Wednesday, 6 January 2016

Sampah!

          Bagi sebagian orang, hidup itu kompetisi. Ajang unjuk gigi. berlomba menjadi yang paling tinggi. Tak peduli meski harus membunuh teman sendiri. Seperti jagung yang berlomba saling loncat untuk sekadar jadi popcorn pengusir penat saat nonton film berat dan hanya berakhir jadi berak.

          Lalu, yang sebagian lagi menganggap bahwa hidup ini adalah sebuah proses. Proses untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Tentunya, setiap kepala memiliki cara yang berbeda. Dan dari cara yang berbeda, akan menciptakan hasil yang beraneka rupa.

          Hidup itu pilihan.

          Ada yang memilih menjatuhkan orang lain di depan banyak orang dengan tujuan ingin meninggikan dirinya sendiri. Menceritakan kepada orang lain tentang kebenaran yang belum pasti.

          Sama halnya dengan yang terjadi pada saya. Saya tahu betul apa yang mereka bicarakan tentang saya, kehidupan pribadi saya, bahkan keluarga saya.

          Telinga saya ada dimana-mana.

          Sakit hati? Pasti.

          Tetapi, saya selalu percaya bahwa kita tak perlu susah payah untuk membuktikan bahwa kita tidak salah. Karena Tuhan sendiri-lah yang akan bekerja tanpa perintah. Dan saya membuktikan hal itu.

          Ia terus menyerang saya dari belakang. Tetapi, saya pikir, hidup yang ia jalani saat ini bukanlah hidup yang ia inginkan. Ia ingin hidup yang saya punya sekarang. Saya tahu betul.

          Tetapi tenang. Saya bukan pendendam.
          Telinga saya memang ada di mana-mana. tetapi, tidak dengan mulut saya. Aibmu aman.





          Namun, anehnya, di depan saya, ia masih bisa tersenyum dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa.
Ternyata begini wujud fake people yang sebenarnya.

          Ya, Tuhan...

Share:

Little Pieces of A Big Gift

Film,
Tulisan,
Jalan-jalan,
Burger,
Ice cream,
Apel,
Kado,
Steak,
Waktu,
Kasih sayang,
Keringat dan ide ia simpan untuk hari ini. Tak ada tangan lain, tak ada otak lain.

Jangan bilang kalau ini tak seberapa, mas.


21 desember 2015
Aku hampir gila.


Aku ingin membagi bahagia agar tahan lama. So, click this Film and Skenario 
Enjoy it!

Share:

Sunday, 20 December 2015

203 #9

Aku sedang menyisir rambut ketika ia datang untuk menjemput. Seperti biasa, di depanku tak pernah sekalipun ia memujiku cantik. Hanya sesekali ia bilang, “Matamu bagus,”; “Bibirmu, aku suka,”; atau, “Rambutmu…”. Selebihnya, biasa saja. Tetapi, kudengar dari mulut orang-orang, ia tak pernah berhenti membanggakanku di depan orang banyak.

Dasar laki-laki, tinggi gengsi.

Dalam bekal berwarna merah jambu yang kubawa, aku tak membiarkannya terlambat makan. Hampir setiap hari aku memasak untuknya, saat sarapan ataupun makan malam. Tetap saja, tak pernah sekalipun ia bilang masakanku enak. Paling mentok ia hanya bilang, “Lumayan.”. namun, bagiku tak masalah ketika melihatnya menghabiskan masakanku tanpa jeda minum.

Begitulah.

Ia tak pernah menggamblangkan apapun di depanku. Segalanya pragmatik dan semiotik. Dari sinilah, aku dituntut kejut di setiap denyut.



Berkali-kali kubilang, ia tak pernah habis kejutan.
Mulai dari konser Endah N Rhesa saat senja, hingga konser Mocca di tempat VVIP.

Lalu, kapan kau mengajakku ke konser Maliq & D’Essentials, Mas?




Desember, 2015.
Sudah kubilang,
tak ada perempuan sebahagia aku. Dan tak ada laki-laki semahir kau.


Share:

Thursday, 3 December 2015

Berangkat dari Kekosongan

Suatu ketika, saat terik menerpa. Kelas kami disibukkan oleh pemahaman masing-masing diri atas materi perkuliahan. Pemandangan yang jarang terlihat, bahkan baru kali pertama tampak pada semester ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ya, ujian tengah semester.
Segala persiapan telah matang, dan saya memilih duduk di bagian depan. Bukan karena pencitraan. Hanya saja saya tak ingin imajinasi saya terganggu oleh bisik-bisik dari kanan-kiri. Bagi saya, pemahaman atas materi perkuliahan tak selalu tekstual, ambil saja intinya jelaskan menurut pemahaman dan bahasa kita sendiri beres!
Saya merasa nyaman dan aman berada di barisan paling depan. Sesekali menengok ke arah belakang, saya melihat suatu pemandangan yang tak menyenangkan. Sama sekali tak enak dipandang. Seorang mahasiswi sedang sibuk men-tattoo telapak tangannya dengan tinta. Lebih tak menyenangkan lagi, mahasiswi tersebut telah berkali-kali mendapatkan IP cumlaude. CUMLAUDE. C-U-M-L-A-U-D-E!
Lucu sekali. Saya jadi ingin tertawa.
Di mana urat malunya?
Cumlaude dari hasil yang tak halal.
Saya justru lebih mengapresiasi mahasiswa yang jujur dan tak neko-neko. Membaca materi memahami inti menginterpretasikannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Tak hanya berhenti pada ujian saja.
Dari pengalaman kecil tersebut, saya jadi mengerti apa arti kalimat, “Jangan pernah berangkat dari kekosongan,” yang seringkali dikumandangkan oleh pak Sendang.

Karena kita tak akan pulang membawa apapun, jika kita berangkat tanpa membawa apa-apa. Berangkat dari kekosongan.




November, 2015.
Begitulah.
Hidup.
Share:

Thursday, 19 November 2015

203 #8

Setiap denting telah memilih menitnya sendiri. Ia tak akan menghianati menit yang telah ia lilit. Dalam jangkauannya yang sesempit parit, ia tetap menyetia pada satu tanda untuknya berderit.
Aku selalu tahu itu.
Aku selalu meyakini itu.
Menjaganya dari piranha-piranha yang bukan hanya dari kalangan mahasiswa, tetapi juga dari kalangan pengajarnya. Mereka pikir mendapatkan perhatiannya semudah menawar kacang di pasar pagi buta. Coba saja kalau bisa. Kupastikan usaha mereka akan sia-sia saja.
And then I realize, I should be a territorial.
Ketika orang-orang di luar sana sedang sibuk berbelanja bahan makanan, aku sudah lebih dulu kenyang. Ketika orang-orang di luar sana sedang sibuk meracik bumbu masakan, aku justru sedang menikmati aroma makanan yang sudah sejak tadi kuhabiskan. Kurang bahagia apa lagi?
Sore tadi, sewaktu mendung menggantung. Ia bilang, “Suatu saat kamu akan benar-benar membenciku, Nok.”
“Membenci dalam jeritan, cakaran, keringat, aturan nafas, darah, air mata, rumah sakit, makhluk mungil, bahagia.”
Tolong, aku meleleh lagi.


Di atas awan  dalam dekapan, November 2015
Ia membuatku sadar bahwa ada situasi yang lebih inspiratif ketimbang malam hari dan pagi hari. Adalah ketika ia menerjemahkan hatinya lewat kata, entah saat fajar-terik-petang-gelap-hingga fajar lagi.
Dulu, aku hanya menginginkan seseorang yang mampu membawaku ke tempat di mana aku bisa menulis tanpa sekat.
Tetapi, Tuhan memang mahabaik.
Aku malah diberi-Nya seseorang yang tak hanya membawaku ke tempat yang tanpa sekat, namun juga seseorang yang sekaligus menjadi tempat itu sendiri.

Kini, tak perlu jauh-jauh mencari tempat untukku menulis puisi hingga berpuluh-puluh, tak perlu berpeluh untuk itu. Tempat itu sudah menjadi milikku sekarang hingga berabad-abad mendatang.

Share:

Tuesday, 17 November 2015

Rimba Samsara


Sebentar-sebentar di sini, sebentar-sebentar pergi
Sebentar-sebentar berlari, sebentar-sebentar berjalan kaki
Sering-sering merangkak, ia kehilangan berak
Tangisnya menganak pinak

Mungkin kami hanya penonton
Bebas berkomentar di depan TV sambil makan popcorn
Suara-suara yang hanya menggema di ruang 2 X 3
Selebihnya? Mengembun di udara
Padahal belum sempat sampai ke telinga mereka
Tangis mereka bergema

Mereka terjerembab
Matanya sembab
Sesekali menerka sebab musahab
Makan tak lagi lahap
Tangis mereka merayap

Dalam keriuhan air mata
Ada doa yang tak putus-putusnya


Semarang, 17 November 2015
Semua akan baik-bak saja


15.00 – 16.30
Sebuah puisi yang saya tulis
saat ujian tengah semester mata kuliah menulis puisi.
Dan, tema dadakan yang diajukan oleh dosen
adalah tentang aksi terorisme di Paris, Perancis.

Semua akan baik-baik saja. Baik-baik saja.
Share: