Tuesday, 10 October 2017

Selingan Saat Iklan

Merindumu acapkali bak menyalakan lilin saat makan malam bersamanya.
Tak perlu,
tapi kuingin.
...
Kutiup kau saat kami sepakat menuju ranjang.
***

Aromanya melekat pada sarung bantal merah magenta yang sempat jadi favoritnya. Sudah satu tahun lebih, tetapi aroma sialan itu masih saja melekat. Meski sudah beribu kali kucuci hingga harus berpindah-pindah tempat laundry.

Ada hal magis ketika ia memutuskan untuk tak akan lagi mampir ke sini. Segala yang ia suka, sepakat enggan menghilangkan aroma khasnya. Aroma khas kekayuan yang maskulin bercampur keringat.

Sial. Sial. Sial.

Sayang sekali. Hal itu tak cukup membuatku rindu. Sebab telah kutemukan aroma yang lebih memabukkan dari sekadar parfum anticuci miliknya.

10/10/17

Share:

Friday, 29 September 2017

720

Di dua belas pagi,
Kubangunkan kau lewat kejutan
yang itu lagi-itu lagi,
Sambil terus mengucap semoga,
Kau meniup lilin muram di hidupmu yang terang,
Tak perlu lilin,
Tak perlu nasi kuning,
Sebab aku masih bisa mengucap semoga,
Untukmu yang lebih dewasa dan memesona.



30/09/17
Berbahagialah, sebab 30 September tak hanya milik G30S/PKI.
Share:

Thursday, 28 September 2017

Maaf yang Gagal

Kau gigil
di dini yang lengking,
Aku gagal
di petang yang lengkung.
***

Seorang Muda terduduk lesu di tepian ranjang yang kusut. Suara adzan tak mampu meluruskan pikirannya yang kalut. Tampaknya, ia merasa menjadi pria paling berdosa karena menjadi penyebab kemurungan seorang gadis.

Ia sudah tahu betul hal ini akan terjadi. Tetapi, kini ia sadar, hidup ini tak cukup hanya dengan membayangkan yang akan terjadi. Tak ada simulasi. Tak ada geladi bersih.

Maaf.

Ucapnya dalam hati.

"Kupikir, semua akan menjadi lebih baik jika semua berakhir. Ternyata aku salah," ia gemetar ketika suara dering sudah berhenti dan terdengar merdu, "Halo," yang begitu akrab di telinganya.

"Aku merasa lebih gagal sekarang," suaranya tampak terengah.

"Jangan bertingkah seenaknya, seolah cuma kau yang punya kuasa,"  suara si gadis yang penuh kemarahan dan sisa tangisan terdengar lebih berani dari biasa.

Tut tut tut. 

Suara telepon ditutup.

Ada luka menganga di gerak tangan si gadis yang menutup telepon tiba-tiba. Sempurna sudah gagalmu, wahai Seorang Muda.



28/09/17
Share:

Wednesday, 27 September 2017

Embara

Kutemui pagi yang muram
di sekujur tiket perjalanan
dan koper biru lebam,
Sementara di seberang jalan
ada air mata kehilangan.

***
Yang paling tak masuk akal dari tandasnya asmara adalah jarak yang membentang dan rindu yang tak lagi garang. Kau, dan tiket yang kau jadikan senjata, menusukku tiba-tiba. Sungguh, segala bahagia yang kau jejalkan, ingin buru-buru kumuntahkan.



28/09/17
Pada badan pesawat di langit biru yang memelukmu —yang tak lagi memelukku.
Share:

Tuesday, 26 September 2017

Mojito

Sesegar mojito,
Asammu yang malu-malu
kubalas dengan pahitnya bacardi,
Sungguh,
Kau ini,
Sensasi yang membikin aku jatuh cinta berkali-kali.


24/9/17
Teguk pertama, aku mabuk pesona. Teguk kedua, ada keunikan yg memesona. Teguk ketiga, kuingin tambah lagi-tambah terus.
Mojito berupa kamu, cuma milikku.
Segar ini pas! 🍃

Share: