita memilih untuk saling melengkapi ketimbang saling menggurui.

Kau lihat puzzle itu? Seperti kau dan aku. Aku membutukanmu sebagai wadah, kau membutuhkanku sebagai isi.
Tak bisa asal memilih keping. Tak bisa asal merebah pada wadah.
Seperti sudah ditakdirkan sejak entah.

Seribuempatpuluhempat minggu lebih telah asik bermain puzzle.
Kini, kau menyelesaikan puzzle-mu di waktu yang amat tepat.
Karena tak ada yang tak tepat di dunia ini. Termasuk cinta.

Ah, lagi-lagi kau membuatku membicarakan tentang cinta. 




Oktober, 2015.
Menuju-h.
Share:

Monday, 12 October 2015

Ia Terlampau Sibuk Mengeja Langit

Sering ia melamunkan langit
Mengapa putih? Mengapa biru?
Mengapa hitam? Mengapa abu-abu?

Sering ia melamunkan langit
Di manakah ujung dan pangkalnya?
Di manakah alif dan ya nya?
Di manakah ha dan nga nya?
Di manakah alpha dan zulu nya?
Di manakah penciptanya?

Sering ia melamunkan langit
Kepala menengadah
Mata menjamah
Pipi memerah
Senyum merekah
Ia kalah!

Terlampau sibuk mengeja langit
Hingga ia lupa pada bumi tempatnya berjinjit


26 September, 2015.
Share:

Tentang Vokal dan Konsonan

Tentang vokal dan konsonan
Mereka tak punya tangan namun senantiasa bergandengan
Tak peduli meski sesekali terpisah oleh spasi
Baginya, erat bukan berarti saling menjerat
Baginya, bersama bukan berarti harus rela terluka

Tentang vokal dan konsonan
Mereka tak punya lekuk namun senantiasa berpeluk
Tak peduli meski sesekali terluka oleh koma
Baginya, bersama memang butuh jeda
Bagnya, bersatu memang butuh merindu

Tentang vokal dan konsonan
Mereka tak punya kaki namun senaniasa mengiringi
Tak pelik meski tertamatkan oleh titik
Baginya, tak masalah mencipta yang lebih apik
Baginya, cerita baru akan lebih asyik

Tentang vokal dan konsonan
Tetaplah bersama selama dunia masih berbahasa



September, 2015.
Berkat mereka kita punya cerita.
Share:

Sunday, 20 September 2015

203 #6

Trotoar. Penjual berjejeran. Tangan bergandengan. Kaki beriringan. Tawa menggelak. Senyum meranum. Kasih memutih. Ikatan mengikat. Eskrim. Pengamen. PopMie. Kopi. Melanie Soebono. Tukik. Terik. Siang. Kasih sayang.

Bali-nya adalah Bali-ku. Bali kami bukan Bali mereka.

Ketika orang-orang asik mencari rindang pohon. Ia mengajakku berpanas-panas ria, "Ayo kita cari Bali-nya Bali."
Ketika orang-orang asik makan Bakso Jowo dan Lunpia. Kami berpikiran sama, "Adoh-adoh ning Bali tukune Bakso Jowo karo Lunpia?"
Ketika orang-orang sepakat dengan anggapan, "Tali jika diikat terlalu erat akan terasa sakit." Ia patahkan teori tersebut tanpa ampun, "Bergantung bagaimana caramu mengikat. Bergantung bagaimana caramu menggenggam. Kalau caramu benar, teori-teori tahi kucing itu benar-benar hanya akan menjadi tahi kucing yang dikubur pasir."

Lagi-lagi aku gemas dibuatnya.

"Aku menikmati setiap detik kebersamaan kita. Kau cipta bahagia yang sedemikian rupa. Aku menikmati layaknya seorang anak SD dengan lolipop di tangan. Tak membiarkannya kotor, tak membiarkannya jatuh, tak merelakannya berpindah tangan. 
Tetaplah manis dan menyenangkan. Kau tahu aku suka dijejal bahagia sebanyak-banyaknya tanpa takut mual karena porsi yang tak biasa."

Jalan Poppies II, Kuta, Denpasar, Bali.
September, 2015.
Share: