Monday, 18 January 2016

Bijaksana-Bijaksini

Setahu saya yang perlu dibagi adalah bahagia, bukan sengsara. Namun, kenyataan yang saya lihat saat ini berbeda. Memang ada beberapa orang yang masih melakukan hal tersebut (berbagi kebahagiaan), termasuk saya. Tetapi, lebih banyak orang yang justru melakukan sebaliknya.

Mereka hidup di jaman yang serbaterbalik.
Sedangka saya, hidup di jaman ketika berbagi bahagia malah dibilang pamer.

Begini,
Sepaham saya, predikat pamer muncul ketika seseorang merasa tak senang akan kebahagiaan seseorang yang lain. Dan untuk menutupi rasa iri mereka, maka mereka menyematkan predikat pamer kepada mereka yang senang berbagi bahagia.

Berbagi bahagia yang saya maksud di sini adalah berbagi dalam arti yang sebenarnya tanpa melebih-lebihkan cerita yang ada.

Maka, jangan heran ketika tak ada yang mau mendengar sengsaramu ketika kau pun enggan membagi bahagiamu.

Bijaklah dalam berbagi.
Bijaklah dalam menerima.
Bijaksana.
Bijaksini.




Semarang, 17 Januari 2016
"People nowadays,
don't know the true meaning of friendship and loyalty."
-unknown


Share:

Wednesday, 6 January 2016

Desember-Januari

Aku Desember. Kau Januari.
Kita jauh dalam kalender.
Namun, kita dekat. Lekat.

Pergantian ku- dan -mu selalu semegah kembang api dan semeriah suara terompet dini hari.



December gone.
January comes.
Welcome to your month, my January man.
Share:

Sampah!

          Bagi sebagian orang, hidup itu kompetisi. Ajang unjuk gigi. berlomba menjadi yang paling tinggi. Tak peduli meski harus membunuh teman sendiri. Seperti jagung yang berlomba saling loncat untuk sekadar jadi popcorn pengusir penat saat nonton film berat dan hanya berakhir jadi berak.

          Lalu, yang sebagian lagi menganggap bahwa hidup ini adalah sebuah proses. Proses untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Tentunya, setiap kepala memiliki cara yang berbeda. Dan dari cara yang berbeda, akan menciptakan hasil yang beraneka rupa.

          Hidup itu pilihan.

          Ada yang memilih menjatuhkan orang lain di depan banyak orang dengan tujuan ingin meninggikan dirinya sendiri. Menceritakan kepada orang lain tentang kebenaran yang belum pasti.

          Sama halnya dengan yang terjadi pada saya. Saya tahu betul apa yang mereka bicarakan tentang saya, kehidupan pribadi saya, bahkan keluarga saya.

          Telinga saya ada dimana-mana.

          Sakit hati? Pasti.

          Tetapi, saya selalu percaya bahwa kita tak perlu susah payah untuk membuktikan bahwa kita tidak salah. Karena Tuhan sendiri-lah yang akan bekerja tanpa perintah. Dan saya membuktikan hal itu.

          Ia terus menyerang saya dari belakang. Tetapi, saya pikir, hidup yang ia jalani saat ini bukanlah hidup yang ia inginkan. Ia ingin hidup yang saya punya sekarang. Saya tahu betul.

          Tetapi tenang. Saya bukan pendendam.
          Telinga saya memang ada di mana-mana. tetapi, tidak dengan mulut saya. Aibmu aman.





          Namun, anehnya, di depan saya, ia masih bisa tersenyum dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa.
Ternyata begini wujud fake people yang sebenarnya.

          Ya, Tuhan...

Share:

Little Pieces of A Big Gift

Film,
Tulisan,
Jalan-jalan,
Burger,
Ice cream,
Apel,
Kado,
Steak,
Waktu,
Kasih sayang,
Keringat dan ide ia simpan untuk hari ini. Tak ada tangan lain, tak ada otak lain.

Jangan bilang kalau ini tak seberapa, mas.


21 desember 2015
Aku hampir gila.


Aku ingin membagi bahagia agar tahan lama. So, click this Film and Skenario 
Enjoy it!

Share:

Sunday, 20 December 2015

203 #9

Aku sedang menyisir rambut ketika ia datang untuk menjemput. Seperti biasa, di depanku tak pernah sekalipun ia memujiku cantik. Hanya sesekali ia bilang, “Matamu bagus,”; “Bibirmu, aku suka,”; atau, “Rambutmu…”. Selebihnya, biasa saja. Tetapi, kudengar dari mulut orang-orang, ia tak pernah berhenti membanggakanku di depan orang banyak.

Dasar laki-laki, tinggi gengsi.

Dalam bekal berwarna merah jambu yang kubawa, aku tak membiarkannya terlambat makan. Hampir setiap hari aku memasak untuknya, saat sarapan ataupun makan malam. Tetap saja, tak pernah sekalipun ia bilang masakanku enak. Paling mentok ia hanya bilang, “Lumayan.”. namun, bagiku tak masalah ketika melihatnya menghabiskan masakanku tanpa jeda minum.

Begitulah.

Ia tak pernah menggamblangkan apapun di depanku. Segalanya pragmatik dan semiotik. Dari sinilah, aku dituntut kejut di setiap denyut.



Berkali-kali kubilang, ia tak pernah habis kejutan.
Mulai dari konser Endah N Rhesa saat senja, hingga konser Mocca di tempat VVIP.

Lalu, kapan kau mengajakku ke konser Maliq & D’Essentials, Mas?




Desember, 2015.
Sudah kubilang,
tak ada perempuan sebahagia aku. Dan tak ada laki-laki semahir kau.


Share:

Thursday, 3 December 2015

Berangkat dari Kekosongan

Suatu ketika, saat terik menerpa. Kelas kami disibukkan oleh pemahaman masing-masing diri atas materi perkuliahan. Pemandangan yang jarang terlihat, bahkan baru kali pertama tampak pada semester ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ya, ujian tengah semester.
Segala persiapan telah matang, dan saya memilih duduk di bagian depan. Bukan karena pencitraan. Hanya saja saya tak ingin imajinasi saya terganggu oleh bisik-bisik dari kanan-kiri. Bagi saya, pemahaman atas materi perkuliahan tak selalu tekstual, ambil saja intinya —jelaskan menurut pemahaman dan bahasa kita sendiri —beres!
Saya merasa nyaman dan aman berada di barisan paling depan. Sesekali menengok ke arah belakang, saya melihat suatu pemandangan yang tak menyenangkan. Sama sekali tak enak dipandang. Seorang mahasiswi sedang sibuk men-tattoo telapak tangannya dengan tinta. Lebih tak menyenangkan lagi, mahasiswi tersebut telah berkali-kali mendapatkan IP cumlaude. CUMLAUDE. C-U-M-L-A-U-D-E!
Lucu sekali. Saya jadi ingin tertawa.
Di mana urat malunya?
Cumlaude dari hasil yang tak halal.
Saya justru lebih mengapresiasi mahasiswa yang jujur dan tak neko-neko. Membaca materi —memahami inti —menginterpretasikannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Tak hanya berhenti pada ujian saja.
Dari pengalaman kecil tersebut, saya jadi mengerti apa arti kalimat, “Jangan pernah berangkat dari kekosongan,” yang seringkali dikumandangkan oleh pak Sendang.

Karena kita tak akan pulang membawa apapun, jika kita berangkat tanpa membawa apa-apa. Berangkat dari kekosongan.




November, 2015.
Begitulah.
Hidup.
Share: