Tuesday, 3 December 2019

226 #4

percakapan sebelum tidur,
memelihara kasih yang sewaktu-waktu bisa lebur
ia memupuk,
di pundaknya ada aku dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang,
di pundakku ada kami,
teliti meruwat-merawat,
jika lelah istirahat.

aku punya pundakmu,
kamu punya pundakku.

ia sekarang lelap,
mungkin di mimpinya ada ketakutan.
mungkin hanya putih,
mungkin hanya gelap,
mimpi memang tak pernah punya warna.

tidurlah,
pukul enam kubangunkan kau,
kembalilah pada tembok itu putih,
lukisanmu di bawah jam dinding itu penuh warna,
dan aku yang di sebelahmu ini bisa jadi merah jingga kuning hijau biru nila atau ungu.

10.'19
Share:

226 #3

meramu-memaruh,
nasib baik menyuapi jiwa kita yang sama laparnya,
aku menyauk permintaan tanpa takut tersedak, sedang kau mendulang asa pada bibirmu lalu bibirku,
kita kenyang,
butuh air putih untuk mengisi ulang.
lalu,
kita menanak catatan dari percakapan-percakapan,
yang dimatangkan agar gampang ditelan.

sayang,
keputusan itu seperti nasi.
jika kurang, lapar.
jika penuh, mual.
jika basi, tak berarti.

tapi perutmu dan perutku sudah lama hidup bersama.
urusan nasi tak seberat itu.
urusan porsi tak sepelik itu.
jangan pusing soal angka,
sebab saling memahami tak perlu matematika.

September 2019.


Share:

Wednesday, 21 August 2019

226 #2

saban malam,
kita disaksikan rembulan
menghitung jengkal kedamaian pada ujung mata sendiri
saban pagi yang muda,
kita dirayakan jengkal kedamaian yang telah turun pada ujung bibir sendiri
akan terus kau temui kedamaian itu saban waktu
jika kau dihancurkan kota, pulanglah
jika kau dikhianati janji-janji, pulanglah
jika kau dikejar cerca, pulanglah
jika kau dicurangi strata, pulanglah
akan kita rayakan dengan kedamaian yang ada pada tubuh kita
kita akan sering pesta
dengan masakan rumah dan lagu-lagu indah
hingga nanti dilelapkan masa,
pada masa itu, renyapkan lukamu di kakiku,
sebab jeda juga butuh tenaga.



Agustus 2019
Share:

Monday, 22 July 2019

226 #1

menjadi gabung,
jiwaku landung,
selamanya gandrung.
kekasihku,
aku ingin menyimpan jari manisku rapat-rapat,
agar cintamu pudat —tak pudar.
pada yang lingkar, tresnamu mengakar,
pada yang lingkar, kau-aku berkelakar.
menjadi sirine pada pagi hari di pipi,
menjadi gurih pada petang di bibir,
menjadi suam pada malam hingga fajar.
bahwa menjadi junjungan itu sulit, tapi kau selalu bisa banyak hal,
dan aku akan jelma menjadi induk beras yang handal.



Juli 2019
Share:

Friday, 19 July 2019

#peralihan

malam ini, kami mengeja kecamuk di hati hingga sisa-sisa luka mengering dan pulih,
badaimu kutukar dengan kalimat, "selamat tidur, mimpi burukmu segera tamat."
ruamku yang mengendap, habis kau singkap.
kita sama-sama terluka,
sama-sama mencari penawarnya.
pada titik ini,
kau-aku telah pulih,
menjadi jiwa baru yang jernih,
pada akhir sekaligus awal,
kau telah bersumpah menjadi pengayom,
menjadi manggala,
untukku dan trah atas namamu.

"saling sangga, saling sungga. oleh ilah, telah alih."

20 Juni 2019
Share:

Memeluk Kenyataan

kepada yang hatinya pernah murka,
ijinkan jiwamu menjadi penyembuh, hingga waras dan kembali utuh.
yang tak adil di masa lalu,
yang tak sesuai ingin di masa dulu,
yang belum sejalan dengan rencana-rencana,
biarkan tetap ada,
untuk tinggal hingga tanggal.
jangan jatuhkan air matamu sia-sia,
ia berharga, beri ruang pada masa penuh suka cita.
tak ada yang sulit dari merelakan sakit.
jiwamu akan biru jika kenyataan kau peluk berpadu.
kau berharga.
kau berharga.
kau berharga.
peluklah hidupmu mesra.
tak ada yang berhak melepasnya,
kecuali kebebalanmu akan abadinya luka.

Semarang, 24 Mei 2019.
Share: