Lagi-lagi tangannya ia gambari dengan berbagai gambar tak jelas. Bunga tapi biru, burung tapi bertanduk, kucing tapi bersayap. Entahlah, itulah kebiasannya. Matanya menatap jauh. Kosong. Tak terhingga. Pikirannya terbawa hingga kesana, entah kemana. Namun tangannya mencoret-coret dengan spidol warna, diatas tangannya sendiri. Tak jelas apa yang ia tuai disana.
Kali ini ia tak menatap kosong. Ia malah memejamkan matanya. Dari mulutnya terdengar ia menyenandungkan sesuatu, sepertinya sebuah lagu, tapi entahlah sama sekali tak merdu. Ia cuek. Ia menikmati dunianya disana. Perlahan, tangan kanannya mengambil spidol. Warnanya hitam. Ia menorehkan garis lengkung, bukan lingkaran, hanya sebuah lengkungan kecil. Mirip prosotan. Mungkin. Ia menambahkannya lagi disisi yang berlawanan. Lengkungan yang sama, namun berbeda arah, seperti pencerminan. Namun kedua sisinya tak saling terhubung. Mungkin ia sengaja membuatnya begitu.
Ia meletakkan spidolnya. Kemudian mengambil satu spidol lain. Kali ini berwarna merah. Dengan mata masih terpejam, ia menambahkan sebuah garis zig-zag di tengah-tengah bidang yang sudah ia gambar tadi. Lalu, ia menambahkan sedikit aksen oval -lebih mirip tetesan air- di bawah gambarnya. Banyak. Banyak sekali. Masih dengan spidol merahnya itu. Kemudian ia behenti. Meletakkan spidol merahnya. Perlahan mengambil satu spidol lain. Kali ini berwarna hijau. Hijau muda.
Dengan spidol barunya itu, ia menggambar bidang yang sama seperti gambar pertamanya. Ia letakkan di sisi lain salah satu gambarnya. Pelan tapi pasti. Ia meletakkan spidol hijaunya setelah ia rasa gambarnya selesai.
Ia membuka mata. Melihat ke arah tangannya. Ada sebuah gambar. Gambar yang ia buat sendiri, dari hati. Disana terlihat sekeping hati yang patah kemudian sisi patahnya telah menemukan patahan yang lainnya. Ia mendongakkan kepala. Menahan air mata... (bersambung...)
Penulis: Resla Aknaita Chak
Semarang, 11 April 2013.
0 comments:
Post a Comment