Wednesday, 29 November 2017

203 #32

Ini musim hujan dan aku tak begitu menyukainya. Sebab segala yang kukenakan harus basah seketika padahal untuk memakainya harus kulewati menyikat bersih hingga menjemur di bawah matahari. Tetapi, kau lihat hujan yang beraturan dan tak membikin gaduh ini? Sungguh, hujan yang seperti ini yang membuatku menjadi seorang plin-plan sejati. Bagaimana tidak? Damai yang amat tentram ini kudapat dari butir air yang jatuh tepat di hati sang bumi yang terlanjur gersang dan tersakiti.

Damai yang menyimpan dingin. Kau yang tak habis kuingin.

Kulingkarkan jaket tebalmu yang lebih pantas disebut dress ketika sampai di tubuhku. Sesekali kurapatkan kedua telapak tangan dan kugosokkan berulang agar dingin ini tak begitu menyiksa. Tak ada kopi hangat apalagi perapian. Aku kedinginan dan kesepian. Tetapi kau, begitu hangat dan banyak bicara di kepala.

Kupakai kaos kaki agar hangat cepat-cepat menyerbuku. Sebab pernah kudengar nasihat agar selalu menjaga kaki untuk tetap hangat adalah kunci bagi hati yang tenang —selain beribadah tentunya. Aku memeluk diri sendiri sambil kukatakan padamu bahwa aku kedinginan.

Kemudian kau bilang, "Kupeluk kau dari kejauhan, sementara biar jaketku yang menemanimu bercumbu."


November 2017
Kepayang aku di tengah hujan.
Share:

Sunday, 12 November 2017

203 #31

Sajak yang kutulis untukmu,
adalah wajah kebungahan akan engkau —racun yang nikmat nan memikat.

Saat kau tuang anggur ke gelasku dan mu
Kulihat kau semegah lampu-lampu di atas kita
yang terang dan menarik perhatian
yang gelap jika redup
yang kutunggu saat petang jelang malam
yang tak bisa kutinggalkan saat tidur.

Jelang perempat malam,
Ketika tak sengaja aku terbangun,
Kulihat kau masih terjaga,
Menjaga aku,
yang ketakutan dikejar mimpi buruk.


Oktober 2017
sadjak ini memanglah untukmu,
yang sedang kupandang lamat-lamat.

Share:

Friday, 10 November 2017

Senandika

Aku terpejam sebab bimbang
Kutampung derau yang perlahan mendesau
Kini, nafasku ikut bimbang
Pelan, kubuka kelopak yang melalau
Ada relang yang membuat senyumku mengembang

Bahwa di persimpangan sana
Ribuan tangan senantiasa ada
Menjemput aku
Yang tengah abu-abu

Aku kini biru

Semarang, 12 Agustus 2017
Bahwa hidup adalah tentang pemakluman-pemakluman Tuhan.
Share:

Tuesday, 10 October 2017

Selingan Saat Iklan

Merindumu acapkali bak menyalakan lilin saat makan malam bersamanya.
Tak perlu,
tapi kuingin.
...
Kutiup kau saat kami sepakat menuju ranjang.
***

Aromanya melekat pada sarung bantal merah magenta yang sempat jadi favoritnya. Sudah satu tahun lebih, tetapi aroma sialan itu masih saja melekat. Meski sudah beribu kali kucuci hingga harus berpindah-pindah tempat laundry.

Ada hal magis ketika ia memutuskan untuk tak akan lagi mampir ke sini. Segala yang ia suka, sepakat enggan menghilangkan aroma khasnya. Aroma khas kekayuan yang maskulin bercampur keringat.

Sial. Sial. Sial.

Sayang sekali. Hal itu tak cukup membuatku rindu. Sebab telah kutemukan aroma yang lebih memabukkan dari sekadar parfum anticuci miliknya.

10/10/17

Share:

Friday, 29 September 2017

720

Di dua belas pagi,
Kubangunkan kau lewat kejutan
yang itu lagi-itu lagi,
Sambil terus mengucap semoga,
Kau meniup lilin muram di hidupmu yang terang,
Tak perlu lilin,
Tak perlu nasi kuning,
Sebab aku masih bisa mengucap semoga,
Untukmu yang lebih dewasa dan memesona.



30/09/17
Berbahagialah, sebab 30 September tak hanya milik G30S/PKI.
Share:

Thursday, 28 September 2017