Sunday, 29 July 2018

Peluk

Serupa gelas yang menyisa kulacino
Menunggumu,
membunuh waktu dan berlembar-lembar halaman buku

Aku berjudi dengan renjana yang risak
Halai-balai,
Hanya terbatas birai, kau-aku haruskah saling nanti?

#
Sudah sesap kelima
Tak jua kudengar langkahmu
Sudah buku kedua
Aku lelah, ingin pulang ke pelukmu

[28/7/18]
Share:

Thursday, 19 July 2018

203 #40

Saban malam aku ditemani bulan sembari mengingat lekuk wajahmu yang kusayang. Setiap inci wajah itu, ialah tempat bibirku berziarah. Mengenyam masa dari hari ke bulan ke tahun tanpa ada habisnya. Sembari mataku tak sanggup lagi melihat bulan, ingatanku tak ingin tertidur begitu saja. Di dalam mimpi, ingatanku mencoba menggerayangi lekuk jidat, mata, hidung, dan bibirmu.

Pada garbarata yang menghubungkan ingatanku dan kamu, aku menemukanmu yang kehausan rindu. Compang dan camping, kamu ingin merengkuhku yang hanya berjarak kurang dari 75 meter di depanmu. Sedang bangku di sisi kirimu masih kosong menunggu kusinggahi.

Aku rindu wajahmu yang kehausan. Berharap sebuah oase datang dari bibirku ke bibirmu. Mengaduk-aduk jiwamu hingga kembung dan ingin lagi dan lagi.

O, Kekasih, untuk melepas dahaga, haruskah kulalui garbarata yang hanya aku dan —mungkin, kau yang tahu?
Kupikir, air putih tak semahal dan sesakral ini. Namun, bulan-bulan lalu agaknya kau dan aku dipaksa terbiasa.

Aku terbangun.
Bulan sudah tak ada, sedang fajar sudah tak lagi muda.

Aku disayat dan disengatnya. Kamu samar-samar tertutup polusi dan silaunya hari.

O, Kekasih. Aku kelelahan, ingin kau apa-apakan.

Nanti, ketika fajar berangsur menua, lagi dan lagi aku akan mengingatmu hingga bertemu garbarata yang semakin hari semakin jauh saja.


Juli 2018
Share:

Wednesday, 27 June 2018

Pahala; Ada Sejak dalam Niat

"Pada setiap yang bernyawa, terdapat pahala."
—Nabi Muhammad SAW

Pagi berawan dan angin tanggung yang samar-samar memaksa orang untuk baik-baik di dalam selimut.
Seorang renta dengan baju yang itu-itu saja mampir di depan rumah. Keempat anaknya bersembunyi di punggung lusuhnya yang kering. Mengais sisa makanan yang telah ambyar diserang hujan tadi malam. Miris.
Keempat anaknya sangat kurus, tetapi bahagia. Dengan kelincahan layaknya anak-anak, sigap mereka mencari persembunyian ketika orang asing datang. Mereka yang belum terbiasa dengan keberagaman dunia seolah terkejut bahwa ada hal lain yang sangat berbeda darinya.
Kalian boleh datang ke sini, kapanpun. Tinggal atau tidak, rumah ini adalah tempat kalian mencari perlindungan.

Juni 2018

Share:

Tuesday, 19 June 2018

203 #39

Tiket kereta dan stasiun tua berkelindan di antara kita. Memilin puing jadi gumpalan merah merona. Kau-aku menjadi sesuru yang bersiap diburu kemarau panjang, sementara gemercik dari bibir pantai adalah harapan.

Sapuan ombak pantai menjadi pertemuan yang mendebarkan sekaligus menyejukkan.
Buah jingga mengendap di ujung cakrawala. Pagut-pagut peluk dinyanyikan angin. Kau-aku yang penuh ingin.

Kau dan gerbong kereta; melangkah meninggalkanku yang gemetar di ruang tunggu.

Juni 2018
Selama kau muara, sesetia aku menjaga.
Share:

Saturday, 16 June 2018

203 #38

Laiknya lagu yang meracuni telingaku. Menjalar ke ingatan dan nyanyian bibirku.
Tanpa sadar, kualunkan di sepanjang perjalan pulang.

Aku ingin pulang ke selasar hatimu, yang sejuk sekaligus tentram.
Seperti pelataran rumah nenekku yang kau tak kenal. Aku suka bermain-main di sana. Berlari, bersepeda, hingga melompat kegirangan di tengah hujan.

Pada masa itu, aku adalah jiwa kecil yang hanya memahami hidup sebagai sebuah area bermain yang hanya mengenal lawan sebagai beban.
Ketika beranjak remaja, lawan bermain tak cukup penting ketimbang PR yang tak habis-habisnya kukerjakan.
Ketika perlahan dewasa, aku telah kehilangan masa-masa naif itu. Hingga kutemukan kamu yang membawaku kembali ke ingatan hujan gerimis di Sabtu pagi ketika aku bersembunyi di rumah tetangga, menghindari kakekku yang berdiri di depan pintu. Siap menerkamku yang keasyikan di tengah hujan.

Mei 2018
Padamu kutemukan jiwa yang hilang di kampung halaman.
Share:

Wednesday, 4 April 2018

203 #37


Aku menulis ini tatkala intro “Sampai Jadi Debu” milik Banda Neira mengalun.
Semoga, ketika kau membaca, gejolak di hatiku yang menujumu bisa kau tangkap tanpa meleset.

Ujung dari sebuah ikatan adalah aku, kau, beserta seluruh lapisan sosial yang mengelilingi kita. Keberanianmu membawa jiwa-jiwa mengetuk pintu rumahku, adalah hal yang sungguh mengharukan sekaligus mendebarkan.

Detik-detik percakapan yang tercipta adalah kidung asmara yang bukan hanya kau dan aku yang menyanyikan. Kau merengkuhku, aku mempereratmu.

“Selamanya, sampai kita tua, sampai jadi debu. Ku di liang yang satu, kau di sebelahku...,”

Ya, bagian ini kutulis ketika lirik itu mengalun.

Kita, adalah hati yang hanya dipisahkan sekian kilometer jarak. Semakin luas cakupan ikatan kita, semakin luas pula jarak yang menjembatani kau dan aku. Kau dan mimpi barumu di Ibukota, bukanlah suatu hal yang harus kutakuti. Aku bangga. Kau juga, aku tahu.

Sejauh kau rantau, akulah tempatmu pulang. Senyaman kau berada di rumah sewa, akulah rumah sebenar-benar rumah. Pulanglah ketika rindumu memuncak dan tak sanggup kau bendung. Tumpahkan padaku.


Semarang, April 2018
Kau langlang, aku tualang.
Sampai bertemu di ranjang.

Share: