Friday, 30 November 2018

203 #44

Ada yang dibayar lunas, tapi tak jua tuntas.

Yang namanya rindu, mana bisa dihitung?


"Ini jalan menuju ke kosku. Kalau berangkat kerja aku lewat sini, kalau pulang beda lagi," dia berceloteh ketika kami menyusuri lembah menjulang di selatan ibu kota.

Dari dulu ia memang bakat bercerita. Pas denganku yang lebih suka mendengarkan. Sesekali bercerita kalau kebetulan ingat.

"Nah lewat sini. Kemarin aku beli celana di sana, nanti aku ajak ke sana, ya," ia melanjutkan.

Ia masih sama seperti 3 tahun 8 bulan lalu.

Dengan badan tinggi tegap dan rambut gondrong, pasti terlihat seram kalau lagi jalan. Ada yang bilang kayak preman, musisi jalanan, sampai aktor figuran.

"Hehehe aku agak cerewet nggak apa-apa, ya?" pengakuannya tampak suci.

Kukasih satu rahasia. Meski tampak beringas, tapi —sumpah demi apapun— dia nggak pernah berkhianat. Apapun bentuknya.

Seperti yang sudah-sudah. Kami hanya teman cerita. Dia dengan segudang wanitanya dan aku dengan diriku sendiri yang gini-gini aja. Mengerti kondisi terburuk hingga ter-wah-nya membuatku ragu apakah akan berhasil jika aku dan dia terikat dalam sebuah hubungan yang bukan pertemanan?

Detik, menit, jam, hari, bulan, tahun berlalu. Semakin lama, kami semakin tahu. Masing-masing kami saling butuh dan acuh.

"Ini kantor tempatku kerja. Kalo lagi nggak males, aku makan siang depan sini. Ada macem-macem menu," ia melanjutkan.

Riuh suara klakson dan genangan polusi rasa-rasanya tak bisa menjatuhkan semangatnya untuk mengajakku berkeliling. Mengenali hidupnya yang kini jauh dariku dan keluarga.

"Oi, Pak! Lek! Om!," sapanya ketika melewati penjual kaki lima yang sering menjadi tempat cacing-cacing perutnya berlabuh.

Dia tampak amat bahagia.
Lalu aku?
Aku merasa lega.

Aku lega ketika aku tak ada di sampingnya secara fisik, ia telah memiliki banyak teman dan lingkungan yang membuatnya nyaman.
Aku lega ketika mengetahui ia selalu sehat secara fisik dan mental.
Aku lega ketika mengetahui aku tetap menjadi satu-satunya.
Aku juga lega ketika bisa menemuinya saat ia sendiri tak tahu kapan akan pulang.

Tujuan pulang,
haruskah selalu rumah?

Pulang, tak selalu menjadikan bangunan sebagai tujuan. Pulang ialah tempat bagi hati bersandar. Menumpahkan racun yang membikin hati tak sehat.

Ia memang tak tahu kapan akan pulang. Maka, akulah yang akan pulang. Kepadamu. Kepada pelukmu.

November 2018
Jiwaku telah mengubah Jakarta jadi rumah.
Share:

Saturday, 20 October 2018

203 #43

—Kita ini bukan asmara yang berasal dari hompimpa.

Kebetulan; kejutan dunia.

Tak ada yang benar-benar kebetulan sebab segalanya telah dirancang, oleh alam dan tuhan. Pada bulan ke-43 ini, kau-aku telah dibuat terkejut oleh segala elemen alam dan isinya. Persekongkolan yang sungguh sempurna.

meniti,
menit,
menitik,
jingkat,
menjangkit,
jerat,
jerit,

...jangkep.

Perjalanan panjang mencari urip yang saling genap ini adalah sebuah kejutan. Meski tak disangka akan bersama, masing-masing kita telah sama-sama tresna namun memang belum waktunya.

Bukan kebetulan, kan?


Oktober 2018,
Sejak dulu kami saling jatuh,
hingga nanti,
hingga nama hanya sekadar tanda.
Tetapi,
kata-kata ini,
akan jadi saksi,
abadi.

Share:

Wednesday, 19 September 2018

203 #42

Oleh: Adji G. Rinepta

*seringku
Tinggalkan kau dalam resah
Dalam susah lagi payah
Tidak jarang dalam gundah
**namun kau
Tanpa banyak katamu
Kau lakukan sebisamu
Menjadi apa yang kumau

Dalam hikmat kuharap
Kau yang nyaman kudekap

Usah ragu tuliskan cinta
Jangan lupa langitkan doa
Tak kan menjadi sia
Karna semua bermakna, untukku

Ku dengar kata mereka
Cinta banyak ini itunya
Ku rasa mereka lupa
Saling adalah semestinya

NB: calon lagu.

Share:

Sunday, 19 August 2018

203 #41

Lagi, stasiun menjadi saksi tumpah peluk dan ruah pelik sukma. Bahkan saat fajar belum membuka mata, aku sudah harus terjaga menyaksikanmu kembali ke ibukota.

Sekarang kau sedang di kereta, bersandar mencari kenyamanan, menghadap ke luar jendela. Aku tahu kau ingin tidur, tapi tunggu Sayang, aku menulis ini tengah malam untuk bekal sarapanmu di kereta. Sebab aku tahu, aku tak sanggup menyelesaikan masakan sebelum pukul 5 pagi.
Kau pasti mengantuk karena semalam susah tidur. Gelisah memikirkan aku, riuhnya kota, dan peliknya bekerja duabelas jam lebih di depan komputer; sedang kita saling jauh saling suluh. Diam-diam—

Tak ada yang susah dari hubungan ini. Apalagi jika restu sudah dikantongi. Tak perlu lagi bicara cinta sebab kita berdua sama pirsa.
Meminjam secuil lirik asoe ini:
"Namun satu yang kupaham dan kuharap kau pun juga. Cintaku walau tak terucap, hanya padamu. Ya, hanya untukmu. Ya, cuma kamu. Cuma kita yang tahu." —Man Angga (Ini Bukan Nosstress; Ya, Kamu)


Agustus 2018
Hidup bukan kejam, melainkan pemberi pelajaran ulung bahwa ada yang lebih keras ketimbang batu dan karang.

Share:

Friday, 10 August 2018

sa(ha)ja

biru jatuh pada kuning,
ada berahi hijau di pagi hening.
tak ada kesia-siaan,
sebab tresna mereka penuh kesederhanaan.

sedang yang muluk-muluk,
ialah ketamakan.
begitu keakuan,
ingin pengakuan.

menjadi prasaja tak pernah muspra.

10/8
18
Δ


Share:

Wednesday, 8 August 2018

Kota Lama Menua

Seperti seharusnya, si kecil ini mulai menua. Kompleks bangunan yang kental akan nuansa ke-Belanda-annya ini mulai tak kuat menahan derita. Bangunan ala Eropa zaman 1700-an itu beberapa tahun belakangan telah menjelma tempat kongkow segala usia. Sebut saja Tekodeko Koffiehuis, Vercoffee, hingga Indomaret Point.

Namun demikian, sisanya masih tetap sama seperti saat kawasan berjuluk "Little Netherland" itu menjadi saksi bisu sejarah Indonesia di masa kolonial Belanda. Saksi bukan sembarang saksi. Selama dua abad —mohon koreksi kalau saya salah—, di tempat itu: darah, keringat, air mata, kasih sayang, tangisan, jeritan; melebur-membaur.

Kota Lama sudah seharusnya menua. Usianya sudah —entah berapa persisnya. Perbaikan sana-sini, poles kanan-kiri, memantaskan diri.

Ini baik.
Namun demikian, tetap saja. Semoga, semoga, semoga, semoga salah satu ikon kotaku ini tak kehilangan jati dirinya.
Meminjam dari Nosstress, "Semoga pemimpin menambah prestasi bukannya menambah bali-ho".

[]
Semarang
9/8/18.

Share: