Tuesday, 26 September 2017

Bimsalabim! Sembuhlah luka tanpa banyak cara

Sungguhpun 
hancur mumur 
segala rasa hati Tuan,
Biarlah biar
ampun pangkas sisa rasa
ampun berpayah-payah,
Sebab perihal sembuh luka
hati seorang yang tahu cara.

***

Anak muda, putus cinta adalah hal biasa. Perpindahan dari fase berbunga-bunga ke gugur bunga secara tiba-tiba tentu mengagetkan, bukan?
Pernah kudengar, ada seorang wanita yang mencoba mengakhiri hidupnya karena sang kekasih pergi ketika ia sedang sayang-sayangnya. Ada juga, seorang remaja yang dengan cepat mendapatkan pengganti padahal baru kemarin hubungannya tandas. Satu lagi, si gadis yang urung makan karena tak bersemangat melakukan apa-apa pascaputus.
Setiap orang memiliki tingkat kepatah-hatian yang berbeda. Pun aku.
Banyak sekali cara agar luka cepat sembuh. Tapi, tahukah? Tak ada cara paling ampuh selain membiarkan apa-apa berjalan tanpa dipaksa. Tak perlu barpayah melupakan dia, karena justru membuatmu lebih mengingatnya. Cukup. Biarkan otakmu berjalan seperti biasa, lakukan hal lain. Dengan begitu, tanpa usaha keras, ingatanmu perlahan akan melupa tentangnya.

23/09/17
Share:

Friday, 22 September 2017

Karma—

Pada jenggala gala
yang kejam dan tumpat makna
Kutitipkan bening-benang luka
yang gemuruh guruh

Jika tiba petuah tuah
rasuk dari tepi-ke hati-ke diri
Lingkuplah jerit-sakit, rintih-tindih
Seluruh luruh
pergi jauh

***

"Dari sekian ratus janji yang kau percayai, tak satupun keluar dari hati," pengakuanmu mengandung racun yang membunuhku perlahan.

"Jangan berharap lebih," sinismu lagi.
"Aku tak pernah menyayangimu," lagi.

Sudah. Cukup.

"Meski kelihatannya demikian."

Cukup.

"Pergilah. Aku tak butuh kau, meski kau butuh aku sangat," ia berbalik membelakangiku, kakinya tampak selangkah menjauh dariku.

"Ah, satu lagi ...,"

Tolonglah.

"Jangan pernah mencari pengganti sepertiku. Itu terlampau sulit untukmu," senyum kecutmu yang tanpa dosa itu membuatku tampak bodoh. Punggungmu terlihat menjauh.

Aku yang mudah percaya, menjadi sanksi dengan apa yang baru saja terjadi.

Rasa menangmu yang angkuh kala lukaku tumbuh itu sungguh memuakkan. Berhari-hari aku merasa seperti pecundang, diam dalam kekalahan yang sebenarnya bisa kubalas kejam. Bisa saja kukempeskan ban mobilmu, kuteror kau melalui pesan berantai, atau kubakar rumahmu di dini hari. Tetapi, aku bukan pendendam.

Kelak, jika kau merasa dibalas —entah oleh siapa, itu bukan aku, melainkan sumpahmu.



22/9/17
Share:

Wednesday, 20 September 2017

203 #30

"Selamat, sudah setengah perjalanan menuju ke —yang lebih— nganu," lirihnya di riuh jalanan Sekaran. Tangannya mengelus tanganku perlahan. Sungguh, keromantisan di bawah komandoku ini tampak 'sedikit' menyiksanya.

Kuingin tertawa. Tapi, dia sudah setengah mati membangun keromantisan yang tak ada romantis-romantisnya sama sekali.

Hahahahahahaha. Ups, kelepasan.

"Semoga nggak jadi 'jagain jodoh orang', ya," timpalku mengundang gelak hahahahahahaha kami yang tak perlu lagi ditahan.

Setelah itu kami tenggelam. Saling mengucap amien diam-diam.

Untuk kali kesekian, tak ada perayaan besar-kecil-an. Hubungan yang tidak sebentar ini sudah bukan tentang memohon untuk tak saling meninggalkan, tetapi tentang berkomitmen agar tetap dalam dekapan. Kami saling teritorial tanpa melupakan akal.

Kalau kembali menengok ke belakang, rasa-rasanya mustahil jika tidak senyum-senyum sendiri. Entah karena gemas atau sinis. Dulu, banyak orang menyumpahi agar kami tak sama-sama lagi. Meski belum bisa sepenuhnya membunuh doa mereka, setidaknya masing-masing dari kami telah berada pada pencapaian yang tak terduga.

Tiga puluh —dua-setengah tahun— sudah.

Tentang segala serapah yang malah membikin kami lebih betah. Yang abunya menambah corak warna-warni kami sepanjang sejarah. Kami terus rekah.





September 2017
Mengintip tiga yang semakin mengajak dewasa.
Share:

Sunday, 17 September 2017

203 #29

Si flamboyan itu memang bajingan. Sebab di tangannya, gandrung ini purnazaman. 

***
Ada jarak setinggi 26cm yang rasa-rasanya membikin kami tampak aneh ketika bersebelahan. Tetapi, tak tahukah kalian? Ketika kami berpeluk, detak jantungnya tepat di telingaku.

Aku adem dalam peluk gratis tanpa tanda bintang, tanpa syarat dan ketentuan, tanpa harus beli ini-itu duluan.

"Kau bukan penyair culas, kekasih
Cuma penyihir yang melintas ketika aku ringkih"
—Sitok Srengenge

***
Sesekali ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, "Hah, sudah mulai ganggu ini rambut," kesal ia mengumpat tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

Aku gemas tiap kali mendengar ia mengeluh begitu.

Aku suka rambutnya yang bergelombang mulai memanjang. Panjangnya sudah melebihi bahu. Tiap kali diboncengnya, aku selalu bisa mengendus aroma rambut wanginya yang tak cukup ditampung helm.

Sambil gelendotan dan berpengangan erat, aku nyaman di punggungnya sambil senyum-senyum kasmaran. "Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" tebakannya yang presisi itu kuanggap sebagai suatu kebetulan.

Aku hanya tertawa kecil dan membenarkan posisi boncengku.
Tangannya menarik tanganku agar memeluknya lebih erat. Aroma rambut berpadu dengan jaket semakin membikin aku kasmaran.

"Sungguh, jika ini benar cinta, aku tak takut jatuh lagi."
—Moammar Emka

***
[Bilur]
Sebab ruammu lebamku
Aku kantuk dalam elegi sendu
Kuingin serupa jenggala yang merdu
Membusung dalam sesat yang biru




Agustus 2017
Aku senang tersesat dalam kamu.


Share:

Thursday, 20 July 2017

203 #28

Serupa gincu. Denganmu aku warna-warni. Tanpamu aku pucat pasi.

Melamun di tengah hari tatkala awan sedang asyik bergumul dengan matahari. Sesekali mendung datang melerai. Membikin adem penonton yang dipermainkan cuaca. Aku berdeham, sepertinya ada yang lancang masuk ke tenggorokan. Lamunanku tamat sudah.

Kucari-cari air putih yang serupa denganmu; menyehatkan dan bikin segar. Kutenggak habis agar aku dapat melanjutkan lamunan tengah hari di dalam kamar yang terkunci. Kau tahu? Melamunkanmu seperti berenang di lautan biru yang luas dan bebas. Aku tak bisa berenang, tetapi aku bisa menyelam dan menyeberang. Sebab, begitu melamunkanmu, keajaiban datang sejalan keinginan.

Kuambil selimut yang serupa denganmu; lembut dan menghangatkan. Dililit selimut layaknya dipeluk kau; nyaman dan bikin ketiduran. Aktifitas melamunkan kau yang se-asyik ini membikin si Rindu bangun, "aku rindu," sambil mengerjap-ngerjapkan mata, suaranya yang berat karena baru bangun tidur itu memecah ruangan. Ia mengucek-ngucek matanya, "dan ingin balik dirindui," ia menyempurnakan.

Kudengar ada yang mengetuk pintu depan. "Rindunya ada?" Ah, rupanya yang dirindui Rindu datang untuk membayar rindu. Ialah Kangen.

Aku hambur ke pelukmu.



Semarang, 20 Juli 2017
Akulah Rindu yang merindui Kangen; kau.

Share:

Thursday, 13 July 2017

Pada Dadamu


Pada dadamu, kau simpan aku dalam wujud rindu. Menyala-nyala dalam binar mata dan rentetan kerut di sekitarnya. Menguap di sela-sela barisan rapi gigimu yang kukira pasukan pengibar bendera.

Pada dadamu, kau letakkan aku di sebuah tempat teraman dalam tubuhmu. Aku ikut bergetar sebab jantung yang debar. Debam menggema berulang, seirama degupmu. Milikku ikut menari, hingga menarikmu turun ke lantai dansa.

Mari bercinta dalam nada yang malas.
Alunan ini membawa mataku mabuk dalam tatapmu.


Semarang, 13 Juli 2017
00:00
Share: