Sunday, 27 January 2019

203 #46

Pagi itu, aku kembali ingin jadi hujan,
yang membuatmu ingin lama-lama di balik selimut,
yang membuatmu ingin lama-lama bermanja pada bantal,
yang membuatmu ingin lama-lama memandangku.
Saat itu,
saat matamu menilik rinai dibalik tirai kamarmu,
aku tahu,
kau pun sedang memindai ingatan-ingatan.
Saat kau pakaikan jas hujan di tubuhku,
saat kau rela kebasahan demi aku yang di belakangmu,
saat kau ingin lama-lama bersamaku,
dengan secangkir teh,
secarik kertas,
irama lagu,
cerita orang-orang di sekitar,
dan beratus-ratus kalimat indah.

Aku selalu ingin jadi hujan,
yang jatuh padamu.
Pada matamu,
pada helai rambutmu,
pada jemarimu,
pada pundakmu.
Aku ingin terus sandar,
dalam bentuk apapun yang kusuka.
Asal kamu haluannya.


Januari 2019

Share:

Friday, 18 January 2019

Renik

kaki-kaki kecil berlarian,
tanpa alas kaki,
rambut aroma matahari,
singlet putih melati,
tawa rendah hati.
putih,
suci,
ingin diulangi.

tangan lembut mengikuti,
mangkuk sup,
daster coklat kucam,
renjana,
tenteram,
sudi,
tak usai.

masa renik,
adalah kelegaan,
tak ada rumit kemacetan jalan,
tak ada tugas bertimbun,
tak ada kepatah-hatian,
sebab,
kala itu,
cinta tumbuh tanpa meminta kembali.

indah, ya.
iya,
namun tak abadi,
sebab, manusia tumbuh,
menjadi apa yang dimau,
lalu lupa,
pada masa suci,
penuh kasih,
yang saat dewasa justru dicari-cari.

lalu,
kemana perempuan dengan mangkuk sup di tangan yang mengikutimu berlarian kala dulu?
itu,
adalah ibu,
sang pekerja kasih,
tak ingin dibayar,
tak bisa ditukar.

ΔΔ
Sebuah puisi —respon, untuk lagu @monitatahalea - "Sesaat yang Abadi".

19.11.19
Share:

Tuesday, 1 January 2019

Wahana Antariksa

merah dan basah,
lara,
ini luka atau cua?

dari atas sini, aku melihat burung terbang sejajar pundak dan kepalaku.
dari atas sini, aku melihat gunung, laut, dan pola permukiman warga yang payah tapi indah.
dari atas sini, aku melihat lalu lintas yang tak pernah lelah, warna-warni di sekitarnya menyeimbang di tengah gelita.
dari atas sini, aku melihat anak-anak bermain petak umpet, lompat tali, dan sepak bola.
dari atas sini, aku bisa melihat segalanya,
Kecuali Hatimu.

dari atas sini, aku melihat mimpi, yang dekat namun tak terenggut.

Saat sedang gebu, aku runtuh.
mungkin aku lupa, aku cuma sedang naik wahana antariksa —buatanmu.

Desember 2018
Share:

Thursday, 20 December 2018

Wayah*

debur,
debar,
dan debu yang gusar.

pada kaca berdebu yang tak pernah bermigrasi, di sana, aku melihat ibu yang dirundung nota-nota belanja.
sedang cangkir blirik selalu setia di atas meja, menemani bapak, lebih setia ketimbang ibu yang merenungi angka-angka.
gelap dan panas,
bapak acapkali bercerita pada benda mati tetapi hidup di hadapannya.
melalui sesap, ia bercerita, alangkah bahagia tatkala kelegaan memancar usai perbincangan itu,
berkali-kali,
diulang-ulangi.

hujan semakin hangat,
si pembayun tak jua terlihat,

nista,
iba,
pada rumah yang tak punya wayah.
lindang,
lindap,
lingkap,
pak,
bu,
anakmu kehujanan pilu,
ingin pulang, tapi tersesat di jalan buntu.


—141018, Semarang.







*masa/waktu
Share:

Monday, 17 December 2018

203 #45

besok, entah musim apa, ingatan akan terus tumbuh dan tambah.
berabad-abadi,
dalam percik,
rebas-rebas,
panas,
gersang,
cangkir-cangkir penuh ampas teh,
loyang dengan kerak roti,
asbak berbubuk serutu,
tangan yang menyiah rambut ke belakang telinga,
senyum yang malu namun jujur,
lengan,
rangkul,
nota-nota belanja,
hingga kalimat, "kamu mau makan apa?".

mereka akan hidup,
dalam ingat dan langkah kaki menuju pabrik memori.

tak berkesudahan.
sebab yang sudah adalah susah,
dan yang belum adalah akan.

dengan kantong ingatan yang tak habis-habis,
aku ingin terus berproses,
bersama genggaman tanganmu,
yang menuntun menuju yang hampir sempurna.

Desember 2018


Share:

Friday, 30 November 2018

203 #44

Ada yang dibayar lunas, tapi tak jua tuntas.

Yang namanya rindu, mana bisa dihitung?


"Ini jalan menuju ke kosku. Kalau berangkat kerja aku lewat sini, kalau pulang beda lagi," dia berceloteh ketika kami menyusuri lembah menjulang di selatan ibu kota.

Dari dulu ia memang bakat bercerita. Pas denganku yang lebih suka mendengarkan. Sesekali bercerita kalau kebetulan ingat.

"Nah lewat sini. Kemarin aku beli celana di sana, nanti aku ajak ke sana, ya," ia melanjutkan.

Ia masih sama seperti 3 tahun 8 bulan lalu.

Dengan badan tinggi tegap dan rambut gondrong, pasti terlihat seram kalau lagi jalan. Ada yang bilang kayak preman, musisi jalanan, sampai aktor figuran.

"Hehehe aku agak cerewet nggak apa-apa, ya?" pengakuannya tampak suci.

Kukasih satu rahasia. Meski tampak beringas, tapi —sumpah demi apapun— dia nggak pernah berkhianat. Apapun bentuknya.

Seperti yang sudah-sudah. Kami hanya teman cerita. Dia dengan segudang wanitanya dan aku dengan diriku sendiri yang gini-gini aja. Mengerti kondisi terburuk hingga ter-wah-nya membuatku ragu apakah akan berhasil jika aku dan dia terikat dalam sebuah hubungan yang bukan pertemanan?

Detik, menit, jam, hari, bulan, tahun berlalu. Semakin lama, kami semakin tahu. Masing-masing kami saling butuh dan acuh.

"Ini kantor tempatku kerja. Kalo lagi nggak males, aku makan siang depan sini. Ada macem-macem menu," ia melanjutkan.

Riuh suara klakson dan genangan polusi rasa-rasanya tak bisa menjatuhkan semangatnya untuk mengajakku berkeliling. Mengenali hidupnya yang kini jauh dariku dan keluarga.

"Oi, Pak! Lek! Om!," sapanya ketika melewati penjual kaki lima yang sering menjadi tempat cacing-cacing perutnya berlabuh.

Dia tampak amat bahagia.
Lalu aku?
Aku merasa lega.

Aku lega ketika aku tak ada di sampingnya secara fisik, ia telah memiliki banyak teman dan lingkungan yang membuatnya nyaman.
Aku lega ketika mengetahui ia selalu sehat secara fisik dan mental.
Aku lega ketika mengetahui aku tetap menjadi satu-satunya.
Aku juga lega ketika bisa menemuinya saat ia sendiri tak tahu kapan akan pulang.

Tujuan pulang,
haruskah selalu rumah?

Pulang, tak selalu menjadikan bangunan sebagai tujuan. Pulang ialah tempat bagi hati bersandar. Menumpahkan racun yang membikin hati tak sehat.

Ia memang tak tahu kapan akan pulang. Maka, akulah yang akan pulang. Kepadamu. Kepada pelukmu.

November 2018
Jiwaku telah mengubah Jakarta jadi rumah.
Share: