Monday, 28 January 2013

Madre

Madre. Apa yang ada di pikiran kalian jika aku menulis satu kata "Madre"? Apakah sebuah Novel karya penulis wanita paling berpengaruh, Dee Lestari kah? Ya, aku mengenal kata "Madre" memang dari novel yang ditulisnya. Namun di sini, aku tidak akan bercerita tentang Novel apik tersebut. melainkan aku akan bercerita tentang Ibu. Ya "Madre" dalam Bahasa Spanyol berarti "Ibu".

Ibuku lahir 42 tahun yang lalu. Entah dari mana aku harus memulai ceritaku tentang wanita yang sangat menginspirasiku ini. Yang jelas, setiap gerak-geriknya, setiap tatap matanya, dan setian tutur bahasanya menyimpan banyak cerita.

Ia seperti tak mengenal lelah. Bahkan rasa-rasanya ia sangat asing dengan kata lelah. Seperti tak pernah bertemu. Tak pernah bertatap sapa. Pun tak pernah ada dalam kamus kehidupannya. Mungkin bisa diibaratkan bahwa ia membenci lelah.

Entah. Sudah berapa rupiah yang ia keluarkan untuk membiayai hidupku sepanjang 19 tahun ini. Aku tak hanya mengganggapnya seorang Ibu, tapi sekaligus Ayah, meski kenyataannya aku juga punya Ayah. Namun rasa-rasanya ibuku lebih cocok memikul dua posisi tersebut. Ya, itulah yang aku rasakan selama hidup.

Kurasa aku tak perlu bercerita banyak tentang Ayahku, hanya Ibuku saja.

Yang jelas. Ibuku adalah wanita yang banyak menginspirasiku. Dalam hal apapun. Termasuk menulis.



Didedikasikan untuk Madre-ku satu-satunya.
Rini Sulastri.
Aku sangat menyayangimu.


Share:

Sunday, 30 December 2012

New York! New York! New York!!!




"New  York. Concrete jungle where dreams are made of..."

Penggalan lirik lagu Alicia Keys.




Aku cinta Indonesia. Tapi aku bermimpi menginjakkan kaki di bumi Empire state of mind, New York.
Statue of Liberty, General Shuyler's house di Saratoga National Historical Park, Niagara Falls di Canada, Harlem and Brooklyn Bridge. Aku ingin semuanya.




-Brooklyn Bridge-

Kota populer yang tak seorang-pun tak mengenalnya. Benar kan? Bahkan kau kenal betul bukan dengan kota Film ini? Istilahnya a town that is famous as the places of movie scenes.
Selalu ramai, riuh, dan setiap sudut kotanya mengandung arti. Setiap jalannya membuatmu terasa lahir kembali, membuatmu terasa menjadi orang baru.Lampu-lampu megahnya akan memberimu inspirasi atas apapun.

Bahkan di kota besar dan terkenal ini, di sepanjang jalan yang penuh dengan lampu-lampu arogannya, mimpimu tampak cantik. Tak satupun mampu menandingi kota ini, entahlah ke-hipnotisan-ku terhadap kota ini begitu besar.

Jika suatu hari aku dapat mewujudkan mimpiku ini, aku berjanji akan kuceritakan semuanya pada kalian, tak tersisa. Setiap gerak tubuhku-pun akan kuceritakan. Ya, pasti.


Semarang, 31 December 2012.


With Love,
Resla

Share:

Wednesday, 26 December 2012

Panggil Aku Sydney by Kartika...




 
Judul: Panggil Aku Sydney
Penerbit: Aline
Penulis: Kartika


Deskripsi ringkas
SAYAPKU patah sejak berlalunya satu musim kemarin. Pergi tanpa permisi, seolah ia
memang hadir untuk pergi.
Kesadaran hanya menamparku sesaat. Setelah itu aku masih di sini. Rumah sakit jiwa
yang megah. Tapi, kupilih dia sebagai jati diriku.

Aku masih menggendong bantal dalam pelukan, terkadang mengobrol dengan bunda
dan Sarah. Ayah juga seskali mampir, memberitahuku bahwa mataku selalu biru dan
tak akan pernah redup.

Aku harus membuat mereka percaya bahwa aku sedang hamil, agar mereka melepaskanku
dari sini. Lalu pergi jauh. Aku harus menyelamatkan anakku yang kelak lahir dan akan
jadi teman sepanjang sisa hidupku. Aku sudah berjanji akan mencintai dia selamnya.
Apapun yang terjadi. Namun di lorong waktu ini aku terjebak. Ketumpulan ini membuatku
frustasi. ...




Share:

Ketika Sesuatu yang Telah Kau Pilih dalam Hidupmu Telah Menjadikanmu Pecundang, Karena Kau Enggan Berjuang



Hidup memang bukan sekadar tentang pilihan. Pilihan tanpa perjuangan sama halnya dengan ingin sampai ke tujuan namun enggan beranjak.
Perjuangkan apa-apa yang telah kau pilih merupakan penentu apakah kau akan menjadi pemenang atau hanya berakhir sia-sia sebagai pecundang.

Aku ingin tahu rasanya diperjuangkan, dibela mati-matian, dilindungi sepenuh hati, menjadi yang paling kau takuti jika kehilangan, menjadi yang utama dalam setiap doamu, tak pernah absen dalam mimpi indahmu, hingga menjadi yang terakhir di hidupmu.

Aku mencintaimu melebihi ke-egois-an-ku yang inginkan dicintaimu melebihi cintaku padamu. Belajarlah mencintaiku dengan sederhana. Maniskan sikapmu. Aku mau itu. Ya, setidaknya itu saja. Karena aku mencintaimu bukan kata cinta yang kuingin, melainkan rasa cinta sebagai balas.

Share:

Tuesday, 25 December 2012

Sebab Ketika Ia Benar-benar Yakin, Lawan Hatinya Tak Demikian Memberi Harga

Coba kau telaah hatiku. Dalam. Lebih dalam lagi. Hingga kau temukan tumpukan terbawah. Kau lihat itu? Aku meyimpan kita di sana. Selalu.
Tapi. Ya, seperti lingkaran. Aku tak bisa menemukan pangkal dan ujung dari serangkaian kita.

Kau tak peduli. Masih saja tak peduli. Seharusnya aku paham bukan bahwa ke-tidak-peduli-an adalah bentuk lain dari ke-tidak-tertarik-an? Seharusnya memang begitu. Tapi pesonamu membuatku enggan keluar dari drama ini. Seperti terkurung dalam pesakitan yang dibuat sendiri. Konyol. Luar biasa konyol.
Tak ada yang bisa kulakukan lagi. Semua bak angin lalu bagimu. 

Aku seperti sesuatu yang kau lirik saat kau butuhkan saja. Selebihnya? Jangan harap.

Atau aku yang terlalu murah karena sangat tertarik padamu? Jadi aku harus -setidaknya- pura-pura tak tertarik padamu agar aku terlihat -sedikit- mahal? Itukah jaminan ke-acuh-an-mu? Begitukah?

Ya, pada kenyataanya laki-laki lebih rumit ketimbang wanita.

Share:

Ya, Tentu Saja. Mungkin Aku Tak Pernah Menjadi Sesuatu yang Harus Kau Jawab

Apakah di setiap mimpi malammu bayangku ikut serta di dalamnya?
Apakah di kepingan hatimu itu terukir namaku?
Apakah aku penting bagimu?
Apakah kau mencintaiku?
Pertanyaanku sederhana bukan? Kau cukup menjawab "ya" atau "tidak". Namun pada kenyataannya kau tak punya jawaban apapun. Mungkin memang aku tak pernah menjadi sesuatu yang harus kau jawab.

Pernahkah kau berfikir jika posisi kita berbalik? Aku yang tak acuh bukan buatan sedangkan kau yang menumpuk peluh mengharapkan ke-acuh-an-ku setengah mati?
Pernahkah kau pikirkan hal tersebut?
Kau kehabisan akal hingga hampir putus asa.
Kau sudah tak punya gengsi lagi untuk melakukan apapun asalkan kau mendapatkan ke-acuh-an-ku.
Namun... Jika. Ya, hal tersebut hanya sekadar 'jika'.


Teruntuk seseorang yang sangat menyita hatiku,
Meski kau bukan cinta pertamaku, 
namun kauyang membuatku berpaling dari sakit yang disebabkan oleh sang cinta pertamaku.
Semarang, 25 Desember 2012
Share: