Tuesday, 28 July 2015

203 #4

R.A.C!


Resla Aknaita Chak, 21 Des 1993. Bukan parasnya yang bikin aku kesengsem, tetapi seleranya. Good girl. Bisa masak. Suka banget sama apel & salak. Masakan andalannya asem kangkung. Suka ketawa-ketawa malu kalau liatin aku sampe wajahnya merah. Mualesnya nggak ada yang ngalahin, leletnya juga. Plan-nya nggak jelas kalau mau ngerjain sesuatu. Gabisa tenang kalo ngadepin sesuatu yang kompleks, ngadepin masalah juga. Sendawa sama kentutnya, wuiiih, menggelegar! Sering bikin aku cemburu. Ada kalanya aku bener-bener jengkel kalo inget masalalunya. Nggak suka pedes tapi kalo sama biting senengnya ngalahin aku. Suka jajan. Bantahan!
Dia menyebut dirinya dengan berbagai sebutan; Barbie, Kadek Devi, yang paling sering Wanita Dove. Oiya, ijo tosca yang identik sama dia. Suka banggain rambutnya. Makannya dikit banget. Trus apa lagi ya... emm. Aku sayang banget sama dia!
Kalo sama temennya dipanggil Chak, sama temen di bawah dipanggil Cil. Suka nangis. Seneng sama bunga mawar putih dan kejutan.
Seleranya top dah. Selera baca. Selera dengar. Oiya, dia juga penulis. Suka hal yang berbau oldschool. Selera cowonya juga anti mainstream. Nggak teges juga orangnya. Agak ribet kadang-kadang, kaosnya suka disobek-sobek. Dia belum sepenuhnya menemukan jati dirinya, masih terombang-ambing. Suka Maliq & D'Essentials, Birdy, dan masih banyak lagi. Suka travelling, poto-poto, update-nya juga. Aku lebih mengenal dirinya daripada dirinya sendiri. Suka bilang "ndak ok" sama gesturnya yang begitu. Suka jazz juga. Suka gunain jarinya buat godain aku sama suara yang dimanja-manjain gitu. Manjanya itu juga yang bikin kangen.
Aku selalu berusaha melupakan masalalunya. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik yang aku punya, yang aku tahu buat dia, semuanya!
Dia jujur. Mau diatur buat kebaikan dia. Aku selalu sakit kalo nggak bisa ngasih apa yang dia minta. Dia wanita baik tetapi punya lingkungan yang kurang baik. Makin ke sini sama aku makin dewasa pola pikirnya, cuma kadang suka susah diatur. Dia paham banget aku. Dia setia. Dia selalu berusaha buat aku seneng, apapun caranya. Dia sayang banget sama aku. Suka banget kalo aku ajak ke rumah. Dia cantik. Dia manut. Figur yang baik buat anak-anakku. Aku beruntung dapetin dia, meskipun di depannya aku selalu jaim, tapi sebenernya aku takut kehilangan dia dan semua tentang dia, kelebihannya, kekurangannya, semuanya! Apalagi cara dia menyayangi aku, cara dia memperlakukan aku. Aku nggak mau kehilangan dia.

...

(Sebagian isi surat disimpan untuk pribadi hehe :-p)

...

NB: aku yakin dia bisa baca tulisanku.

-Adji G Rinepta




Tulisan tangan dari seorang laki-laki yang kepadaku ia putuskan untuk menyimpan hati. Pun aku akan menjaganya dengan hati.






Juli, 2015.
Share:

Sunday, 21 June 2015

203 #3

Laci cokelat tua itu masih akan tetap terbuka, menampung lembar demi lembar cerita bahagia kita. Aku tak punya kuncinya, begitu juga kau. Kita membiarkan orang-orang bebas membuka laci dan membacanya sesuka hati. Ada yang turut bahagia, pun banyak juga yang merasa tak suka sebab terluka. Menjadi penumpang memang harus selalu siap dengan segala resiko yang ada.

Sekarang mari kita berhitung, 60 dikalikan 60, dikalikan 24, dikalikan lagi 92. Percayalah bahwa akan kau temukan angka 7.948.800, itulah banyaknya milisekon yang telah kita lalui bersama. Angka itu masih akan terus bertambah sesuka yang ia bisa. Hingga kalkulator termahal-pun tak mampu menampung rentetan angkanya.

Kau tahu aku tak suka matematika, tapi tak apa karena hal itu hanya sebuah umpama. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku... aku menyayangimu tanpa ragu.

Tetaplah menjadi lelakiku yang memabukkan. Cukup aku saja yang kau bikin mabuk.

Semarang, 19 Juni 2015; 23:01
Jelang duapuluh ketiga.
Share:

Friday, 29 May 2015

203 #2

Entah apa yang ada di kepalamu. Kau selalu membuat kejutan kecil yang besar.
Aku selalu mengamini pengaminanmu atas kata-kataku, kau pun sama, selalu mengamini pengaminanku atas doa-doamu. Kau selalu memandang sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda.
Hari ini, ketika kita membicarakan tentang masa depan, aku bertanya, "Siapa yang akan kau nikahi?"
Kau diam.
Aku mengulangi pertanyaanku dengan nada sedikit meninggi. Kau tetap diam.
Aku kembali mengulangi pertanyaanku dengan nada yang lebih meninggi lagi. Kau masih saja diam.
Kembali aku menanyakan pertanyaan yang sama untuk kali keempat. Kali ini kau menjawabnya, bukan dengan kata. Namun dengan sebuah kecupan manis.
Kau tahu? Kau selalu melakukan hal-hal kecil yang mampu membuatku bahagia setiap harinya.
Kini, aku selalu berdoa kepada Tuhan. Agar Tuhan pun mengamini pengaminan kita.

Semarang, 30 Mei 2015; 02:04
Aku tulang rusukmu, kau tulang punggungku.
Share:

203 #1

Dekapmu ceracak. Membuatku nyaman dalam gelakak. Membuatku aman telak. Meski sesekali aku gelatak, aku tahu, itu tak menjadi masalah bagimu.

Kita sua agar tak jelabak, hingga datang kelak. Kita akan menyumpal mulut-mulut mereka yang berdecak tidak. Kita akan kacak sambil terbahak dihadapan mereka yang pelak.

Cara mereka mengartikan sorotmu, berbeda dengan caraku. Cara mereka mengeja gerakmu, berbeda dengan caraku. Mereka tak paham bahwa ada milyaran hal yang mereka kira nihil.

Kau ibarat kebun di belakang rumah. Teduhmu tak nampak. Hijaumu tak kasat. Rindangmu hanya untuk sang pemilik rumah -aku.



Semarang, 24 April 2015, 01:56
Hari masih belia.

Didedikasikan untuk sosok yang mendekap tapi tak menyekap, mas Adji. Tetaplah menggenggam tanganku di depan teman-teman dan orangtuamu.


Footnote:
*ceracak: ce-ra-cak, ber-ce-ra-cak v bercerancang
 ➡cerancang: ce-ran-cang, ber-ce-ran-cang-an v y tajam (tinggi-tinggi)

*gelakak: ge-la-kak v tertawa gelak-gelak

*gelatak: ge-la-tak a cerewet; banyak mulut

*jelabak: je-la-bak ark v, ter-je-la-bak v roboh; runtuh

*kacak: ka-cak a 1 tampak gagah; cegak; 2 angkuh; pongah

*pelak: /pélak/ a salah; keliru; luput
Share:

Sunday, 29 March 2015

Sore

Embun di sana
Memecah dua di daun berbeda
Mengusik kering tanah pertiwi
Suguhi seteguk peluk untuk tiap lekuk

Hujan sore ini
Ajak menari mengeja bahagia
Mari berpuisi bernyanyi berlalala-lilili

Berdansalah selagi pagi masih dalam mimpi


Semarang, 30 Maret 2015; 02.26 a.m
Selamat tengah malam, sore.
Share:

Saturday, 7 February 2015

Tuan Nona di Sudut Balkon



Nona di sudut balkon.Apa yang kau lihat di dalam cangkirmu? Tatapan yang tanpa arti. Tidakkah kedua tanganmu lelah menyangga cangkir? Entah teh. Entah kopi. Entah cokelat. Tidakkah kau tahu mereka ingin diseduh? Tidakkah kau tahu mereka tak ingin tersia-sia?


Tuan di sudut balkon.Apa yang kau lihat di tengah kanvasmu? Tatapan yang tanpa ide. Tidakkah kedua tanganmu lelah menyangga dagu? Entah hijau. Entah kuning. Entah biru muda. Tidakkah kau tahu mereka ingin diadu? Tidakkah kau tahu mereka tak ingin tersia-sia?


Nona di sudut balkon. Gemuruh apa yang bergejolak di dalam dirimu? Sorotmu tampak kelabu. Genggammu tampak pilu. Apa yang sedari tadi kau tunggu? Kulihat cangkir lain di mejamu.


Tuan di sudut balkon. Apa yang membuatmu sendu, hingga membuatmu buntu? Apakah kau kehilangan objek gambarmu? Berhentilah membuang waktu.

Nona di balkon barat.
Tuan di balkon timur.
Minum teh -entah kopi, entah cokelat- di sore hari setelah selesai melukis tampaknya akan sangat manis.

Senyum mereka mengembang di jarak kurang dari enam belas kaki.



Semarang, 06 Februari 2015
Pemandangan unik dengan suara jangkrik. 


Share: