Si flamboyan itu memang bajingan. Sebab di tangannya, gandrung ini purnazaman.
***
Ada jarak setinggi 26cm yang rasa-rasanya membikin kami tampak aneh ketika bersebelahan. Tetapi, tak tahukah kalian? Ketika kami berpeluk, detak jantungnya tepat di telingaku.
Aku adem dalam peluk gratis tanpa tanda bintang, tanpa syarat dan ketentuan, tanpa harus beli ini-itu duluan.
"Kau bukan penyair culas, kekasih
Cuma penyihir yang melintas ketika aku ringkih"
—Sitok Srengenge
***
Sesekali ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, "Hah, sudah mulai ganggu ini rambut," kesal ia mengumpat tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Aku gemas tiap kali mendengar ia mengeluh begitu.
Aku suka rambutnya yang bergelombang mulai memanjang. Panjangnya sudah melebihi bahu. Tiap kali diboncengnya, aku selalu bisa mengendus aroma rambut wanginya yang tak cukup ditampung helm.
Sambil gelendotan dan berpengangan erat, aku nyaman di punggungnya sambil senyum-senyum kasmaran. "Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" tebakannya yang presisi itu kuanggap sebagai suatu kebetulan.
Aku hanya tertawa kecil dan membenarkan posisi boncengku.
Tangannya menarik tanganku agar memeluknya lebih erat. Aroma rambut berpadu dengan jaket semakin membikin aku kasmaran.
"Sungguh, jika ini benar cinta, aku tak takut jatuh lagi."
—Moammar Emka
***
[Bilur]
Sebab ruammu lebamku
Aku kantuk dalam elegi sendu
Kuingin serupa jenggala yang merdu
Membusung dalam sesat yang biru
Agustus 2017
Aku senang tersesat dalam kamu.
2 comments:
😍suka bacaaiin karya mb resla
Alhamdulillah. Makasih mba Dev..
Post a Comment