Sunday, 20 December 2015

203 #9

Aku sedang menyisir rambut ketika ia datang untuk menjemput. Seperti biasa, di depanku tak pernah sekalipun ia memujiku cantik. Hanya sesekali ia bilang, “Matamu bagus,”; “Bibirmu, aku suka,”; atau, “Rambutmu…”. Selebihnya, biasa saja. Tetapi, kudengar dari mulut orang-orang, ia tak pernah berhenti membanggakanku di depan orang banyak.

Dasar laki-laki, tinggi gengsi.

Dalam bekal berwarna merah jambu yang kubawa, aku tak membiarkannya terlambat makan. Hampir setiap hari aku memasak untuknya, saat sarapan ataupun makan malam. Tetap saja, tak pernah sekalipun ia bilang masakanku enak. Paling mentok ia hanya bilang, “Lumayan.”. namun, bagiku tak masalah ketika melihatnya menghabiskan masakanku tanpa jeda minum.

Begitulah.

Ia tak pernah menggamblangkan apapun di depanku. Segalanya pragmatik dan semiotik. Dari sinilah, aku dituntut kejut di setiap denyut.



Berkali-kali kubilang, ia tak pernah habis kejutan.
Mulai dari konser Endah N Rhesa saat senja, hingga konser Mocca di tempat VVIP.

Lalu, kapan kau mengajakku ke konser Maliq & D’Essentials, Mas?




Desember, 2015.
Sudah kubilang,
tak ada perempuan sebahagia aku. Dan tak ada laki-laki semahir kau.


Share:

Thursday, 3 December 2015

Berangkat dari Kekosongan

Suatu ketika, saat terik menerpa. Kelas kami disibukkan oleh pemahaman masing-masing diri atas materi perkuliahan. Pemandangan yang jarang terlihat, bahkan baru kali pertama tampak pada semester ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ya, ujian tengah semester.
Segala persiapan telah matang, dan saya memilih duduk di bagian depan. Bukan karena pencitraan. Hanya saja saya tak ingin imajinasi saya terganggu oleh bisik-bisik dari kanan-kiri. Bagi saya, pemahaman atas materi perkuliahan tak selalu tekstual, ambil saja intinya jelaskan menurut pemahaman dan bahasa kita sendiri beres!
Saya merasa nyaman dan aman berada di barisan paling depan. Sesekali menengok ke arah belakang, saya melihat suatu pemandangan yang tak menyenangkan. Sama sekali tak enak dipandang. Seorang mahasiswi sedang sibuk men-tattoo telapak tangannya dengan tinta. Lebih tak menyenangkan lagi, mahasiswi tersebut telah berkali-kali mendapatkan IP cumlaude. CUMLAUDE. C-U-M-L-A-U-D-E!
Lucu sekali. Saya jadi ingin tertawa.
Di mana urat malunya?
Cumlaude dari hasil yang tak halal.
Saya justru lebih mengapresiasi mahasiswa yang jujur dan tak neko-neko. Membaca materi memahami inti menginterpretasikannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Tak hanya berhenti pada ujian saja.
Dari pengalaman kecil tersebut, saya jadi mengerti apa arti kalimat, “Jangan pernah berangkat dari kekosongan,” yang seringkali dikumandangkan oleh pak Sendang.

Karena kita tak akan pulang membawa apapun, jika kita berangkat tanpa membawa apa-apa. Berangkat dari kekosongan.




November, 2015.
Begitulah.
Hidup.
Share:

Thursday, 19 November 2015

203 #8

Setiap denting telah memilih menitnya sendiri. Ia tak akan menghianati menit yang telah ia lilit. Dalam jangkauannya yang sesempit parit, ia tetap menyetia pada satu tanda untuknya berderit.
Aku selalu tahu itu.
Aku selalu meyakini itu.
Menjaganya dari piranha-piranha yang bukan hanya dari kalangan mahasiswa, tetapi juga dari kalangan pengajarnya. Mereka pikir mendapatkan perhatiannya semudah menawar kacang di pasar pagi buta. Coba saja kalau bisa. Kupastikan usaha mereka akan sia-sia saja.
And then I realize, I should be a territorial.
Ketika orang-orang di luar sana sedang sibuk berbelanja bahan makanan, aku sudah lebih dulu kenyang. Ketika orang-orang di luar sana sedang sibuk meracik bumbu masakan, aku justru sedang menikmati aroma makanan yang sudah sejak tadi kuhabiskan. Kurang bahagia apa lagi?
Sore tadi, sewaktu mendung menggantung. Ia bilang, “Suatu saat kamu akan benar-benar membenciku, Nok.”
“Membenci dalam jeritan, cakaran, keringat, aturan nafas, darah, air mata, rumah sakit, makhluk mungil, bahagia.”
Tolong, aku meleleh lagi.


Di atas awan  dalam dekapan, November 2015
Ia membuatku sadar bahwa ada situasi yang lebih inspiratif ketimbang malam hari dan pagi hari. Adalah ketika ia menerjemahkan hatinya lewat kata, entah saat fajar-terik-petang-gelap-hingga fajar lagi.
Dulu, aku hanya menginginkan seseorang yang mampu membawaku ke tempat di mana aku bisa menulis tanpa sekat.
Tetapi, Tuhan memang mahabaik.
Aku malah diberi-Nya seseorang yang tak hanya membawaku ke tempat yang tanpa sekat, namun juga seseorang yang sekaligus menjadi tempat itu sendiri.

Kini, tak perlu jauh-jauh mencari tempat untukku menulis puisi hingga berpuluh-puluh, tak perlu berpeluh untuk itu. Tempat itu sudah menjadi milikku sekarang hingga berabad-abad mendatang.

Share:

Tuesday, 17 November 2015

Rimba Samsara


Sebentar-sebentar di sini, sebentar-sebentar pergi
Sebentar-sebentar berlari, sebentar-sebentar berjalan kaki
Sering-sering merangkak, ia kehilangan berak
Tangisnya menganak pinak

Mungkin kami hanya penonton
Bebas berkomentar di depan TV sambil makan popcorn
Suara-suara yang hanya menggema di ruang 2 X 3
Selebihnya? Mengembun di udara
Padahal belum sempat sampai ke telinga mereka
Tangis mereka bergema

Mereka terjerembab
Matanya sembab
Sesekali menerka sebab musahab
Makan tak lagi lahap
Tangis mereka merayap

Dalam keriuhan air mata
Ada doa yang tak putus-putusnya


Semarang, 17 November 2015
Semua akan baik-bak saja


15.00 – 16.30
Sebuah puisi yang saya tulis
saat ujian tengah semester mata kuliah menulis puisi.
Dan, tema dadakan yang diajukan oleh dosen
adalah tentang aksi terorisme di Paris, Perancis.

Semua akan baik-baik saja. Baik-baik saja.
Share:

Thursday, 29 October 2015

[Monolog] Para Pelancong

Lihatlah! 
Taman yang diidam-idamkan oleh para nelayan yang bebas menjaring ikan 
Taman yang diidam-idamkan oleh para petani yang bebas menanam padi 
Taman yang diidam-idamkan oleh para buruh yang bebas meneteskan peluh 
Taman yang diidam-idamkan oleh para penari yang bebas menari tanpa takut mati karena kelelahan menggoyang-goyangkan kaki sepanjang hari 
Hm, ya.. 
Ini sama sekali bukan mimpi yang lenyap dalam sekali kerjap
Bahkan bunga-bunga yang tumbuh wewangiannya sampai ke tubuh (Mencium bau tubuhnya sendiri)

Di mana? 
Mereka bilang ada keindahan serupa surga? 
Hh, ya.. (Tersenyum kecut) 
Memang indah, tetapi bukan serupa surga 
Memang indah, tetapi ada celah yang tak sumringah 
Em... Serupa langit! 
Ya, serupa langit yang tak selamanya cerah 
Sesekali mendung hingga membuat semua orang rundung 
Ah, berita-berita itu hanya menampakkan kulit luarnya saja 
Membikin kecewa! 

Alah! 
Keindahan di sini sekadar isapan jempol saja! 
Seperti iklan-iklan yang menawarkan kebohongan 
Setelah terlanjur tertarik, barulah kau menyesal karena rela menguras kantong yang seharusnya kau gunakan untuk piknik 
Ck.. ck.. ck. 
Bodoh! (Mengumpat pelan) 
Tak ada keindahan yang mutlak 
Yang ada hanya keburukan yang telak 
Kalau aku punya uang, tentu sudah kumuat di koran-koran 

Indah-tidak indah; benar-salah; hitam-putih 
Semakin banyak keributan di sini 
Ah, tetapi tunggu dulu.. 
Apakah sebenarnya kita berada dalam kekuasaan yang tak kasat mata? 
Atau kekuasaan yang kasat mata tetapi kita dibutakan oleh keindahan yang sementara? 
Ya, benar! 
Ketika orang-orang di luar sana terlalu sibuk meributkan tentang indah atau tidak 
Mereka tak sadar bahwa mereka telah dijadikan wayang oleh dalang 
Oleh Topeng Kayu!  



Semarang, 28 Oktober 2015

Sebuah monolog yang saya tulis
untuk sebuah pembukaan dalam pementasan teater Topeng Kayu karya Kuntowijoyo
(Pementasan Teater dari teman-teman sastra Indonesia Unnes 2013)

Share:

Monday, 19 October 2015

203 #7

PUZZLE

Kamu suka musik, aku suka nulis.
Kamu suka nyanyiin aku, aku suka nulis tentang kamu.
Kamu suka film, aku suka buku.
Kamu suka ngefoto, aku suka difoto.
Kamu suka kuning telur, aku suka putih telur.
Kamu suka Manchester City, aku suka Manchester United.
Kamu surealis, aku realis.

Dalam lingkup perbedaan yang masih sejalan, kita memilih untuk saling melengkapi ketimbang saling menggurui.

Kau lihat puzzle itu? Seperti kau dan aku. Aku membutukanmu sebagai wadah, kau membutuhkanku sebagai isi.
Tak bisa asal memilih keping. Tak bisa asal merebah pada wadah.
Seperti sudah ditakdirkan sejak entah.

Seribuempatpuluhempat minggu lebih telah asik bermain puzzle.
Kini, kau menyelesaikan puzzle-mu di waktu yang amat tepat.
Karena tak ada yang tak tepat di dunia ini. Termasuk cinta.

Ah, lagi-lagi kau membuatku membicarakan tentang cinta. 




Oktober, 2015.
Menuju-h.
Share: