Wednesday, 27 June 2018

Pahala; Ada Sejak dalam Niat

"Pada setiap yang bernyawa, terdapat pahala."
—Nabi Muhammad SAW

Pagi berawan dan angin tanggung yang samar-samar memaksa orang untuk baik-baik di dalam selimut.
Seorang renta dengan baju yang itu-itu saja mampir di depan rumah. Keempat anaknya bersembunyi di punggung lusuhnya yang kering. Mengais sisa makanan yang telah ambyar diserang hujan tadi malam. Miris.
Keempat anaknya sangat kurus, tetapi bahagia. Dengan kelincahan layaknya anak-anak, sigap mereka mencari persembunyian ketika orang asing datang. Mereka yang belum terbiasa dengan keberagaman dunia seolah terkejut bahwa ada hal lain yang sangat berbeda darinya.
Kalian boleh datang ke sini, kapanpun. Tinggal atau tidak, rumah ini adalah tempat kalian mencari perlindungan.

Juni 2018

Share:

Tuesday, 19 June 2018

203 #39

Tiket kereta dan stasiun tua berkelindan di antara kita. Memilin puing jadi gumpalan merah merona. Kau-aku menjadi sesuru yang bersiap diburu kemarau panjang, sementara gemercik dari bibir pantai adalah harapan.

Sapuan ombak pantai menjadi pertemuan yang mendebarkan sekaligus menyejukkan.
Buah jingga mengendap di ujung cakrawala. Pagut-pagut peluk dinyanyikan angin. Kau-aku yang penuh ingin.

Kau dan gerbong kereta; melangkah meninggalkanku yang gemetar di ruang tunggu.

Juni 2018
Selama kau muara, sesetia aku menjaga.
Share:

Saturday, 16 June 2018

203 #38

Laiknya lagu yang meracuni telingaku. Menjalar ke ingatan dan nyanyian bibirku.
Tanpa sadar, kualunkan di sepanjang perjalan pulang.

Aku ingin pulang ke selasar hatimu, yang sejuk sekaligus tentram.
Seperti pelataran rumah nenekku yang kau tak kenal. Aku suka bermain-main di sana. Berlari, bersepeda, hingga melompat kegirangan di tengah hujan.

Pada masa itu, aku adalah jiwa kecil yang hanya memahami hidup sebagai sebuah area bermain yang hanya mengenal lawan sebagai beban.
Ketika beranjak remaja, lawan bermain tak cukup penting ketimbang PR yang tak habis-habisnya kukerjakan.
Ketika perlahan dewasa, aku telah kehilangan masa-masa naif itu. Hingga kutemukan kamu yang membawaku kembali ke ingatan hujan gerimis di Sabtu pagi ketika aku bersembunyi di rumah tetangga, menghindari kakekku yang berdiri di depan pintu. Siap menerkamku yang keasyikan di tengah hujan.

Mei 2018
Padamu kutemukan jiwa yang hilang di kampung halaman.
Share:

Wednesday, 4 April 2018

203 #37


Aku menulis ini tatkala intro “Sampai Jadi Debu” milik Banda Neira mengalun.
Semoga, ketika kau membaca, gejolak di hatiku yang menujumu bisa kau tangkap tanpa meleset.

Ujung dari sebuah ikatan adalah aku, kau, beserta seluruh lapisan sosial yang mengelilingi kita. Keberanianmu membawa jiwa-jiwa mengetuk pintu rumahku, adalah hal yang sungguh mengharukan sekaligus mendebarkan.

Detik-detik percakapan yang tercipta adalah kidung asmara yang bukan hanya kau dan aku yang menyanyikan. Kau merengkuhku, aku mempereratmu.

“Selamanya, sampai kita tua, sampai jadi debu. Ku di liang yang satu, kau di sebelahku...,”

Ya, bagian ini kutulis ketika lirik itu mengalun.

Kita, adalah hati yang hanya dipisahkan sekian kilometer jarak. Semakin luas cakupan ikatan kita, semakin luas pula jarak yang menjembatani kau dan aku. Kau dan mimpi barumu di Ibukota, bukanlah suatu hal yang harus kutakuti. Aku bangga. Kau juga, aku tahu.

Sejauh kau rantau, akulah tempatmu pulang. Senyaman kau berada di rumah sewa, akulah rumah sebenar-benar rumah. Pulanglah ketika rindumu memuncak dan tak sanggup kau bendung. Tumpahkan padaku.


Semarang, April 2018
Kau langlang, aku tualang.
Sampai bertemu di ranjang.

Share:

203 #36

Tepi amben itu, tempat favoritmu bercumbu dengan cerutu dan kebisingan televisi yang merenggut jari-jemarimu. Tak ada yang bisa menggoda kekagumanmu pada gambar bergerak hasil gelombang teknologi yang tumbuh lebih cepat ketimbang usia manusia.

Memang tak ada.
Kecuali aku,
yang datang ke pangkuanmu dengan mengenakan kaus kebesaran tanpa celana jeans. Bra dan celana dalam hitam itu tak akan tampak sebab kausmu serupa gaun di tubuhku. Kurebut perhatianmu pada televisi tanpa membunuhnya.

Skor kita satu sama.
Kau punya cerutu, aku juga.
Kulingkarkan tangan di lehermu, sedang tanganmu di pinggangku. Lagi-lagi aku yang memulai. Sebab bibirmu lebih pantas kulumat tuntas ketimbang pantat cerutu yang tinggal sekali hisap. Sedang bibirmu, tak akan habis kusesap sesukaku.

Jari jemarimu adalah candu yang merobohkan. Menjelajah ke mahkota dan punggung zaman. Jejak-jejak bibirmu adalah kutukan berulang. Sesaplah jiwaku yang tak hanya satu. Rengkuh sukma yang tengah merona, mencari udara dalam sesak yang nikmat.
Kaulah, kuntum bunga yang mekar di jendela kamar tiap fajar.

Desah desih itu,
adalah puncak yang menenangkan,
Lenguh, Uh!
Biar aku sandar padamu
Detak Jam dinding
Bising Televisi
Hembus nafas
Lirih alunan Birdy
Denyut nadi
Utuh
Sela jari jemarimu adalah tempatku bermanja.


Maret 2018
Sayang, jiwaku letup kaukecup.




Share:

203 #35

[Verse 1]
Dua tangan terkatung ingin memeluk
tubuh yang digilas hidup yang buas
Meraih yang ringkih
Merengkuh membuat utuh
Digapai penuh kayuh

[Verse 2]
Tubuh itu datang dengan kasih sayang
Diombang dan ambing zaman
kejam nan muram
Maka sampailah
Ombang-ambing, katung-katung
Tak lagi karu, lalu...

[Reff]
Akulah fajar yang muram
Sembunyi di punggung mendung
Tak ingin manusia puji
Sebab tumbuh dan tenggelam ialah milik mendung, kau

[Verse 3]
Menjadi penopang yang utuh dan sungguh
Entah pagi pun petang tak pernah rapuh
Kau menanti aku
Menjadi tameng yang kokoh
Akulah sang beruntung

[Bridge]
Tetaplah menjadi mega
entah putih, abu, pun jingga.



Semarang, Februari 2018
Seindah kata,
akan lebih sempurna bersama nada.
Share: