Friday, 19 January 2018

203 #34

Pintu itu membawa rekam jejak ketukmu yang pelan tetapi mendebarkan
Di sampingnya, ada tirai hijau yang kusibak tiap kali harummu merebak
Kursi-kursi yang tak punya nyali, menjadi saksi tunggal betapa kau betah tinggal
Papan catur di atas meja, adalah satu-satunya hiburan utamamu dan Bapak untuk betah berlama-lama
Pukul tujuh lewat lima,
aku siap kau ajak kencan keliling kota
Makan di warung tenda atau restoran bintang lima
Nonton layar tancap atau ngantre tiket bioskop
Datang ke acara budaya atau undangan pesta dansa
Asal denganmu,
aku mau habiskan waktu sampai lelap di pelukmu.



Januari 2018
Keliling bersamamu.... Lelah sih, tapi nagih.


Share:

Wednesday, 27 December 2017

203 #33

Menjadi milikmu, adalah nasib mujur bagi wanita yang tak punya apa-apa. Bak kaya tanpa bekerja, aku ingin bagi-bagi harta ke fakir asmara.
***
Namaku adalah doa yang menjelma kata. Dan kamu wujud makna yang menghidupiku secara cuma-cuma.

Ketika mereka bertanya tentang aku, sebenarnya mereka sedang bertanya tentangmu. Mengendapkan rasa ingin tahu di ujung tanda tanya yang begitu-begitu saja. Terkadang, aku urung menjelaskan sebab lelah. Kenyataannya, tak sedikit yang menyembunyikan keingintahuan di balik wujud kepedulian.

Pada sore yang jingganya memesona, aku mengendap di pelukmu yang masih tetap sama. Aku bercerita dan kamu senyum-senyum saja. Aku menggerutu dan kamu mulai merayu. Jangan buat aku bimbang, sayang. Sudah tiga-tiga kali kutulis cerita untukmu. Cerita ini tak akan henti, maka bawa aku ke istana yang bisa disebut rumah.

Tak hanya pada dua puluh. Pada tiap ganjil bahkan genap, akan kutuliskan cerita yang mau diapa-apakan pun tetap hanya engkau yang ada di sana.

Desember 2017
Memang benar kata "Madre", bahwa 33 adalah trinitas yang saling bercermin, melengkapi, dan mengisi.

Share:

Pongah

Bahwa setiap yang angkuh pasti akan jatuh.
....

Jiwa-jiwa yang terlampau sepuh, untuk mengaku rapuh.
Terlalu kenyang makan julang.
Sebab sejak sulung disuapi sanjung.
Ternyata yang perlu sembuh bukan hanya luka.
Kesombongan pun harus dicari obatnya.



Desember 2017


Share:

Wednesday, 29 November 2017

203 #32

Ini musim hujan dan aku tak begitu menyukainya. Sebab segala yang kukenakan harus basah seketika padahal untuk memakainya harus kulewati menyikat bersih hingga menjemur di bawah matahari. Tetapi, kau lihat hujan yang beraturan dan tak membikin gaduh ini? Sungguh, hujan yang seperti ini yang membuatku menjadi seorang plin-plan sejati. Bagaimana tidak? Damai yang amat tentram ini kudapat dari butir air yang jatuh tepat di hati sang bumi yang terlanjur gersang dan tersakiti.

Damai yang menyimpan dingin. Kau yang tak habis kuingin.

Kulingkarkan jaket tebalmu yang lebih pantas disebut dress ketika sampai di tubuhku. Sesekali kurapatkan kedua telapak tangan dan kugosokkan berulang agar dingin ini tak begitu menyiksa. Tak ada kopi hangat apalagi perapian. Aku kedinginan dan kesepian. Tetapi kau, begitu hangat dan banyak bicara di kepala.

Kupakai kaos kaki agar hangat cepat-cepat menyerbuku. Sebab pernah kudengar nasihat agar selalu menjaga kaki untuk tetap hangat adalah kunci bagi hati yang tenang —selain beribadah tentunya. Aku memeluk diri sendiri sambil kukatakan padamu bahwa aku kedinginan.

Kemudian kau bilang, "Kupeluk kau dari kejauhan, sementara biar jaketku yang menemanimu bercumbu."


November 2017
Kepayang aku di tengah hujan.
Share:

Sunday, 12 November 2017

203 #31

Sajak yang kutulis untukmu,
adalah wajah kebungahan akan engkau —racun yang nikmat nan memikat.

Saat kau tuang anggur ke gelasku dan mu
Kulihat kau semegah lampu-lampu di atas kita
yang terang dan menarik perhatian
yang gelap jika redup
yang kutunggu saat petang jelang malam
yang tak bisa kutinggalkan saat tidur.

Jelang perempat malam,
Ketika tak sengaja aku terbangun,
Kulihat kau masih terjaga,
Menjaga aku,
yang ketakutan dikejar mimpi buruk.


Oktober 2017
sadjak ini memanglah untukmu,
yang sedang kupandang lamat-lamat.

Share:

Friday, 10 November 2017

Senandika

Aku terpejam sebab bimbang
Kutampung derau yang perlahan mendesau
Kini, nafasku ikut bimbang
Pelan, kubuka kelopak yang melalau
Ada relang yang membuat senyumku mengembang

Bahwa di persimpangan sana
Ribuan tangan senantiasa ada
Menjemput aku
Yang tengah abu-abu

Aku kini biru

Semarang, 12 Agustus 2017
Bahwa hidup adalah tentang pemakluman-pemakluman Tuhan.
Share: